Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments
Pergeseran Konsumsi

Jelang Lebaran, Penjualan Emas Lesu

Jelang Lebaran, Penjualan Emas Lesu

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Solo – Penjualan emas perhiasan menjelang Lebaran 2018 lesu seiring peralihan pola konsumsi masyarakat. Masyarakat cenderung membelanjakan uangnya untuk produk elektronik konsumer dan gadget ketimbang perhiasan emas. Padahal, waktu menjelang lebaran menjadi momen baik bagi pedagang emas pehiasan untuk meraup untung.

Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir tren penjualan emas cenderung turun. “Tepatnya sejak tiga tahun lalu setiap jelang Lebaran penjualannya sepi, hanya meningkat sedikit dibandingkan hari normal,” kata Umi, karyawan Toko Mas Gunting di Solo, Jawa Tengah, Rabu (13/6). Dia mengatakan jika pada hari normal dalam satu hari penjualannya sekitar 10-15 item, untuk selama jelang Lebaran kali ini naik 2-3 kali lipat.

“Memang naiknya cukup banyak tetapi kalau dibandingkan dengan tiga tahun lalu kondisi sekarang ini berbeda jauh. Kalau dulu tokonya sampai penuh pembeli,” katanya. Dia mengatakan untuk harga emas perhiasan dengan kadar 40-50 persen saat ini di kisaran Rp270.000-300.000/gram. Kebanyakan masyarakat membeli emas perhiasan dengan berat 2-5 gram.

 

Kebiasaan Konsumen

 

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (Apepi) Jawa Tengah Bambang Yuwono mengatakan beberapa tahun terakhir penjualan emas perhiasan merosot. “Hanya ada kenaikan sedikit jika dibandingkan hari normal. Bahkan di hari normal penjualan sudah benar-benar memprihatinkan,” katanya.

Dia mengatakan kebanyakan masyarakat lebih memilih untuk membelanjakan uang mereka untuk barang-barang elektronik. “Kalau jelang Lebaran ini biasanya yang ramai justru toko pakaian dan gadget. Kalau emas hanya tertentu, biasanya konsumen yang sudah tua,” katanya. Seperti diketahui, penurunan daya beli masyarakat saat ini banyak diperbincangkan.

Karenanya, pemerintah terus memantau berbagai indikator, melakukan pembahasan dengan berbagai pelaku usaha dan pemangku kepentingan, untuk memahami secara benar dan akurat tentang daya beli masyarakat. Selain itu, pemerintah juga terus mencoba merespons dengan berbagai kebijakan penguatan perekonomian dan ketahanan atas daya beli masyarakat itu.

Daya beli masyarakat dapat dikatakan turun bila penghasilan yang diperolehnya turun atau sebaliknya. Secara prinsip ekonomi, tidak terjadi hal yang dapat menyebabkan penurunan daya beli masyarakat saat menerima Tunjangan Hari Raya (THR) menjelang Lebaran 2018. “Pemberian THR Lebaran kali ini dapat meningkatkan daya beli,” kata Pengamat ekonomi Universitas Sam Ratulangi Manado Agus T Poputra. 

 

Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment