Koran Jakarta | August 17 2018
No Comments

Keindahan Alam di Kaki Gunung Slamet

Keindahan Alam di Kaki Gunung Slamet

Foto : koran jakarta/selocahyo basuki
A   A   A   Pengaturan Font

 Sumber air panas adalah air tanah yang keluar dari kerak bumi dengan suhu tinggi akibat proses pemanasan geotermal. Karena memiliki suhu di atas rata-rata tubuh manusia, dan terkadang mencapai titik didih, air dari sumber tersebut dapat mengencerkan padatan mineral dalam bumi sehingga mata air panas mengandung kadar mineral yang tinggi.

Mandi berendam di dalam air panas bermineral dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit sehingga banyak orang gemar melakukan­nya, terutama di daerah-daerah wisata alam sekaligus untuk ke­perluan rekreasi guna melepas lelah tubuh dan pikiran. Di seluruh dunia terdapat mata air panas yang tidak terhitung jumlahnya, termasuk di dasar laut hingga yang banyak dijumpai di lereng-lereng pegunungan.

Salah satunya adalah di objek wisata pemandian air panas Guci Indah di Dukuh Pekandangan, Desa Guci, Kecamatan Bojong, Ka­bupaten Tegal, Jawa Tengah.

Kabupaten Tegal yang berada di bagian barat laut Jawa Tengah, letaknya cukup strategis karena berada di jalur antara Semarang dan Cirebon. Kondisi geografis Kabupaten yang berdiri sejak abad 16 terbagi dua, bagian utara berupa dataran rendah, dan pegunungan di bagian selatan dengan pun­caknya Gunung Slamet setinggi 3.428 meter.

Seperti layaknya di daerah lain, wilayah kaki gunung umumnya ke­rap menjadi jujugan wisata warga karena berhawa sejuk dan memiliki tempat-tempat yang indah. Begitu juga dengan Tegal yang memiliki Guci Indah, objek andalan masya­rakat Tegal.

Dengan ketinggian kurang lebih 1.050 meter di kaki Gunung Slamet bagian utara, Guci Indah atau juga disebut Taman Wisata Air Panas Guci, dikenal dengan hawanya yang sejuk. Udara segar berembus di sela-sela pepohohan yang tum­buh di lereng kawasan seluas 210 hektare tersebut.

Tak hanya itu, destinasi ini terkenal dengan wisata pemandian air hangat. Pemandian air panas Guci cukup terkenal karena panorama alam yang menarik dengan hawa sejuk khas pegunungan. Air yang mengalir dari pancuran-pancuran di objek wisata ini dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti rematik, koreng, serta penyakit kulit lainnya, khususnya Pemandian Pancuran 13 yang memang memiliki pancuran berjumlah tiga belas buah.

Guci selalu ramai pada musim liburan oleh kunjungan wisatawan dari berbagai daerah. Pengunjung dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang tergolong cukup lengkap, pertokoan, penjual cendera mata, vila, losmen hingga hotel berbintang dengan berbagai fasilitas menarik seperti kolam renang anak-anak hingga dewasa. Bagi Anda yang gemar menyatu dengan alam, Guci juga menyediakan wisata hutan dengan area outbound, bumi perkemahan, rumah pohon, dan resto. Selain itu, tempat terdapat juga berbagai sarana olahraga, seperti lapangan tenis dan lapangan sepak bola.

Untuk menambah daya tarik dan memanjakan pengunjung, belum lama ini Taman Wisata Guci mem­buka wahana baru, yaitu Guciku Hot Waterboom. Pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas me­nyenangkan di wahana ini karena merupakan permainan air panas yang meliputi kolam renang, kolam badan Guci, kolam rendam, serta arus jeram.

Selain musim libur, objek pemandian air panas Guci juga ramai pada hari Kamis malam, terutama malam Jumat Kliwon. Hal ini disebabkan banyak pengunjung yang melakukan aktivitas mandi tengah malam terkait mitos-mitos tertentu.

Guci juga punya objek alam lain yang tak kalah seru yakni air terjun. Ada sekitar 10 air terjun yang ter­dapat di daerah Guci, seperti yang paling terkenal Air Terjun Jedor. Air terjun di bagian atas pemandian umum pancuran 13 itu memiliki ketinggian 15 meter dan awalnya menjadi milik seorang Lurah yang bernama Lurah Jedor. Wisatawan dapat mengelilingi objek wisata ini dengan berkuda, tarif sewanya pun cukup murah.

The Geong

Sementara itu, untuk pengun­jung yang ingin tampil berbeda di media sosial, dapat mencoba wa­hana The Geong. Objek ini berupa kegiatan mengayuh sepeda yang di­gantungkan di ketinggian 20 meter dari atas tanah.

Dengan latar belakang ham­paran pohon pinus dan alam pegunungan, pihak pengelola menyediakan juru potret untuk mengambil gambar saat wisatawan meluncur menggunakan sepeda gantung itu.

Tak perlu risau soal keselamatan karena faktor keamanan terjamin dengan peralatan dan prosedur yang memadai. Meluncur di awang-awang selama sepuluh me­nit, pengunjung bisa merasakan be­laian angin segar khas pegunungan dan melihat pemandangan dari atas serta hasil foto yang unik.

Kepala UPTD Objek Wisata GuciDinas Pariwisata Kabupa­ten Tegal, Abdul Haris, mengata­kan dengan adanya wahana The Geong, pengunjung semakin ramai karena memiliki beragam pilihan selain berendam di air panas. Dia mencontohkan, tingkat hunian hotel dan penginapan di Guci pada masa libur perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 lalu mencapai 100 persen.

“Guci sudah menjadi tujuan fa­vorit masyarakat sekitar Tegal, dan dari luar kota. Banyak wisatawan yang memesan kamar jauh-jauh hari,” ujarnya.

Untuk mencapai Guci yang ber­jarak 30 kilometer dari Kota Slawi dan 40 kilometer dari Kota Tegal dibutuhkan waktu berkendara kurang dari dua jam. Jika memilih menggunakan kendaraan umum, wisatawan bisa memulai perjalan­an dari terminal bus Kota Tegal, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi umum atau minibus ke Desa Tuwel.

Dari desa ini kita bisa melan­jutkan perjalanan dengan meng­gunakan kendaraan bak terbuka menuju ke Pemandian Air Panas Guci dengan jarak tempuh sekitar 30 menit.

Biaya masuk ke Pemandian Taman Wisata Air Panas Guci relatif murah. Pada hari biasa pengunjung akan dikenai tarif tiket sebesar lima ribu rupiah untuk dewasa dan untuk anak-anak sebesar 4.500 rupiah. SB/E-3

Menelisik Sejarah Guci

Bersumber dari kitab Babad Tanah Jawa dan penuturan leluhur dari keturunan Ra­den Patah, destinasi wisata Ka­bupaten Tegal ini berawal setelah ditemukannya sumber mata air di Desa Guci. Dikutip dari Wikipedia, setelah diteliti dan tidak mengan­dung racun, maka pada tahun 1974, pemandian air panas dibuka untuk umum dengan fasilitas yang masih alami. Kala itu, wisatawan masih mandi di bawah gua sumber mata air panas yang konon tempat itu merupakan daerah kekuasaan dayang Nyai Roro Kidul yang bertu­gas di wilayah sungai sebelah utara Gunung Slamet atau lebih dikenal Kali Gung. Dinamakan Kali Gung sebab bersinggungan dengan mata air yang agung, yakni aliran mata air panas yang melimpah sepan­jang tahun, dayang Nyai Roro Kidul bernama Nyai Rantensari yang berwujud naga, maka di Pancuran 13 tersebut dibuat Patung Naga un­tuk mengingatkan akan daya mistis yang ada di Objek Wisata Guci.

Desa Guci dahulunya adalah sebuah pedukuhan yang bernama Kaputihan, yang memiliki arti “be­lum tercemar”. Istilah Kaputihan pertama kali diperkenalkan oleh Kiai Ageng Klitik (Kiai Klitik) atau Raden Mas Arya Hadiningrat yang berasal dari Demak. Kiai tinggal cukup lama di kampung Kaputihan dan karenanya banyak warga yang berdatangan dari tempat lain se­hingga daerah itu ramai.

Suatu ketika, datanglah utusan Sunan Gunung Jati, Elang Sutajaya, dari Cirebon untuk syiar agama Is­lam. Saat itu, Kampung Kaputihan sedang dilanda sejumlah musibah, seperti bencana alam, penyakit merajalela, dan hama tanaman. Lalu, Elang Sutajaya berdoa dan memohon petunjuk. Setelahnya, masyarakat Kampung Kaputihan diminta untuk meningkatkan iman dan memperbanyak sedekah. Bagi penduduk yang terkena wabah penyakit gatal-gatal, Elang Suta­jaya menyuruh untuk meminum air dari kendi (Guci) yang sudah didoakan oleh Sunan Gunung Jati. Sumber air panas di Kampung Kaputihan juga didoakan agar bisa dipergunakan untuk menyembuh­kan segala penyakit.

Semenjak itu, guci berisi air yang sudah didoakan ditinggal di Kampung Kaputihan dan selalu dijadikan sarana pengobatan. Ma­syarakat sekitar selalu menyebut-nyebut guci-guci, sehingga Kiai Kli­tik selaku Kepala Dukuh Kaputihan mengubahnya menjadi Desa Guci. Pada pemerintahan Adipati Brebes, Raden Cakraningrat membawa guci peninggalan Elang Sutajaya dan saat ini benda itu berada di Museum Nasional.

Di kawasan Guci juga terdapat pohon beringin dan pohon karet yang sudah ratusan tahun yang konon ditanam oleh keturunan Kiai Klitik yang bernama Eyang Sudi Reja dan Mbah Abdurahim pada tahun 1918. Dengan maksud agar daerah tersebut tidak mu­dah longsor, kuat serta rindang. Sampai sekarang, pemandian air panas Guci menyimpan misteri kegaibannya sebab merupakan peninggalan para wali terdahulu penyebar agama Islam, dan masih banyak tempat-tempat yang me­nyimpan sejarah, seperti petilasan Kiai Mustofa yang makamnya di Pekaringan berjarak lima kilome­ter dari Desa Guci. Kiai Mustofa adalah seorang ulama keturunan Kanjeng Sunan Gunung Jati yang bertapa di Desa Guci pada zaman cucu Kiai Klitik.

Ulama inilah yang memberi nama air terjun di sebelah atas Pemandian Pancuran 13, yaitu Cu­rug Serwiti, sebab banyak muncul burung serwiti dan di atas curug itu ada lagi sebuah curug yang indah bernama Curug Jedor yang tidak pernah diketahui asal muasal nama tersebut. SB/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment