Jet Tempur Jepang Cegat Kapal Tiongkok | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 23 2017
No Comments
Konflik Laut Tiongkok Timur - Dua Jet Tempur Tiongkok Bermanuver di Atas Pesawat AS

Jet Tempur Jepang Cegat Kapal Tiongkok

Jet Tempur Jepang Cegat Kapal Tiongkok

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Jepang dan Tiongkok sejak lama berselisih terkait sebuah pulau kecil dan tak berpenghuni, yang disebut Senkaku oleh Jepang dan Diaoyu oleh Tiongkok. Pulau itu dikuasai Jepang, tapi diklaim juga oleh Tiongkok.

 

Tokyo – Militer Jepang mengerahkan sejumlah jet tempurnya ke Laut Tiongkok Timur. Pengerahan ini dilakukan setelah empat kapal patroli laut Tiongkok dan sebuah objek mirip drone memasuki wilayah perairan Jepang.

Objek mirip drone atau pesawat tanpa awak itu terbang di dekat salah satu kapal Tiongkok. Insiden ini terjadi di dekat gugusan kepulauan Laut Tiongkok Timur yang menjadi sengketa, pada Kamis (18/5) waktu setempat. Pihak Patroli Laut Jepang menyebut momen tersebut menjadi yang pertama saat keberadaan sebuah drone di dekat pulau yang menjadi sengketa.

Sementara insiden pelanggaran wilayah oleh kapal patroli Tiongkok sudah terjadi 13 kali sepanjang tahun ini. Jepang dan Tiongkok sejak lama berselisih terkait sebuah pulau kecil dan tak berpenghuni, yang disebut Senkaku oleh Jepang dan Diaoyu oleh Tiongkok.

Pulau itu dikuasai Jepang, tapi diklaim juga oleh Tiongkok. “(Insiden) Ini memperparah situasi dan sungguh tidak bisa diterima. Kami menganggap ini sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Jepang,” ujar Menteri Pertahanan Jepang, Tomomi Inada, dalam konferensi pers.

Inada menyebutkan, dua jet tempur F-15, satu pesawat peringatan jenis E-2C, dan satu pesawat pengintai AWACS dikerahkan untuk mencegat empat kapal Tiongkok itu. Dirjen Biro Urusan Oceania dan Asia pada Kementerian Luar Negeri Jepang, Kenji Kanasugi, telah melayangkan protes keras ke Kedutaan Besar Tiongkok di Tokyo via telepon terkait insiden itu.

Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying, menyebut drone itu diterbangkan oleh media terkait untuk foto dari udara. Namun, dia tidak menyebut nama media yang dimaksud. “Ini bukan aksi militer seperti yang dibesar-besarkan oleh beberapa media,” sebut Hua.

Hua menyebut, wilayah perairan yang menjadi lokasi insiden masih menjadi wilayah Tiongkok, sehingga Tiongkok memiliki hak untuk melakukan patroli laut secara wajar. “Untuk perwakilan atau protes dari pihak Jepang, tentu kami tidak bisa menerimanya,” tegasnya.

Jalur Diplomatik

Sementara itu, dua jet tempur Tiongkok melakukan manuver pencegatan terhadap pesawat militer Amerika Serikat (AS). Insiden ini terjadi di wilayah udara internasional yang ada di Laut Tiongkok Timur. “Isu ini sedang dibahas dengan Tiongkok melalui jalur diplomatik dan militer yang semestinya,” ujar juru bicara Angkatan Udara AS, Letnan Kolonel Lori Hodge.

Insiden yang terjadi pada Kamis (18/5) waktu setempat itu melibatkan dua jet tempur Tiongkok jenis SU-30 dan sebuah pesawat militer AS jenis WC- 135 Constant Phoenix yang dirancang khusus untuk mendeteksi radiasi. AS menilai manuver jet tempur Tiongkok itu tidak profesional dengan mendasarkan pada beberapa faktor, termasuk laporan awal personel militer yang ada di dalam pesawat WC-135 itu.

“Melihat manuver pilot Tiongkok itu, juga kecepatan dan jarak kedua pesawat. Jarak selalu menjadi patokan dalam cara kami mengarakterisasi interaksi,” imbuh Hodge, sembari menambahkan bahwa militer AS masih menyelidiki lebih lanjut soal interaksi tidak profesional itu.

Ditegaskan Hodge bahwa pesawat WC-135 itu sedang melakukan misi rutin dan mengudara sesuai hukum internasional. Tiongkok selama ini curiga soal aktivitas militer AS di kawasan Laut Tiongkok Selatan.

Pada 8 Februari lalu, sebuah pesawat pengintai P-3 milik Angkatan Laut AS terbang berdekatan dengan pesawat militer Tiongkok di atas Laut Tiongkok Selatan. AS melihat insiden itu sebagai manuver tidak aman. Apalagi, saat itu kedua pesawat terbang dalam jarak hanya 305 meter. ils/Rtr/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment