Koran Jakarta | September 20 2018
No Comments

Kiat Menjadi Guru Humoris dan Menyenangkan

Kiat Menjadi Guru Humoris dan Menyenangkan
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Humor Guru Sufi

Penulis : A Kang Mastur

Penerbit : Diva Press

Cetakan : I, September 2017

Tebal : 216 halaman

ISBN : 978-602-391-433-3

 

Buku ini menguraikan panjang lebar tentang kiat menjadi guru menyenangkan sehingga dapat mengantarkan murid menjadi lebih bergairah dan bersemangat belajar. Konsep pembelajaran menyenangkan berpengaruh positif terhadap meningkatnya aspek afeksi, kognisi, dan psikomotorik murid.

Pendidikan merupakan materi (bahan ajar) yang ditransformasikan ke otak murid yang berorientasi pada perkembangan aspek kognitif (pola pikir), afektif (emosi atau sikap), dan psikomotorik (keterampilan atau kemampuan bertindak). Selain itu, pendidikan juga bertujuan menggali dan mengarahkan minat serta bakat murid (hal 16).

Menurut penulis, tugas seorang guru tak sekadar menguasai materi ajar, tetapi juga harus memahami metode pembelajaran efektif dan menyenangkan. Misalnya, menyisipkan humor-humor segar yang mendidik dalam setiap proses pembelajaran.

Humor dalam pendidikan tentu berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Humor dalam pendidikan merupakan kejenakaan yang menyenangkan sekaligus mendidik, sehingga murid betah dan senang belajar. Maka, penting bagi seorang guru berusaha menjadi pribadi humoris (hal 55).

Guru humoris dapat menjadi perantara memaksimalkan pola pikir peserta didik menjadi lebih cerdas dan pintar. Guru humoris mampu memancing daya tangkap peserta didik dengan sisipan humor di tengah proses belajar mengajar. Sisipan lawakan bisa diberikan pada saat murid terlihat jenuh dan lelah. Lawak juga bisa disampaikan pada awal, pertengahan, atau akhir pelajaran (hal 21).

Guru humoris biasanya lebih disukai murid dan akan selalu dinantikan kehadirannya. Sebaliknya, guru yang tak memiliki sifat humoris, cenderung kaku, monoton, dan hanya berpangku tangan bersandar pada teks atau buku pelajaran. Dia biasanya tak disukai murid. Sebab pengajarannya tak menarik dan membosankan. Pelajaran sulit masuk.

Perlu memberi ruang perkembangan emosional murid. Materi humor yang diselipkan membuat murid dapat berpikir out of box. Mereka bisa lebih jelas mencerna pelajaran dan menanamkan ke dalam dirinya. Sebab, diakui atau tidak, humor tak hanya menyertakan kata-kata energik dan kocak, tapi juga mimik. Inilah salah satu contoh visual sehingga murid berperilaku sesuai petunjuk dan pengajaran guru (hal 60-61).

Manfaat humor lainnya, menciptakan suasana belajar yang asyik dan terbangunnya komunikasi sinergis antara guru dan murid. Ini menjadikan otak lebih fresh dan sehat. Dia membantu meningkatkan prestasi murid. Guru bisa mengasahnya di rumah melalui buku-buku humor atau belajar melalui beragam pengalaman. Guru tidak akan bisa menjadi humoris bila tidak memiliki selera lawak. Namun selera dapat dipelajari dan diasah secara terus menerus, salah satunya, lewat buku-buku humor yang mendidik. Akhirnya, untuk menjadi guru humoris diperlukan kesiapan penampilan, keilmuan dan kemampuan mengelola kelas (hal 171).

Sayangnya, di Indonesia, humor belum menjadi kebiasaan pada proses belajar mengajar. Bahkan bagi sebagian orang, menyisipkan humor saat belajar mengajar berlangsung kurang bermanfaat. Dia bisa mengganggu keseriusan belajar dan dianggap menurunkan wibawa guru.

Anggapan semacam ini disebabkan belum kuatnya cara pandang mengenai humor sebagai bagian dari proses pembelajaran. Banyak orang yang belum mengetahui, secara teoritis dan praktik, humor berdampak luar biasa untuk meningkatkan kualitas interaksi dan komunikasi guru murid. 

 

Diresensi Sam Edy Yuswanto, alumnus STAINU Kebumen

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment