Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Ketidakpastian Global - RI Jadi Tujuan Investasi Tiongkok sebagai Dampak Perang Dagang

Kebijakan Moneter Bakal Disesuaikan

Kebijakan Moneter Bakal Disesuaikan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Koordinasi antara pemerintah selaku otoritas fiskal dengan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter harus terjaga dengan baik untuk menjaga kelangsungan stabilitas perekonomian di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

JAKARTA – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menilai Bank Indonesia (BI) akan melakukan penyesuaian kebijakan moneter untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi global yang dinamis.

“Saya rasa BI juga akan melakukan adjustment atau penyesuaian dari stance monetary policy,” katanya, di Jakarta, Rabu (12/6). Dia mengatakan kondisi ekonomi global saat ini mulai mengalami tekanan karena tensi perang dagang yang meningkat berpotensi mengganggu kinerja pertumbuhan ekonomi.

Situasi tersebut menyebabkan adanya perubahan arah kebijakan moneter di negaranegara maju untuk mengantisipasi tanda-tanda perlemahan ekonomi. Untuk itu, koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia harus terus diupayakan dalam mengelola kegiatan ekonomi. “Kita tentu menghargai langkah BI bersama pemerintah, pada saat turbulance kita fokus kelola ekonomi kita dan menjaga stabilitas,” ujarnya.

Selama ini, koordinasi untuk menjaga kelangsungan stabilitas ekonomi tersebut sudah diupayakan dengan baik. Dia pun menghormati segala bentuk kebijakan lanjutan yang dirumuskan oleh otoritas moneter dalam mengelola ekonomi dari tekanan eksternal.

“Bagaimana BI akan melakukan, tentu saya hormati, karena mereka akan menggunakan policy suku bunga maupun policy makroprudensial. Dua-duanya sangat berguna bagi ekonomi kita,” katanya. Sebelumnya, BI menyatakan akan mempertimbangkan ruang yang lebih akomodatif dalam mengantisipasi perkembangan ekonomi global.

 

Punya Peluang

 

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut bahwa Indonesia memiliki peluang di tengah perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

“Perang dagang bagi Indonesia tidak ada yang diuntungkan, tapi kita punya peluang bahwa orang melihat negara yang dianggap punya zona aman. Nah, zona aman selama 20 tahun itu ASEAN,” kata Menperin, di Jakarta, Rabu (12/6).

Menurut Airlangga, Indonesia menjadi salah satu negara di ASEAN dengan demokrasi yang cukup solid, sehingga menjadi salah satu negara yang menarik untuk investasi. Selain itu, lanjut Airlangga, Indonesia juga dipandang sebagai salah satu negara yang mengembangkan ekonomi digital, dan hal tersebut menjadi salah satu fokus di dunia.

“Soal digital ekonomi, Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, melihat ke depan digitalisasi sangat kuat dan mereka melihat Asia Tenggara, terutama Indonesia, menjadi ground untuk digital ekonomi,” ungkap Airlangga.

Ketua Umum Partai Golongan Karya tersebut menambahkan, Indonesia menjadi salah satu tujuan investasi asal Tiongkok sebagai dampak perang dagang untuk beberapa sektor industri, meskipun harus bersaing dengan Thailand dan Vietnam.

“Itu kan mereka memilahmilah, kalau sektornya lebih ke hilir, kalau strukturnya lebih ke bahan baku itu mereka ke sini. Indonesia pasti akan menarik investasi berbasis elektronika, garmen, alas kaki, kemudian makanan dan minuman,” katanya. 

 

Ant/E-9

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment