Koran Jakarta | August 26 2019
No Comments
Antisipasi Krisis - WTO Proyeksikan Perdagangan Global 2019 Hanya Tumbuh 2,6 Persen

Jokowi Minta Pengusaha Manfaatkan Peluang Perang Dagang

Jokowi Minta Pengusaha Manfaatkan Peluang Perang Dagang

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

>> Pasar AS yang sebelumnya dimasuki produk Tiongkok bisa menjadi peluang Indonesia memperbesar ekspor.

>> Jokowi minta Kadin dan Hipmi beri masukan konkret yang bisa dijalankan saat menjadi presiden periode kedua.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo meng­ingatkan kalangan pengusaha, terutama yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Himpun­an Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), bahwa perang dagang antara Amerika Seri­kat (AS) dan Tiongkok jangan dilihat seba­gai sebuah masalah besar.

Justru, perseteruan dagang dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu me­rupakan sebuah peluang karena ada sebuah kesempatan yang bisa diambil dari ramai­nya perang dagang itu.

“Saya melihat bapak, ibu, dan saudara semuanya berada pada garis yang paling depan dalam memanfaatkan peluang ini,” kata Presiden Jokowi saat menerima peng­urus Kadin Indonesia dan Hipmi, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (12/6).

Kepala Negara kemudian mencontohkan pasar di Amerika yang sebelumnya dimasuki produk-produk dari Tiongkok bisa menjadi peluang Indonesia untuk memperbesar ka­pasitas sehingga produk Indonesia bisa ma­suk ke sana. “Seperti yang saya lihat, misal­nya produk tekstil, garmen, itu yang dulunya diisi dari produk dari sana, sekarang karena mereka ramai, ya bisa kita isi,” katanya.

Juga produk elektronik atau furniture, yang menurut catatan Jokowi lebih dari 50 persen dari Tiongkok, bisa diisi dari Indone­sia. “Saya kira peluang-peluang seperti ini yang secara detail harus kita lihat dan kita manfaatkan sebesar-besarnya untuk me­ningkatkan ekspor kita,” katanya.

Pada kesempatan itu, Presiden kemudi­an meminta sejumlah masukan dari organi­sasi pengusaha itu.

“Pada siang hari ini, saya minta masuk­an, tapi nggak usah banyak-banyak, kira-kira yang konkret, satu, dua, atau tiga. Apa sih yang harus kita kerjakan setelah nanti MK (Mahkamah Konstitusi) rampung (me­nyelesaikan sengketa Pilpres), biar saya bisa kerja,” kata Presiden.

Kepala Negara kemudian menanyakan apa yang diinginkan oleh pengusaha sehing­ga kegiatan usaha dapat berkembang baik. “Jangan banyak-banyak, tiga saja apa? Bapak kerjain ini, Pak. Nggak usah banyak-banyak, nanti malah kebanyakan,” katanya.

Ia berharap masukan-masukan itu me­rupakan kunci bagi kalangan pengusaha Indonesia untuk dapat memanfaatkan mo­mentum dan peluang yang ada. “Juga mung­kin kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh pengusaha, dunia usaha terutama, pelaku di sektor riil ini,” katanya.

Presiden menyebutkan pelaksanaan Pe­milu 2019 telah selesai, meskipun masih ada proses di MK. “Meskipun masih ada proses di MK dan kita berharap kita fokus lagi, konsentrasi lagi pada urusan-urusan ekonomi, dan terutama ini karena perang dagangnya semakin sengit,” kata Presiden.

Punya Peluang

Sementara itu, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, menyebut bahwa Indo­nesia memiliki peluang di tengah perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

“Perang dagang bagi Indonesia tidak ada yang diuntungkan, tapi kita punya peluang bahwa orang melihat negara yang dianggap punya zona aman. Nah, zona aman selama 20 tahun itu ASEAN,” kata Airlangga.

Menurut Airlangga, Indonesia menjadi salah satu negara di ASEAN dengan demo­krasi yang cukup solid, sehingga menjadi salah satu negara yang menarik untuk inves­tasi. Selain itu, Indonesia juga dipandang sebagai salah satu negara yang mengem­bangkan ekonomi digital, yang menjadi sa­lah satu fokus di dunia.

Informasi terakhir, meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah mengakibatkan kinerja eks­por di seluruh negara melambat. Bahkan, Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) memproyeksi­kan perdagangan global pada 2019 hanya tumbuh sebesar 2,6 persen, atau menurun dibandingkan periode 2017 sebesar 4,0 per­sen dan 2018 sebesar 3,6 persen. Ant/fdl/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment