Koran Jakarta | November 23 2017
No Comments

Kabar dan Gambar (Romo Magnis)

Kabar dan Gambar (Romo Magnis)

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Romo Magnis mudah menarik perhatian, karena tubuhnya yang tinggi, rambut perak, suara serak. Maka ketika dikabarkan jatuh sakit saat menjadi pembicara—yang dilakukan sekitar 40 kali setahun, media sosial ramai memberitakan. Juga mendoakan cepat sembuh.

Gambar Romo Magnis yang terbaring di ranjang rumah sakit, dada terbuka, kemudian dihimbau agar tidak diviralkan. Seruan yang layak dan bagus dihimbaukan. Dalam hal ini ada perbedaan antara mengedarkan kabar dan mengedarkan gambar.


Mungkin ini contoh yang baik dalam media sosial. Dan sejauh saya tahu, himbauan untuk tidak meneruskan gambar dipatuhi. Yang menjadi ganti dari kabar itu gambar-gambar Romo Magnis sebelumnya.

Yang tertawa riang, yang menatap bersahabat. Kabar yang berlanjut, beliau pasang ring di pembuluh darah coroner , untuk membuka sumbatan. Tanpa gambar siatuasi terakhir. Syukurlah begitu,
Doa yang diserukan menemukan gema.

Adalah Romo Magnis Suseno, yang sangat akrab dengan disiplin ilmu, walau kadang menyuarakan pikirannya secara terus terang. Seperti ketika berkeberatan dengan apa yang diomongkan oleh Egi Sudjana, mengenai agama yang “bertentangan” dengan Pancasila.

Adalah Romo Magnis yang menyuarakan pendapat yang sama ketika tidak sependapat di jalan Sudirman-Bunderan Hotel Indonesia, motor dilarang lewat. Beliau dikenal mengendarai vespa. Dalam beberapa tahun terakhir, kini usianya 81 tahun, beliau masih mengendarai vespa. Banyak yang menyarankan jangan mengendarai, tapi kadang masih “mencuri-curi”.

Yang juga tak lagi dilakukan adalah mendaki gunung—sesuatu yang sering dilakukan, kadang seorang diri. Ini rentetan pengalaman yang diketahui masyarakat. Pengalaman yang sejak tahun 1961 menginjakkan tanah di Indonesia.

Melalui dan menyaksikan pergolakan politik di negeri ini, dari suasana berbahaya sampai yang sangat berbahaya. Nyatanya 17 tahun kemudian beliau menentukan untuk memilih menjadi warga Negara Indonesia.

Banyak kisah yang mencerminkan hal yang sebenarnya lebih luas dan dalam. Misalnya ketika harus belajar bahasa Jawa—sesuatu yang diharuskan, bahkan sebelum belajar bahasa Indonesia—yang diperlukan dalam pelayanan, beliau menyimpulkan bahwa belajar bahasa Jawa tidaklah sulit.

Cukup mengenal dan menggunakan kata inggih atau nggih yang berarti ya. Karena semua pertanyaan bisa dijawab dengan kata inggih. Simpel, sederhana dan sesungguhnya menjelaskan banyak hal tentang budaya Jawa yang ruwet. Begitu besar cintanya pada tanah inio sehingga bahkan namanya pun mengacu kepada tokoh wayang kulit.


Saya beruntung pernah mengenalnya, pernah sama-sama menjadi nara sumber dalam acara yang sama, pernah menjajal vespa, pernah ngobrol tanpa tema dan lama. Salah satu yang saya ingat ketika sama-sama menjadi narsum di Komnas Ham. Karena waktunya mepet, saya menyampaikan bahwa saya tak bisa lama, karena ada acara lain

. Dengan kata lain, mungkin tak bisa mengikuti sampai akhir. Romo Magnis juga mengutarakan hal yang sama. Beliau tak hadir bisa sampai selesai.

“Ada acara di mana Romo?” Jawab Romo Magnis:”Saya ada acara di Komnas Ham.” Wuooow… ini kita lagi di sini. Memangnya kita lagi di mana? Kami tertawa bersama, dan berharap pendengar lain tidak ikut tertawa. Tapi sia-sia.


Banyak peristiwa lain yang bisa diceritakan. Tentang kesederhanaan—beliau mungkin tak punya nomor rekening bank, tentang keperdulian pada sesama, tentang hal-hal tetap harus disuarakan, tentang buku yang akan dituliskan, dan hal-hal lain yang menyenangkan, yang melegakan.


Juga saat ini. Bahkan ketika kabar Romo Magnis jatuh sakit, kita menemukan cara yang baik untuk tidak menyebarkan gambar. Cepat sembuh Romo.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment