Koran Jakarta | October 23 2018
No Comments
Kebijakan Anggaran

Jokowi Teken Perpres Pajak Rokok Tutup Defisit BPJS Kesehatan

Jokowi Teken Perpres Pajak Rokok Tutup Defisit BPJS Kesehatan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Presiden Joko Widodo telah menandatangani peraturan presiden (perpres) soal pemanfaatan cukai rokok dari daerah untuk menutup defisit keuangan Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.


“Perpres sudah ditandatangani dan sedang diundangkan di Kementerian Hukum dan HAM,” kata Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi, Johan Budi, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (18/9).


BPJS Kesehatan sebelumnya memang berharap pemerintah mengalirkan dana dari cukai rokok untuk menyeimbangkan arus keuangannya.

Pembahasan mengenai pemanfaatan cukai rokok ini sudah dilakukan sejak Mei 2018. Sebab, pada 2018 ini, diperkirakan anggaran keuangan BPJS Kesehatan mengalami defisit sebesar 16,5 triliun rupiah.


Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo, menuturkan perpres baru yang diteken Jokowi pada pekan lalu merupakan perubahan atas Perpres Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


Mardiasmo menjelaskan dengan perpres baru ini, pemerintah pusat bisa menggunakan pajak rokok yang merupakan hak pemerintah daerah dari tingkat provinsi hingga Kota/Kabupaten untuk program JKN, termasuk untuk membantu menutup defisit keuangan eks PT Asuransi Kesehatan (Askes) itu.


Mekanismenya, dari 50 persen penerimaan pajak rokok daerah, sebanyak 75 persennya akan dialokasikan untuk program JKN.

“Dengan Perpres ini, semua Provinsi hingga Kota bisa digunakan pajak rokoknya. Tinggal diambil 75 persen dari situ,” ucapnya.


Angka Pasti


Sebelumnya, pemerintah pusat memperkirakan jumlah penerimaan pajak rokok pada tahun ini sekitar 13 triliun rupiah.

Dengan begitu, sekitar 75 persen dari 6,5 triliun rupiah bisa digunakan untuk program JKN, termasuk BPJS Kesehatan. Meski begitu, memang belum ada angka pasti berapa yang sekiranya langsung bisa disuntikkan ke BPJS Kesehatan.


Selanjutnya, secara lebih rinci Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, akan mengeluarkan peraturan menteri keuangan (PMK) sebagai aturan teknis pelengkap perpres.

“Kami memang sengaja tidak mengeluarkan PMK untuk hal ini, karena menunggu perpres lebih dulu,” terangnya.


Mardiasmo bilang, penerbitan perpres dan PMK selanjutnya akan menutup kehilangan potensi suntikan anggaran untuk BPJS Kesehatan dari pos Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT).


Sebab, sebelumnya pemerintah telah membidik potensi tambalan defisit BPJS Kesehatan dari pos ini, namun ternyata tidak bisa digunakan karena pemerintah hanya boleh mengambil alokasi DBH CHT daerah yang memang terkenal sebagai produsen tembakau.


“Karena ternyata tidak semua daerah mendapat DBH CHT, rupanya hanya beberapa provinsi saja, misalnya Jawa Tengah dan Jawa Timur (yang terkenal sebagai produsen tembakau),” jelasnya.


Dari beberapa daerah yang bisa diambil DBH CHT-nya, setidaknya pemerintah bisa mendapatkan tambahan 1,48 triliun rupiah. fdl/Ant/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment