Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments
Strategi Pembangunan - Jabatan Menteri untuk Aktivis 98 Bukan Hal yang Mustahil

Jokowi Ajak Semua Pihak Evaluasi Kinerja Pemerintah

Jokowi Ajak Semua Pihak Evaluasi Kinerja Pemerintah

Foto : ANTARA/APRILLIO AKBAR
BERSAMA AKTIVIS 98 - Presiden Joko Widodo menerima jaket saat Halal Bihalal bersama Aktivis 98 di Jakarta, Minggu (16/6). Presiden berpesan agar para aktivis 98 bisa mengambil peran dalam pembangunan dengan cara memberikan evaluasi dan koreksi terhadap langkah dan kebijakan yang dilakukan pemerintah.
A   A   A   Pengaturan Font
Presiden Jokowi dalam lima tahun ke depan akan mengambil keputusan yang terbaik untuk bangsa.

 

JAKARTA – Presiden Joko Widodo meminta kepada semua pihak agar ikut mengevaluasi hal-hal yang dilakukan pemerintah untuk ke­majuan bangsa. Evaluasi yang dimaksud, se­perti capaian yang sudah berhasil maupun yang belum. Apalagi, saat ini sudah lebih ku­rang 21 tahun gerakan reformasi berjalan.

Hal itu disampaikan Pre­siden Jokowi dalam acara Si­laturahmi Halalbihalal Akti­vis 98 se-Indonesia di Jakarta, Minggu (16/6).

“Kita harus berani mengo­reksi apa yang masih harus dikerjakan, apa yang masih kurang, apa yang harus dise­lesaikan, ini jadi koreksi kita bersama,” kata Jokowi.

Presiden pun menegaskan bahwa dalam lima tahun ke depan akan mengambil ke­putusan yang terbaik untuk bangsa. “Insya Allah sudah ti­dak memiliki beban apa-apa. Jadi, keputusan-keputusan yang miring-miring yang itu penting untuk ne­gara ini, akan kita kerjakan. Sekali lagi karena saya sudah tidak memiliki beban apa-apa,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi menyinggung soal kapasitas aktivis 98 yang di­nilainya layak duduk di posisi menteri ataupun jabatan lain di pemerintahan. Terlebih, saat ini sudah ada yang menjadi anggota dewan per­wakilan rakyat (DPR), bupati, hingga wali kota.

“Berkaitan dengan Aktivis 98. Ini adalah pe­laku sejarah, memang sebagian besar sudah ada yang menjadi bupati, DPR, wali kota atau jabatan lain. Tapi, saya juga mendengar bahwa ada yang belum. Saya lihat jadi menteri belum,” ucap Presiden.

Menurut Presiden, jabatan menteri untuk aktivis 98 bukanlah hal yang mustahil. Namun, poin utama yang terpenting mampu mengam­bil keputusan yang cepat dan tepat.

“Bisa saja, kenapa tidak? Dengan kemam­puan yang ada, bisa saja. Misalnya tidak ha­nya jadi menteri, bisa saja jadi dubes, bisa saja di BUMN. Tapi sekali lagi, saya selalu melihat bahwa yang bersangkutan memiliki kapasitas, memiliki cara yang biasa saya sampaikan,” pa­par Presiden.

Berkarakter Kuat

Presiden menambahkan, bahwa ke depan memang dibutuhkan kepemimpinan yang ber­karakter kuat dalam mengeksekusi, serta bera­ni menjadi eksekutor dalam setiap keputusan yang sulit seperti apa pun. “Membutuhkan se­orang eksekutor yang kuat,” jelasnya.

Selain itu, diperlukan juga orang yang mem­punyai manajerial yang kuat dan yang baik.

“Sehingga sekali lagi, saya melihat potensi-potensi ini banyak dan ada di aktivis 98 yang hari ini hadir bersama kita. Saya ti­dak ingin menyebut nama dulu, inisial pun saya enggak mau,” ungkap Presiden.

Selanjutnya, Presiden Jokowi ikut menyinggung bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Sebab itu, dalam membangun bangsa dibutuhkan kerja sama dan kebersamaan.

“Sekali lagi, saya ingin mengingatkan kita semuanya negara ini negara besar 17.000 pulau itu besar sekali. 714 suku banyak sekali, berbeda-beda. Ada 1.100 lebih bahasa daerah yang kita miliki juga banyak sekali. Jadi, jangan ada merendah, ja­ngan ada perasaan yang menganggap negara ini kecil. Negara ini negara besar dengan perbe­daan yang sangat majemuk sekali. Jangan sam­pai kita lupa itu,” kata Presiden mengingatkan.

Dengan kemajemukan tersebut, persatuan, kerukunan, dan persaudaraan harus terus di­jaga. Jangan sampai pilkada, pilwakot, pilgub, dan pilpres masih ada politik identitas, apalagi SARA. “Sangat berbahaya sekali karena kita ini sangat majemuk. Saya sangat percaya, aktivis-aktivis 98 mampu mengelola perbedaan-per­bedaan itu,” tutup Presiden.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi men­dengarkan komitmen aktivis 98 untuk terus mengemban cita-cita reformasi.

Perwakilan aktivis 98, Adian Napitupulu, mengatakan saat Presiden Soeharto lengser, aktivis 98 tidak meminta jabatan apa pun di pemerintahan berikutnya. Kala itu, aktivis 98 kembali ke kampus menimba ilmu. Namun demikian, saat ini ada teman-teman aktivis 98 yang telah berhasil menjadi anggota DPR RI, wali kota hingga bupati. “Banyak juga teman-teman yang jadi pengusaha,” ujar dia.

Adian mengatakan aktivis 98 telah siap me­mimpin bangsa dan meminta Presiden mem­berikan kepercayaan kepada aktivis 98.

“Kita sudah siap memimpin bangsa ini. To­long Pak Presiden percaya kepada kita,” kata Adian yang juga politisi PDI Perjuangan itu. fdl/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment