Koran Jakarta | May 28 2018
No Comments

Kompetensi yang Dimiliki Pemimpin Sukses

Kompetensi yang Dimiliki Pemimpin Sukses
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Sukses Jadi Pemimpin

Penulis : Eileen Rachman

Penerbit : Gramedia

Cetakan : 2017

Tebal : 270 halaman

ISBN : 978–602-03-3337-3

Buku ini menegaskan, pemimpin tidak harus ahli dalam segala hal. Tugas pokoknya menggerakkan bawahan untuk bersatu mewujudkan visi demi mewujudkan legacy bila tidak menjabat lagi. “Pemikiran ini juga bisa membuat orang tidak aji mumpung ketika menjabat karena perlu berpikir panjang yang akan terjadi bila ‘saya tidak di sini lagi’,” tulis Eileen Rachman (hlm 11).

Pemimpin harus memiliki sense of making. Alangkah sulit pemimpin yang hanya menerima laporan, mengamini setiap proposal, dan menyetujui bapa saja. Tidak heran sebagian orang berkata bahwa kepemimpinan bukan keahlian, tapi bakat. Jika dikaitkan dengan sense of making, anggapan demikian ada benarnya.

Buku ini mencontohkan seorang pemimpin perusahaan yang di mata karyawannya disebut penganut clean desk policy. Dia dianggap hanya mengurusi yang sepele seperti kebersihan toilet, kerapian pakaian, dan lain sebagainya. Label ini jelas peyoratif. Maklum karena para karyawan hanya melihat dari pemahaman dangkal. Padahal, pemimpin tersebut selama 30 tahun tidak tergantikan karena setiap idenya telah membuat perusahaan maju pesat.

Pemimpin itu ibarat tombol yang sekali tekan komponen terkait seketika akan bergerak padu. Pemimpin harus menjadi jembatan penghubung koneksi setiap unit. Tidak bisa dipungkiri persaingan antarkaryawan atau antardepartemen kadang menggelinding tidak sehat, sehingga perusahaan tidak bisa berjalan efektif.

Lee lacocca pernah memimpin perusahaan Chrysler dalam kondisi demikian. “Perusahaan itu bagai sekumpulan kerajaan kecil yang tidak berhubungan satu sama lain,” kata Lee lacocca (hlm 19). Prioritas utamanya mempersatukan tim. Ia berani pasang badan untuk menjadi konektor antarkoleganya. Ini tidak hanya urusan rasional, melainkan juga emosional.

Hindari hanya memberi instruksi, tidak pernah menyimak masukan bawahan. Ini tidak hanya menjadikan setiap keputusan gagal, juga menyebabkan karyawan tak respek karena upayanya tidak dihargai. Karyawan bukan sekrup pelengkap perusahaan. Posisikan mereka sebagai owner pula agar merasa memiliki dan bertanggung jawab atas masa depan perusahaan (hlm 78).

Pemimpin juga tidak takut risiko, termasuk dicibir karena kebijakannya tidak populis. Biarkan setiap orang menilai sesuai dengan kadar pemahaman mereka. Penting memberikan informasi dan klarifikasi. Namun tidak perlu menghentikan kebijakan selama penting dilakukan demi masa depan. Buku ini mengisahkan beragam kesuksesan pemimpin nyeleneh, “perusak” sistem yang sudah mapan, dan mengambil terobosan.

Buku ini merupakan kumpulan esai-esai pendek merespons persoalan kepemimpinan dari beragam segmen. Sisi baik dari tulisan esai dengan tema random adalah kentalnya konektivitas ide dan fakta. Ia juga bisa dibaca dari judul mana saja sesuai dengan selera pembaca. Sisi negatifnya, tiada uraian sistematis sehingga cukup sulit pembaca menyimpulkan utuh tentang pemimpin ideal.

 

Diresensi Habibullah, Alumnus Pascasarjana UIN Malang

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment