Koran Jakarta | January 18 2018
No Comments

Keteguhan Assange Selama 7 Tahun Demi Mendapatkan Kewarganegaraan

Keteguhan Assange Selama 7 Tahun Demi Mendapatkan Kewarganegaraan

Foto : AFP/BEN STANSALL
Perjuangan Assange l Foto dokumentasi pada 2016 saat pendiri WikiLeaks, Julian Assange, muncul di balkon Kedutaan Besar Ekuador di London Inggris. Pada Kamis (11/1) lalu, Kementerian Luar Negeri Ekuador menyatakan Assange telah mendapatkan kewarganegaraan Ekuador.
A   A   A   Pengaturan Font

Rambut Julian Assange, 46 tahun, terlihat sudah memutih semua. Tubuhnya pun lebih kurus dibanding lima tahun sebelum memutuskan bertahan di kantor Kedutaan Ekuador di Ibu Kota London, Inggris. Pada Jumat (11/1), kamera seorang jurnalis foto berhasil membidik gambarnya tengah tersenyum simpul.

Senyum Assange bisa jadi senyum kegembiraan. Pasalnya, sehari sebelumnya atau pada Kamis (10/1) waktu setempat, pemerintah Ekuador mengumumkan pemberian kewarganegaraan kepada laki-laki asal Australia itu.

Menurut Menteri Luar Negeri Ekuador, Maria Fernanda Espinosa, Assange resmi menjadi warga negara Ekuador terhitung mulai 12 Desember 2017. Pemerintah Ekuador pun telah meminta pemerintah Inggris agar mau mengakui Assange sebagai seorang diplomat sehingga Assange bisa keluar dari kantor Kedutaan Ekuador di London tanpa rasa was-was akan ditangkap sewaktu-waktu. Namun permintaan ini segera ditolak pemerintah Inggris.

“Pemerintah Ekuador memberikan kewarganegaraan untuk melindungi seseorang sehingga memfasilitasi pencantuman dirinya di negara asing yang menjadi tempat tinggalnya,” kata Espinosa.

Usut punya usut, pemerintah Inggris memiliki alasan tak ingin memberikan kelonggaran pada Assange. Melalui Kementerian Luar Negeri Inggris, London mengatakan cara pemerintah Ekuador menyelesaikan masalah ini adalah membiarkan Assange meninggalkan kantor kedutaan Ekuador untuk menghadapi keadilan.

Skandal WikiLeaks

Sosok Assange menjadi perhatian dunia karena dia adalah pendiri situs WikiLeaks. Situs ini membuat geger masyarakat dunia karena sejak berdiri telah mempublikasi lebih dari 250.000 kabel diplomatik, mengungkap penilaian jujur para pejabat tinggi AS serta pandangan mereka atas pemerintahan negara lain.

Pada awal 2010, WikiLeaks telah membocorkan sekitar 500.000 dokumen rahasia militer terkait diplomasi AS dan peperangan di Afghanistan serta Irak. Namun pada November tahun yang sama, seorang jaksa penuntut dari Swedia menerbitkan surat penahanan terhadap Assange atas tuduhan telah melakukan penyerangan seksual yang melibatkan dua perempuan Swedia.

Assange menolak tuduhan itu dan menyebut kedua perempuan itu setuju untuk melakukan hubungan badan dengannya.

Satu bulan kemudian, Assange menyerahkan diri ke kepolisian London. Namun dia kemudian dibebaskan dengan uang tebusan dan menyebut tuduhan pemerkosaan oleh pemerintah Swedia sebagai sebuah kampanye hitam.

Proses hukum terhadap Assange terus berjalan hingga pada Februari 2011, hakim di Inggris memutuskan agar dia diekstradisi ke Swedia. Keputusan hakim ini dilawan oleh Assange dengan mengajukan banding, tetapi putusan pengadilan banding tidak mengabulkan tuntutannya.

Situasi ini, membuat Assange ketar-ketir. Dia sangat takut pemerintah Swedia akan menyerahkannya ke otoritas berwenang Amerika Serikat (AS), yang sangat ingin mengeksekusi hukuman untuknya karena telah mempublikasi dokumen-dokumen rahasia mereka. Jika ketakutannya ini terjadi, maka Assange berpotensi dijatuhi hukuman mati.

Ketakutannya telah membuat Assange seperti belut yang licin. Pada 2012 dia mengajukan permintaan suaka politik kepada Kedutaan Besar Ekuador di London dan berlindung di sana selama lebih dari lima tahun. Hingga pada Desember 2017, pemerintah Equador memberikan kewarganegaraan Ekuador terhadapnya.

Meski terkurung di sangkar emas kantor Kedutaan Ekuador di London, tak ada yang bisa menghentikan keganasan Assange mengungkap dokumen-dokumen yang membuat publik dunia melongo.

Pada 2016, dia ditegus karena dinilai telah melakukan intervensi pemilu Presiden AS setelah membocorkan dan mempublikasikan surat-surat elektronik tim kampanye Partai Demokrat yang mengusung Hillary Clinton.

Yang paling anyar, dia membuat Presiden Ekuador Lenin Moreno marah ketika rahasianya menggunakan media sosial Twitter untuk mengirimkan pesan-pesan dukungan, yang mendorong kemerdekaan Katalonia dari Spanyol, terbongkar. Walhasil, Moreno dipaksa merespons hujan komplain dari pemerintah Spanyol. uci/AFP/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment