Koran Jakarta | November 20 2018
No Comments

Kardus

Kardus

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

 

Sementara waktu ini, barang kali kita tak bisa menghindar mendengar kata kardus. Atau bahkan mengucapkan. Karena kardus, yang artinya kertas tebal atau karton berbentuk kotak, telah menjelma menjadi kata hidup yang bisa bertengker di kalimat apa saja.

Termasuk dalam lirik lagu yang beken, Syantik, judulnya berubah menjadi “Aku Kardus, Kamu Baper”. Bagi penggemar seri tv yang juga beken di luar negeri, Kim Kardhasian, disusupi menjadi Kim Kardusian.

Termasuk film jadul, dihidupkan kembali “Cintaku di Rumah Kardus”. Dari kata asli rumah susun. Ibarat kata, tak ada yang bisa lolos dari tempelan kata kardus, terutama untuk idiom yang dikenal masyarakat.


Saya tertarik dengan fenomena kata kardus, dibanding makna politis yang melatarbelakangi munculnya tagar #jenderalkardus, misalnya. Karena dengan viral dan obralnya kata kardus, kata ini menemukan tempatnya tersendiri.

Yang akan “abadi”. Akan selalu dikenang, atau diketahui latar belakang sejarah munculnya. Juga makna sampingannya.

Kata yang mendadak popular, atau kemudian menjadi sebutan di masyarakat biasanya akan berumur panjang karena pada kesempatan yang berbeda waktu, tetap akan dipergunakan.

Misalnya kata “nasbung” yang artinya nasi bungkus, atau “nastak” yang kependekkan dari nasi kotak, menjadi sangat terkenal diucapkan ketika banyak demonstrasi. Kata itu menjadi idiom bagi mereka yang demo, tapi sekaligus menjadi idiom makna lain.


Bukan sekadar “nasi bungkus” atau “nasi dalam kotak”, melainkan juga akomodasi, atau bekal, atau uang saku, atau harga transaksional.

Yang tidak selalu berarti negatif. Atau kata lain yang dengan dekat dengan kata kardus sebagai tempat duit, adalah amplop. Amplop menjadi idiom yang sangat-sangat sohor, karena ada istilah “wartawan amplop”, dan segala penolakan.

Sampai hari ini masih ada stasiun siar tv, yang menuliskan running text seperti “wartawan kami tidak menerima amplop dan pemberian lainnya dalam menjalankan tugasnya.”


Saya berusaha menghindari pengertian politik praktis dalam mengamati penggunaan kata kardus, misalnya tagar # 2019gantikardus, atau yang sejenis itu.

Karena merambahkan kata kardus bisa beraneka ragamnya. Bukan hanya dalam kata, melainkan juga dalam meme , yang mewakili beberapa emosi marah, gembira, menangis, geram, atau apa pun.

Yang ternyata lucu, menarik dan dipahami oleh penggunanya, termasuk munculnya tokoh yang benar-benar kardus dan bertanya: apa salah saya?
Bagi saya, mengamati pemakaian kata kardus yang mewabah menandai adanya sesuatu.

Sesuatu yang akan menjadi catatan sejarah. Bahwa pada suatu waktu, pada suatu kesempatan, bangsa ini pernah menggunakan kata yang mempunyai catatan, mempunyai makna tersendiri.

Kata kardus bisa membuka banyak hal tentang politik, tentang duit, tentang salah paham, tentang komunikasi, tentang apa saja yang tak secara lugas terungkapkan, tak terkomunikasihan dengan baik.


Setiap zaman, setiap kurun waktu tertentu, ada kata yang mewakili yang menjadi penanda sejarah. Kali ini kata itu terucap kardus.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment