Koran Jakarta | August 22 2018
No Comments
Kasus Blok Australia

Kejagung Tahan Tersangka Korupsi Pertamina

Kejagung Tahan Tersangka Korupsi Pertamina

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) menahan Bayu Kristanto, ter­sangka korupsi penyalah­gunaan investasi pada PT Pertamina (Persero) di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2012. Bayu adalah mantan Manager Mer­ger dan Investasi (M&A) pada Direktorat Hulu PT Pertamina.

“Kami berkomitmen men­gusut tuntas perkara ini. Semua proses penyidikan terus ber­jalan,” kata Jampidsus Adi Toe­garisman dalam pernyataannya, di Jakarta, Kamis (9/8). Bayu bersama tiga tersangka lain yakni Karen Agustiawan, Fered­erik ST Siahaan, dan Genades Panjaitan diduga merugikan ke­uangan negara hingga menca­pai 568,07 miliar rupiah.

Menurut Adi, Bayu dijerat Pasal 2 ayat 1 Undang-undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001. Dia juga dikenakan Pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 tentang Tipikor sebagaimana telah di­ubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001.

Atas perbuatannya, Bayu terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda maksimal 1 miliar rupiah. Adi mengatakan untuk memudah­kan proses penyidikan, Bayu ditahan di Rutan Salemba Ca­bang Kejaksaan Agung hingga 20 hari ke depan. Penahanan dilakukan agar ia tidak melari­kan diri, menghilangkan ba­rang bukti serta mempengar­uhi orang lain atau saksi.

Usul Akuisisi

Dari penyidikan, diketahui Bayu mengajukan usulan akui­sisi Blok BMG Australia tidak berdasarkan hasil due diligence. Dia juga mengabaikan hasil keputusan Tim Pengembangan dan Pengelolaan Portofolio Usaha Hulu (TP3UH) yakni ha­sil keputusan akhir menunda hasil due diligence dan upside potential tidak dimasukkan da­lam evaluasi.

Pada 2009 Pertamina me­lalui anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengakuisisi sepuluh per­sen saham ROC Oil Ltd, untuk menggarap Blok BMG. Per­janjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Pur­chase -BMG Project ditandata­ngani 27 Mei 2009 dengan nilai transaksi mencapai 31 juta dol­lar Amerika Serikat (AS).

Akibat akuisisi itu, Pertam­ina harus menanggung biaya yang timbul (cash call) dari Blok BMG sebesar 26 juta dol­lar AS, dengan harapan dapat memproduksi minyak hingga 812 barrel per hari. Namun ke­nyataannya jauh panggang dari api, Blok BMG hanya bisa meng­hasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pte Ltd rata-rata sebesar 252 barel per hari.

Pada 5 November 2010, Blok BMG ditutup, setelah ROC Oil memutuskan penghentian produksi minyak mentah. Ala­sannya, blok ini tidak ekono­mis jika diteruskan produksi. Investasi yang sudah dilaku­kan Pertamina akhirnya tidak memberikan manfaat maupun keuntungan dalam menambah cadangan dan produksi minyak nasional.

eko/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment