Johnny Gerard Plate : Informasi Hoaks Covid-19 Terus Ditangkal | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments
WAWANCARA

Johnny Gerard Plate : Informasi Hoaks Covid-19 Terus Ditangkal

Johnny Gerard Plate : Informasi Hoaks Covid-19 Terus Ditangkal

Foto : ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Johnny Gerard Plate Menkominfo
A   A   A   Pengaturan Font

Pada 23 Oktober 2019, Johnny Gerard Plate dilantik oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) menggantikan Rudiantara. Sebelum jadi Menkominfo, Johnny malang melintang di dunia politik. Dia sempat jadi Sekretaris Jenderal Partai Nasional Demokrat (NasDem).

Usai dilantik, Johnny melontarkan tekadnya sebagai Menkominfo yang profesional. Bertekad menjadikan dunia digital sebagai tempat berselancarnya kaum milenial. Bukan perkara mudah memang mengurusi dunia digital di Tanah Air. Banyak tugas berat membereskan permasalahan teknologi informasi di Indonesia dalam waktu lima tahun ke depan. 

Apalagi sekarang, muncul pandemi Covid-19. Warga pun kini diimbau tak lagi berinteraksi langsung. Komunikasi digital jadi andalan. Rapat, kerja, dan belajar, kini banyak dilakukan secara online. Untuk mengupas masalah ini, wartawan Koran Jakarta, Agus Supriyatna, berkesempatan mewawancarai Menkominfo, Johnny Gerard Plate, di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Di tengah pandemi Covid-19, Kemenkominfo jadi salah satu kementerian di garda depan dalam memerangi wabah Covid-19 yang kini telah jadi pandemi global, terutama dari sisi informasi dan komunikasi. Apa saja yang sudah Bapak lakukan? 

Kami telah mengeluarkan beberapa kebijakan dan kegiatan, khusus dalam mendukung layanan prima telekomunikasi dan penyiaran untuk mengatasi penyebaran Covid-19. Kami telah berkoordinasi dengan operator telekomunikasi terkait akses data situs resmi pemerintah RI tentang Covid-19 yakni https://www.covid19.go.id.

Itu sudah digratiskan mulai 23 Maret 2020. Jadi, pelanggan tidak dikenakan kuota ketika mengakses situs tersebut. Dukungan lain berupa penyediaan kanal informasi bagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam menyebarluaskan informasi penanganan pandemi Covid-19.

Misalnya, kanal informasi SMS blast dengan sender BNPB melalui operator seluler, call center 119, dan Public Service Announcement (PSA) oleh lembaga penyiaran publik dan swasta, baik radio maupun televisi serta informasi yang disediakan oleh penyedia layanan akses internet (ISP) dan penyedia jasa media online dalam bentuk banner online.

Ini semuanya sudah aktif. Tidak hanya itu, Kemenkominfo juga telah menetapkan Nomor Pelayanan Darurat 117 bebas pulsa yang secara eksklusif digunakan oleh BNPB. Kami juga meminta operator telekomunikasi membuka koneksinya sesegera mungkin.

 Ada kerja sama dengan perusahaan pemilik platform media sosial, misalnya Facebook, WhatsApp, dan lainnya? 

Oh iya, Kemenkominfo juga bekerja sama dengan WhatsApp, Facebook, dan Telkom Group membangun chatbot WA. Chatbot ini bisa diakses publik dengan nama akun: covid19.go.id. Lewat chatbot, ini publik dapat berinteraksi. Ini akun chat resmi pemerintah. Publik bisa memperoleh informasi secara interaktif melalui chatbot yang kontennya disediakan oleh BNPB dan Kemenkes. 

Pihak WhatsApp juga sudah berkomitmen memberikan kebijakan khusus bagi Indonesia untuk dapat menyalurkan pesan WhatsApp blast terkait pandemi Covid19. Nah, Kemenkominfo juga menyediakan form bagi publik yang bersedia menerima pesan blast pada akun WhatsApp-nya. WhatsApp hanya memberikan kebijakan ini secara eksklusif kepada dua negara, yakni Indonesia dan Singapura.

 Adakah instruksi khusus dari Kemenkominfo untuk operator telekomunikasi di Indonesia untuk membantu penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19? 

Kami telah menginstruksikan kepada seluruh operator telekomunikasi dan penyedia platform digital untuk melakukan beberapa hal. Pertama, menyediakan layanan akses internet dengan kapasitas dan kualitas layanan yang baik. Kedua, menggratiskan akses terhadap situs resmi penanganan pandemi Covid-19 dan call center 117 dan 119. Ketiga, menyediakan produk layanan atau program yang mendukung implementasi kebijakan Presiden Joko Widodo terkait social distancing untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah. Keempat, menangkal hoaks dengan aktif dan mendiseminasikan informasi yang benar kepada publik.

 Langkah lain yang mesti dilakukan operator telekomunikasi apa?

Selain itu, dalam rangka memastikan kualitas layanan telekomunikasi yang baik, tim Ditjen PPI akan terus mengukur kualitas layanan di wilayah-wilayah pemukiman. Adapun pengukuran yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang baik. Tim akan secara berkelanjutan berkoordinasi dengan operator telekomunikasi. Apabila ditemukan adanya layanan telekomunikasi yang kurang baik di area tertentu, akan diupayakan tindakan optimasi.

Berdasarkan laporan dari operator seluler, sampai dengan saat ini terdapat lonjakan trafik di area pemukiman rata-rata sebesar 5–10 persen dari kondisi normal. Apabila terus terjadi lonjakan trafik, operator seluler akan menambah kapasitas pada masing-masing base transceiver station (BTS). Jika diperlukan operator seluler akan mengerahkan mobile BTS untuk melayani daerah-daerah yang over loaded.

 Soal hoaks di tengah pandemi Covid-19 ini apakah intensitasnya begitu masif? 

Ya, per 17 Maret 2020, Tim Ais Kementerian Kominfo berhasil mengidentifikasi dan menemukan total sebanyak 242 konten hoaks serta disinformasi yang berkaitan dengan Covid-19. Seluruh konten itu tersebar di platform media sosial maupun website dan platform pesan instan. 

Kami tentunya terus mengidentifikasi dan menangkal setiap informasi yang tidak benar atau hoaks yang beredar di dalam negeri. Dari hasil tersebut ditindaklanjuti dengan memberikan informasi yang benar sesuai dengan fakta di lapangan. Tujuannya, melindungi masyarakat dari dampak negatif informasi yang tidak benar terkait Covid-19. Ini bahaya, apabila masyarakat mengkuti informasi yang tidak benar itu.

Tindakan penyebaran isu yang tidak benar, di tengah penyebaran Covid-19 saat ini berbahaya. Karena berpotensi membuat berbagai lapisan masyarakat panik dan takut dalam menghadapi bencana non-alam ini. Hal ini merugikan bangsa dan negara. Pelaku ini tidak menjawab panggilan Ibu Pertiwi yang membutuhkan pertolongan.

Apa langkah Kementerian Kominfo untuk mengatasi informasi hoaks ini agar tak menimbulkan kepanikan di tengah pandemi seperti sekarang? 

Dalam mengatasi informasi hoaks Covid-19 yang beredar di medsos ditindaklanjuti bersama dengan pemilik platform. Tugas dan fungsi Kementerian Kominfo sesuai dengan kebijakan yang berlaku tidak bisa menutup akun yang terbukti menyebarkan hoaks.

Kementerian Kominfo akan memberikan rekomendasi akun-akun mana yang terindikasi menyebarkan hoaks sesuai dengan aduan masyarakat dan patroli di medsos kepada pemilik platform dan pihak penegak hukum. Berdasar laporan itu, kemudian mereka yang menutup akun tersebut.

Bila sifatnya masif dan menimbulkan keresahan publik, ada unsur delik pidana yang telah dilanggar oleh pemilik akun yang menyebarkan informasi yang tidak benar tersebut maka akan ditindaklanjuti oleh Kepolisian.

 Kemarin, bersama dengan Kantor Staf Presiden (KSP), diluncurkan aplikasi 10 Rumah Aman. Bisa dijelaskan tentang 10 aplikasi Rumah Aman itu? 

Ya, aplikasi 10 Rumah Aman merupakan kolaborasi perusahaan anak negeri dari beragam sektor. Ada WIR Group, COMPRO, Prixa.ai, Disrupto, dan perusahaan komunikasi serta konten anak negeri, Kennedy Voice Berliner (KVB). Aplikasi 10 Rumah Aman ini menggunakan teknologi artificial intelligence (AI). Teknologi AI yang menghubungkan data berbasis peta dan lingkungan sekitar melalui perangkat telepon seluler dan terhubung dengan platform media sosial.

Jadi, aplikasi 10 Rumah Aman ini mengoptimalkan teknologi AI untuk membantu masyarakat memeriksa secara mandiri menggunakan alat diagnosis berbasis AI dan melihat peta untuk menghindar dari paparan Covid-19. Aplikasi ini juga ingin memastikan seluruh warga tetap berada di rumah, bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Saling mengingatkan dan menjaga agar selalu dalam keadaan sehat dan baik dengan menjaga jarak aman.

 Apa saja fitur-fiturnya? 

Ada lima fitur yang bisa dimanfaatkan pengguna aplikasi 10 Rumah Aman. Ada pengukuran suhu berkala, berbagi masakan atau makanan, inspirasi hidup sehat, periksa mandiri, dan update peta sebaran individu berdasarkan suhu tubuh normal atau di atas normal. Aplikasi 10 Rumah Aman juga menyediakan informasi terbarukan setiap saat agar setiap orang merasa nyaman ketika berada di rumah.

Ada toko daring yang menjual kebutuhan sehari-hari dengan harga resmi tanpa ada permainan harga, misalnya bahan makanan dari para petani dari Rego Pantes dari 8 Villages, Sayur Box dan TaniHub, konsultasi kesehatan dari Prixa, program edutech dari Cakap, donasi bersama Wahid Foundation, obat-obatan dan alat kesehatan dari Kimia Farma, Mediv-Kimia Farma, DAV, serta konten kolaborator dari anak negeri yaitu WIR Group, Compro, Disrupto, dan Kennedy Voice Berliner.

Bahkan, aplikasi 10 Rumah Aman terintegrasi dengan beberapa aplikasi lain, seperti ChatBot covid19.go.id, PeduliLindungi, Halodoc, Alodokter, Good Doctor, Sahabatdokter, SehatQ, Sehatpedia, dan KlikDokter. Ini semua untuk memudahkan akses masyarakat.

Kami mewakili pemerintah mengapresiasi setiap inisiatif kolaborasi dan gotong royong untuk mencegah penularan Covid-19. Melalui aplikasi ini diharapkan upaya melawan Covid-19 dengan pendekatan berbasis komunitas, teknologi AI, dan O2O atau online to offline akan lebih optimal.

 Aplikasi ini sudah bisa diunduh via Google Play Store

Ya, aplikasi 10 Rumah Aman bisa diunduh di Google Play dan bisa juga diunduh melalui websitehttps://www.sepuluhrumahaman.id.

Beberapa hari lalu, Kementerian Kominfo juga meluncurkan PeduliLindungi. Ini aplikasi apa lagi? 

Ini aplikasi untuk tracing dan fencing untuk menanggulangi dan mencegah pandemi Covid-19. Aplikasi ini akan membantu masyarakat untuk saling menjaga dan melindungi agar penularan Covid-19 bisa dihentikan. Aplikasi ini dibuat oleh anak negeri kita dan didedikasikan untuk negara dalam menghadapi darurat dan keadaan luar biasa nasional dan global. Aplikasi ini juga dimaksudkan untuk melindungi, baik pasien positif, orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), suspect maupun masyarakat luas.

N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment