Koran Jakarta | September 20 2018
No Comments

Kartu Napi Bertobat

Kartu Napi Bertobat

Foto : kj/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Kita mungkin susah mencegah seseorang menjadi teroris—atau koruptor, atau pembunuh, atau penjambret, tapi mungkin mudah memperlakukan mereka yang berstatus orang tahanan (OT) atau narapidana, napi, secara manusiawi.

Caranya sederhana, dengan memberikan kepada mereka— baik OT maupun napi, Kartu Napi Bertobat, KNB. Nama bertobat dipilih karena masih dalam proses dan untuk mengingatkan agar terus menjalani, dibandingkan nama Kartu Napi Tobat, misalnya.

Gagasan ini mampir lagi di kepala saya ketika, lagi-lagi, menyebar kabar bahwa ada kamar mewah di lapas, ada suap pada Kalapas Suka Miskin, Bandung, atau aneka penyelewengan di dalam lapas atau rutan berupa perdagangan fasilitas.

Fasilitas itu bisa berarti bisa menempati sel nyaman, pergi keluar untuk berobat, dapat tambahan remisi, bisa menggunakan telepon.

Fasilitas itu berarti melakukan halhal yang dilarang. KNB sama seperti kartu kredit, atau kartu lain, yang di dalamnya menyimpan data pemiliknya. Warna dasar putih, barang kali sesuai pemilik yang masih dalam masa tahanan.

Sementara warna-warna dasar lain tinggal menyesuaikan. Misalnya warna dasar hitam untuk yang terlibat kasus terorisme, narkoba, korupsi, dan kejahatan seksual.

Warna merah untuk kasus pembunuhan, penganiayaan, penyiksaan dan pasal-pasal yang dekat dengan itu. Demikian juga dengan pasal – pasal perjudian, pencurian, penyelundupan, yang memudahkan mengenali kasus yang sedang diajalani.

Dalam kartu tersebut tentu ada nama—juga nama alias yang bisa tiga atau empat nama beda, dan yang terpenting pasal yang dilanggar, dan lama hukuman—baik yang masih ancaman maupun yang sudah diputuskan.

Ini menjadi penting karena dengan demikian “napi yang bertobat” bisa mengetahui lamanya hukuman yang dijalani. Taruh kata lima tahun, kartu itu nantinya bisa menghitung kapan masa hukuman selesai.

Setelah dikurangi dengan remisi 17 Agustus, plus remisi karena membantu pekerjaan di lapas sebagai voorman, atau pemuka, atau menjadi pendonor darah, atau saat hari besar keagamaan.

Kalau ini diberlakukan, mata rantai transaksional model kapan dapat remisi, kapan bisa asimilasi, kapan bisa bebas bersyarat, on parole, sampai dengan kapan bebas bisa diakses oleh pelaku maupun petugas.

Inti utama KNB memang transparan, terbuka, bisa diakses, setiap saat. Dengan tambahan grafis, misalnya berapa lama hukuman yang sudah dijalani dan berapa sisanya yang setiap hari makin berkurang.

Ini pasti menambah semangat, menambah gairah sebagaimana dulu mencoreti dinding sel yang tak bisa dihapus. Demikian juga data kapan berobat ke rumah sakit, biasanya dicari penyakit yang tak bisa diobati atau diperiksa di dalam penjara.

Sehingga diketahui berapa kali dalam seminggu ke luar penjara untuk berobat. Termasuk data, kapan dibesuk oleh siapa dan berapa lama. Semua tercatat, memudahkan—karena tinggal gesek, untuk mengetahui segala hal mengenai pemiliknya.

Sehingga tak perlu bertengkar ada kiriman makanan belum sampai atau tidak, kenapa berobat terlalu sering.

Segala kegiatan bisa terkontrol, seketika itu evaluasi bisa dilakukan jika ada yang dianggap tidak sesuai. Demikian pula pihak Lapas, memiliki data penuh atas “anak didik, anak binaan, atau sekarang anak tobatan” sepenuhnya.

Termasuk jumlah penghuni yang berlebihan, seketika komputer induk bisa memberikan alarm. Pada saat yang sama bisa dipetakan juga Lapas mana yang agak kosong.

Sehingga pemindahan, atau istilah lama “berlayar”, pun dilakukan secara terbuka, dan tak ada transaksional karena berdasarkan data, fakta, dan kebutuhan.

Pada titik ini, baik pihak Lapas maupun napi bertobat memiliki data yang sama. Sehingga tidak ada alasan untuk protes kenapa tidak terima remisi lebih, misalnya.

Oh, ya istilah napi bertobat selain menunjukkan proses, juga lebih menggembirakan dibanding istilah residivis, penjahat kambuhan, yang konotasinya buruk.

Di seluruh Indonesia, jumlah napi bertobat ini tak mencapai 500.000, sehingga tak mungkin untuk mendirikan partai politik, juga terlalu heterogen, namun kalau terjadi sesuatu bisa mengusik keseluruhan.

Kita mungkin tak bisa mencegah mereka melakukan kejahatan dan menjadi napi, namun kita bisa membuat mereka tidak makin terpuruk dalam dendam, dengan memberi kesempatan bertobat.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment