Koran Jakarta | October 22 2017
No Comments

Kebohongan Intelektual

Kebohongan Intelektual

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Oleh Roy Martin Simamora

“Serapat-rapatnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga,” demikian kurang lebih bunyi peribahasa yang menggambarkan kejahatan serapat apa pun disembunyikan, akan terkuak juga. Dwi Hartanto, begitu orang mengenalnya lewat sejumlah prestasi membanggakan. Tak tanggung-tanggung, dia bahkan digadang-gadang sebagai The Next Habibie.

Tetapi, siapa sangka, kebohongan Dwi ibarat bangkai, akhirnya tercium juga dan terungkap ke publik. Berdasarkan dokumen lima halaman, Dwi Hartanto melayangkan klarifikasi dan permohonan maaf dan diunggah situs Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Delft. Ia bukan lulusan Tokyo University, tetapi Institut Sains dan Teknologi Akprind Yogyakarta Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri.

Dia sempat pula mengaku sebagai post-doctoral asisten profesor di Technische Universiteit (TU) Delft bidang aerospace. Penelitiannya tentang teknologi satelit dan pengembangan roket.

Faktanya, Dwi merupakan mahasiswa doktoral TU Delft. Topik penelitian sesungguhnya dalam bidang intelligent systems, khususnya virtual reality sebagai disertasinya. Dwi juga mengaku bukan perancang Satellite Launch Vehicle. Ia juga tidak pernah membuat roket TARAV7s (The Apogee Ranger versi 7s).

Kebohongan Dwi lainnya mengaku sebagai pemenang lomba riset teknologi antarlembaga penerbangan dan antariksa seluruh dunia di Cologne, Jerman. Dia berhasil mengalahkan para peneliti dari NASA (Amerika), ESA (Eropa), dan JAXA (Jepang). Dwi juga mengatakan juara riset Spacecraft Technology. Ia membuat riset berjudul Lethal Weapon in the Sky. Dari riset ini dia juga membuat paten bersama timnya.

Kenyataannya, Dwi tak pernah mengikuti lomba tersebut. Dwi justru memanipulasi template cek hadiah, menuliskan namanya, membubuhkan nominal hadiah 15.000 euro. Ia berfoto dengan cek tersebut dan mengunggah ke media sosial. Foto itu sebetulnya diambil di gedung Space Businees Inovation Center Noordjijk, Belanda, saat Dwi mengikuti hackathon Space Apps Challenge. Dalam lomba itu, Dwi dan timnya juga tidak berhasil naik podium.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Dwi disebut dihubungi protokoler BJ Habibie. Pertemuan Habibie dan Dwi berlangsung di salah satu restoran Den Haag awal Desember 2016. Pertemuan tidak pernah terjadi.

Dwi memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan kebohongan. Melalui Facebook, dia mengunggah persiapan dan peluncuran TARAV7s yang tak pernah ada. Postingan sejak 9 Juni 2015 sebetulnya persiapan roket DARE Cansat V7 yang menjadi kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa.

Pada 3 Februari 2017, Dwi mengabarkan tengah sibuk mengerjakan proyek satelit pesanan Airbus (AirSat-ABX). Pada 24 Februari, dia kembali mengunggah telah diwawancara TV Nasional Belanda NOS terkait Spacecraft technology. Lalu, 15 Juni 2017 ia mem-posting id card sebagai Direktur Teknik ESA.

Sungguh, pernyataan Dwi Hartanto tersebut sangat mengherankan. Ini semacam cambuk bagi siapa pun, terutama ilmuwan yang suka berbohong. Banyak orang rela melakukan kebohongan demi ketenaran. Mereka mau melakukan kontroversi untuk meraup keuntungan pribadi. Tidak hanya Dwi yang rela berbohong demi membesarkan nama dan menunjukkan eksistensi dengan cara-cara tidak terpuji. Masih banyak orang di luar sana yang mungkin melakukan yang sama.

Sindrome

Dwi bisa jadi terjangkit semacam Habibie Sindrome. Ia hendak menyamakan diri dengan Presiden ketiga. Ia ingin mengatakan, keilmuan serta intelektualitasnya menyamai Habibie. Dia ingin menunjukkan kepada khalayak, prestasinya mampu menyamai Habibie. Padahal dia adalah dia. Kau hanyalah kau. Aku adalah aku. Habibie adalah Habibie. Dwi tidak akan pernah menjadi Habibie. Begitu sebaliknya, Habibie tidak akan pernah menjadi Dwi. Dwi membangun kebohongan, tanpa memperhitungkan dampak serius tindakannya.

Dia tidak sadar, kebohongan menciptakan yang lain. Imbasnya, dia semakin candu berbohong. Pendeknya, kebohongan menerabas kejujuran dan mematikan rasionalitas. Sungguh naas memang, kepalsuan, kebohongan dan klaim-klaim yang tidak berdasar itu runtuh begitu saja. Dia hanya mempertontonkan intelektualitas palsu di hadapan publik. Akhirnya, dia terjerembab. Orang-orang yang pernah dibohongi, barangkali tidak lagi menaruh simpati dan kepercayaan.

Kebohongan intelektual adalah pembodohan. Untuk bangsa ini, dia bukanlah barang baru. Ia telah lama mendarah daging, terlebih di kalangan intelektual. Kebohongan intelektual yang paling sering terjadi adalah plagiat, termasuk seorang mantan gubernur yang menjadi tersangka KPK. Kasus plagiat lantas menyeret beberapa pihak dan petinggi universitas di Jakarta. Pembodohan intelektual semacam plagiat tidak lagi memandang identitas, jabatan, dan kekuasaan. Ia menyasar mahasiswa, petinggi universitas hingga pejabat negara sekalipun.

Pada prinsipnya, tugas kaum intelektual memberi pengaruh dan kesan perubahan signifikan bagi kelangsungan hidup. Pengabdian tidak hanya pada kepentingan pribadi. Pengabdiannya untuk masyarakat banyak. Noam Chomsky dalam The Responsibility of Intellectuals (1966) mengatakan: intelektual berada dalam posisi mengungkap kebohongan-kebohongan pemerintah, menganalisis tindakan-tindakan sesuai dengan penyebab, motif-motif, serta maksud-maksud tersembunyi.

Chomsky mengingatkan, tanggung jawab intelektual untuk berbicara kebenaran dan menguak kebohongan-kebohongan. Tetapi malah sebaliknya, intelektualitas dipakai sebagai sarana melancarkan kebohongan kepada khalayak.

Sebagaimana Dwi dan kebohongan-kebohongan intelektual yang telah dilakukan kaum intelek, perlu ingat Bentrand Russel. Dia melayangkan sebuah pernyataan provokatif tentang intelektualitas akademik. Ia berani bertaruh, semua pemikiran para intelektual atau pemikir hanya sebuah omong kosong intelektual (intellectual rubbish).

Istilah itu menjelaskan betapa banyak dari konsep-konsep yang sering dianggap intelektual, ternyata memiliki bolong-bolong tak terduga. Di dalamnya ada aib-aib memalukan, sekaligus dusta tak termaafkan. Ini termasuk keyakinan-keyakinan tentang betapa mulianya manusia modern dibanding orang-orang zaman dulu. 

Penulis Alumnus Hua-Shih College of Education, National Dong Hwa University, Taiwan

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment