Koran Jakarta | June 18 2019
No Comments

Ketika Ikan-ikan Kembali ke Sungai

Ketika Ikan-ikan Kembali ke Sungai

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Ada pemandangan yang tidak biasa di Kali Malang, Jakarta. Sungai yang men­galir ke arah Bekasi ini biasanya lancar. Bahkan, di musim kemarau pun air warna cokelat tetap menderas. Pemandangan yang tak biasa itu adalah beberapa anak muda, mengeluarkan plastik-plastik besar—yang kemudian kita tahu berisi ikan-ikan hidup.

Ada ikan emas, ada ikan lele, mungkin juga bawal. Masing-masing seberat 10 kilo, dan jumlahnya 30 buah. Dalam pembicaraan yang pertan­yaannya diwakili pembuat video, terkuak bahwa ini merupakan kegiatan perorangan, bukan dari komunitas atau yayasan.

Anak-anak muda ini men­emani mama atau tante, yang membagikan bungkus plastik berisi ikan. Kegiatan terjadi sebulan sekali. Tujuannya agar ling­kungan tetap harmonis. Sungai relatif bersih, ikan-ikan yang diterjunkan ke sungai diharap­kan berkembang biak. Mungkin sebagian akan berakhir di ujung mata pancing.

Yang menakjubkan adalah kegiatan mulia ini dilakukan su­dah lumayan lama. Tidak untuk mencari nama—meskipun akan bagus kalau nama mereka diung­kapkan dan motivasinya, sehingga bisa memberi inspirasi “keluarga” atau kelompok lain.

Video ini seketika menjadi viral. Umumnya netizen berkomentar positif, sangat positif. Di saat berita perusakan lingkungan seakan tak terbendung, ini adalah perorangan yang memperhatikan.

Bahkan mengembalikan ikan-ikan seberat 300 kilo setiap bulannnya— kira-kira. Video ini menawarkan sesuatu yang baik bagi orang lain, bagi keperdulian kepada sesama. Dan itu terjadi di Jakarta yang sejak awal dikenal sebagai kota “lu-gue”: urusan kamu bukan urusan saya. Juga sebaliknya.

Remaja-remaja yang melakukan pengembalian ikan-ikan kem­bali ke sungai, juga nampak biasa. Kalem, sederhana. Melakukan yang harus dilakukan. Tanpa atribut par­tai atau atribut nama perusahaan yang lain.

Saya merasa optismistis, merasa makin semangat bahwa secara keseluruhan masyara­kar kita sebagian terbesarnya masih baik-baik saja. Masih bisa berbuat baik, membawa ikan-ikan kembali ke sungai.

Dan ini bukan perlakuan langka atau satu-satunya. Saya diajak seseorang menemui seorang pria tua. Hobi atau kegemarannya sama. Kali ini yang dilepas-bebaskan adalah burung. Lelaki ini belanja burung untuk kemudian dilepaskan. Di Monas.

“Kalau dilepas di tempat lain kurang aman,” begitu penjela­san. Lelaki itu, mungkin usianya mendekati 70 tahun, tapi tak suka diajak bicara, melakukan ini sudah sejak remaja. Ayahnya yang melakukan ini: berburu berbagai jenis burung untuk dibebaskan. Apakah hobi ini diteruskan ke anaknya? Tak ada jawaban. Saya juga mencari kalau-kalau ada beritanya di medsos.

Saya tuliskan ini dengan kekaguman, dengan apresiasi tinggi atas apa yang dikerjakan untuk lingkungan, untuk orang. Mudah-mudah perbuatan baik ini menjadi virus yang membngkitkan lebih banyak lagi, atau bahkan ada keserentakan.

Seperti ketika ditanya tentang momentum sepak bola yang saya jawab: sekarang saatnya. Kalau mau berbuat baik, kalau berguna juga untuk orang lain, sekarang saatnya. Semesta mendukung.

Tak ada alasan untuk cemas atau takut, yang ada justru semangat bahwa masih banyak saudara kita yang terus berbuat baik.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment