Koran Jakarta | May 25 2019
No Comments
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, Terkait Rumor Impor Guru

Kita Tidak Impor Guru, tapi Mengundang Instruktur dari Luar Negeri

Kita Tidak Impor Guru, tapi Mengundang Instruktur dari Luar Negeri

Foto : ISTIMEWA
Muhadjir Effendy
A   A   A   Pengaturan Font
Dunia pendidikan kembali jadi sorotan. Beberapa waktu lalu, ramai pemberitaan terkait rencana pemerintah melalui Kementerian Koordinasi Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) yang akan mendatangkan guru asing ke Indonesia atau mengimpor guru.

Kebijakan tersebut menuai keresahan beberapa pihak seperti Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Dalam keterangan resminya, salah satu poin yang dikhawatirkan FSGI adalah pemerintah tidak percaya terhadap guru di Tanah Air, padahal banyak juga guru yang profesional dan berkualitas.

Untuk mengupas permasalahan tersebut, Koran Jakarta mewawancarai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. Berikut petikan wawancaranya.

Benarkah ada rencana untuk mengimpor guru dari luar negeri?

Waktu itu, Bu Menteri Koordinasi Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan memaparkan rancangan kerja yaitu mengundang para expert dari luar negeri, bisa seorang guru, instruktur, pakar, menjadi semacam instruktur atau trainer untuk Training of Trainer atau ToT. Bukan impor, diangkat PNS, dikontrak dalam jangka panjang atau menggantikan guru. Saya jamin itu tidak akan terjadi.

Bisa dijelaskan tujuannya mendatangkan instruktur dari luar negeri ini?

Ini untuk mempercepat proses peningkatan kapasitas guru. Ini juga bagian dari keinginan Presiden yang sedang fokus ke pengembangan SDM. Jadi, program-program yang kecil-kecil dirancang ulang sehingga dampaknya masif dan betul-betul signifikan dalam rangka untuk mempercepat pengembangan sumber daya manusia.

Dirancang ulang? Berarti ini bukan program baru?

Ya, ini bukan program baru, kita sudah melakukan. Cakupannya sangat kecil dan hanya mendatangkan dari beberapa negara, seperti Prancis, Jerman, Korea, tapi jumlahnya minim. Dulu, kita tidak bisa milih karena itu sesuai perusahaan partner kita. Tapi dengan adanya arahan dari Kemenko PMK, akan lebih terbuka. Jadi mohon dipahami, ini bukan program baru, tapi mau dimasifkan.

Kemendikbud telah mengirim guru untuk berlatih ke luar negeri. Kenapa sekarang mendatangkan instruktur dari luar?

Keuntungannya kalau kita mengundang langsung itu, pertama, efisien daripada mengirim guru dan instruktur ke luar negeri yang memakan biaya banyak. Selain itu agar dalam memberikan materi para instruktur tidak berdasar persepsi. Kalau dia datang ke sini bisa lihat sekolah kondisinya seperti apa, rumah belajarnya seperti apa. Sehingga dia bisa memodifikasi dan berimprovisasi terhadap pelatihanpelatihan yang akan dia berikan.

Apakah ada bidang-bidang yang jadi fokus dalam program ini?

Ruang lingkupnya sangat terbatas, tidak untuk semua guru. Pertama untuk SMK. Untuk bidangnya sendiri hampir semua. Tapi terutama berkaitan tentang teknologi digital. Selain itu juga ada instruktur yang fokus melatih sains, teknologi, engineering, dan matematik.

Terkait instrukturnya bisa dijelaskan lebih detail?

Beberapa hal masih harus dikoordinasikan seperti bayaran yang akan berpengaruh pasa anggaran program. Tapi yang kita ajak ke sini instrukturnya berstandar, bukan instruktur-instrukturan. Selama ini berasal dari lembaga pelatihan luar negeri yang biasanya mereka itu senior expert, mantanmantan guru yang sudah pensiun dan punya pengalaman. Ada yang muda-muda, terutama berkaitan teknologi terbaru. Kalau berapa lama mereka di sini, tergantung kontrak.

Ada kekhawatiran program ini bentuk ketidakpercayaan terhadap guru Tanah Air. Tanggapan Anda?

Ini bukan hal yang aneh dan bukan bermaksud mengatakan guru-guru kita kapasitasnya tidak mempuni, tapi ini dalam rangka membandingkan. Jadi capaian negara-negara yang ada di atas Indonesia, kita ingin berbagi pengalaman melalui instrukturinstruktur ini. 

 

aden ma’ruf/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment