Koran Jakarta | August 18 2018
No Comments
Pelestarian Lingkungan

Klungkung Ubah Sampah Jadi Energi Alternatif

Klungkung Ubah Sampah Jadi Energi Alternatif

Foto : ISTIMEWA
ENERGI ALTERNATIF | Bupati Klungkung Bali, I Nyoman Suwirta saat melakukan proses pengelolaan sampah menjadi briket di Desa Pikat, Kabupaten Klungkung, Bali, akhir pekan lalu. Pemkab Klungkung, Bali, bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teknik PLN Jakarta mengubah sampah menjadi energi alternatif. Program ini diberi nama Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) dan merupakan yang pertama di Bali.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Untuk mempercepat pengembangan sampah menjadi energi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung, Bali, bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Teknik (STT) PLN Jakarta berhasil mengubah sampah menjadi energi alternatif. Program ini diberi nama Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) dan merupakan yang pertama di Bali.

“Program TOSS tersebut merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah Menggunakan Teknologi Proses Thermal Incinerator atau Pembakaran,” kata Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, didampingi General Manager (GM) Indonesia Power, Igan Subawa Putra, saat peresmian program TOSS di Desa Pikat, Klungkung, Bali, akhir pekan lalu.

Suwirta optimistis bahwa program TOSS akan mengurangi pencemaran lingkungan dan bermanfaat karena menjadi bahan baku untuk energi alternatif. “Program ini penting untuk dikembangkan karena dapat menyelesaikan masalah sampah di Klungkung. Polusi, bau, pemandangan tak sedap yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah bisa dihilangkan, bahkan diolah menjadi listrik,” ungkapnya.

Selain itu, Suwirta pun yakin bahwa program tersebut dapat menjadi sumber ekonomi kreatif yang baru. “Program ini memiliki dua metode, yaitu peuyeumisasi dan briketisasi. Peuyeumisasi adalah teknik mengubah sampah menjadi gas menggunakan alat bio activator, kemudian gas tersebut digunakan sebagai bahan bakar menggerakkan generator untuk memproduksi listrik. Sementara briketiasi adalah teknik mengubah sampah menjadi bahan bakar briket, kemudian briket tersebut dapat dijual kepada pihak Indonesia Power,” papar dia.

Suwirta menjamin produk briket yang dihasilkan tidak akan menimbulkan aroma tidak sedap pada makanan yang dimasak. “Jika SOP-nya benar maka saya berani jamin dalam waktu tiga hari bau sampah akan hilang, dan briket tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk proses memasak. Dengan demikian, program TOSS ini bernilai ekonomis dan juga ramah lingkungan,” jelasnya.

Dia berharap setiap desa dapat mengolah sampahnya menjadi briket dan listrik. “Klungkung adalah Kabupaten pertama di Bali yang menggunakan metode ini, ke depannya saya harap seluruh desa akan mengolah sampahnya menjadi listrik dan briket yang bernilai ekonomis.

“Saya akan menghadirkan mesin dengan kapasitas lebih besar dan area yang diperluas. Dengan demikian, program TOSS ini merupakan solusi terbaik untuk penanganan masalah sampah dan mencegah pencemaran lingkungan di Kabupaten Klungkung,” tandasnya.

Listrik Kerakyatan

Sementara itu, GM Indonesia Power, Igan Subawa Putra, menyambut positif program ini. Melalui program ini, Klungkung akan mampu menghasilkan listrik kerakyatan.

“Untuk mendukung rencana pemerintah meratakan kelistrikan dengan program 35 ribu megawatt (MW), kami optimis program ini dapat mereduksi hingga 32 ton sampah dan merubahnya menjadi listrik hingga 5 megawatt. Jika konsisten, saya yakin bahwa permasalahan sampah di Klungkung akan bisa teratasi melalui program TOSS Gema Santi ini. mza/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment