Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments

Kisah Hidup Menawan 13 Perempuan Penyintas Kanker

Kisah Hidup Menawan 13 Perempuan Penyintas Kanker

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Berdamai dengan Kanker

Penulis : Rahmi Fitria

Penerbit : Elex Media Komputindo

Cetakan : 2017

Tebal : xxii + 206 halaman

ISBN : 978-602-04-5330-9

 

Shakira Aurum (5), putri penyanyi Denada Tambunan, terkena kanker darah (leukemia) dan berobat ke Singapura. Lee Chong Wei (35), pebulu tangkis Malaysia, terkena kanker hidung dan berobat ke Taiwan. Buku ini meracik hasil riset, data penyakit kanker, dan pola hidup sehat. Ada mewawancarai 13 perempuan penyintas kanker, termasuk penulis.

Beruntunglah Shakira dan Chong Wei segera terdeteksi. Rahmi Fitria dan 12 perempuan penyintas kanker sudah stadium ganas. Mereka wajib terapi konvensional (operasi, kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi) yang intensif untuk mengendalikan kanker. Mereka wajib menerapkan tata hidup sehat yang seimbang secara fisik, emosional, maupun spiritual supaya tercipta sistem tubuh antikanker.

Ibu Rahmi meninggal karena kanker ovarium stadium 4. Tahun 2013, kanker payudara Rahmi stadium 3. Tahun 2017, kakaknya menderita kanker ovarium stadium 4. Tahun 2009, Titiek Puspa (72) didiagnosis menderita kanker serviks stadium 3 dan berobat ke Singapura. Mukjizat, Titiek Puspa mampu mengatasi kanker dalam 13 hari.

Titiek menjalani tes kinesiologi, teknik bertanya pada tubuh sendiri yang dicetuskan George Goodheart (dokter dan ahli chiropractic Amerika Serikat). Kongres kedokteran ICMART XVII (2015) menandaskan, kinesiologi dipakai sebagai metode untuk mengenali dan mengukur secara objektif kondisi meridien tubuh dengan memeriksa respons kekuatan otot lengan menggunakan teknik arm-pull-down test (hal 52). Hasilnya, Titiek sukses menjinakkan kanker.

Shahnaz Haque (26) terkena kanker ovarium seperti ibunya (stadium 4). Operasi kanker ovarium kanannya sukses. Mukjizatnya, Gilang Ramadhan akhir tahun 2000 mencintai Shahnaz. Gilang pun selama 23 tahun mendampingi mamanya yang terserang kanker. Ajaib, pernikahan Shahnaz (hanya satu ovarium) dengan Gilang membuahkan tiga anak.

Rahmi Fitria mengisahkan sesama penyintas kanker seperti Indira Abidin, Tri Handayani, Dina, Adi Tri, Tania, Tria Lestari, Mayang, Shanti Persada, Binar, dan Ratih Citra Sari. World Cancer Report mendata penderita kanker Eropa tujuh sampai 60 kali lebih banyak dibanding Asia. Laju serangan kanker warga Jepang yang mukim di Eropa, selama satu atau dua generasi, tidak jauh berbeda dengan orang Eropa. Journal of The National Cancer Institute mengungkap jumlah pria Asia sama banyak dengan kasus kanker prostat pada pria Eropa (hal xx).

Kanker pembunuh yang tidak pandang usia, jenis kelamin, ras, dan status sosial. Sel kanker sesungguhnya hidup dorman, berupa sel mikrotumor tak berbahaya, yang terdapat dalam tubuh setiap orang. Sejatinya kanker adalah bagian dari tubuh. Barbara O’Neill (ahli naturopati dan nutrisi Australia) mengatakan, kanker adalah bawaan genetik. Ibaratnya, gen itu senjata. Gaya hidup pelatuknya (hal 21). Sel kanker tidak akan muncul jika seseorang menerapkan pola hidup sehat, sehingga pertahanan alami tubuh bisa menangkal serangan sel-sel liar. Dia mengingatkan pentingnya menghindari makanan yang berpengaruh buruk terhadap otak (pusat kendali tubuh) yang memicu agresi kanker, yakni gula, kopi, alkohol, tembakau, obat-obatan, dan penyedap rasa.

Ketika sel kanker meradang menjadi penyakit agresif, langkah primer adalah menerima kehadirannya, sembari berupaya menenangkan sel kanker agar kembali ke sifat asal yang tak berbahaya. Pikiran tenang dan hati damai menjadi kunci hidup menjinakkan sel-sel kanker. Sebab kanker sebagai penyakit agresif tidak bisa disembuhkan total, tetapi hanya bisa dikontrol dan ditenangkan. Suatu saat kanker pasti kambuh.


Diresensi Yustina Windarni, alumna Politeknik API Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment