Koran Jakarta | November 22 2019
1 Comment

Jatuh-Bangun Meraih Beasiswa ke Luar Negeri

Jatuh-Bangun Meraih Beasiswa ke Luar Negeri
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Mantappu Jiwa
Penulis : Jerome Polin Sijabat
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Agustus 2019
Tebal : 224 halaman
ISBN : 978-602-063-242-1

Tidak ada impian yang sia-sia jika diupayakan sungguh-sungguh. Kerja keras, pantang menyerah dan percaya kebesaran Tuhan menjadi kunci mewujudkan mimpi. Jerome Polin Sijabat, penulis Mantappu Jiwa, kelahiran Jakarta 21 tahun silam, ini sukses memperoleh beasiswa penuh program Mitsui Bussan di Universitas Waseda, Jepang, Jurusan Matematika Terapan.

Buku ini dibuka dengan kisah masa-masa sekolah penulis ketika ber­sekolah swasta di Surabaya. Ia terbiasa bergaul dengan teman-temannya yang berasal dari kalangan menengah atas yang membahas serunya liburan di luar negeri, seperti Amerika, Hong Kong, Jepang, dan Inggris mengin­spirasinya untuk bermimpi bisa ke Disneyland bersama keluarga. Dia mantap bercita-cita kuliah di luar negeri gratis sekaligus jalan-jalan. Dia sadar, hanya dengan cara itu, bisa se­perti teman-temannya karena bukan dari keluarga kaya.

Sejak SMP, dia mulai rajin riset peluang beasiswa penuh untuk S1 seperti di Nanyang Technological Uni­versity (NTU) dan National University Singapore (NUS) yang memberi pro­gram bebas biaya pendidikan. Pelamar beasiswa harus bernilai sangat bagus. Awalnya, penulis optimistis bisa lolos. Namun, ketika mencoba mengerjakan contoh-contoh soal, ternyata dia sama sekali tak bisa mengerjakan. Materi ujiannya berbeda dengan pelajaran sekolah. Sejak itu, penulis mulai sungguh-sungguh belajar lebih keras lagi (hal 22).

Bagian heroik buku ini ketika penu­lis mengisahkan lika-liku perjuangan mengikuti berkali-kali Olimpiade matematika, farmasi, teknik industri teknik elektro dan yang berhubungan dengan matematika. Itu dilakukannya untuk menyiapkan diri menghadapi tes beasiswa. Dia berkeyakinan, de­ngan banyak latihan akan membuat­nya paham dan terampil mengerjakan pelajaran-pelajaran sulit, meski harus menelan kekecewaan karena tak satu pun juara lomba.

Dia kecewa, lelah, dan frustrasi. Tapi teringat, jika berhenti mengikuti lomba, selamanya tak punya kesem­patan menang (hal 27). Tes beasiswa NUS dia lancar mengerjakan soal matematika dan bahasa Inggris, tapi tidak untuk fisika. Dia hanya menggu­nakan feeling (hal 32).

Perjuangan mendapat beasiswa masih berlanjut ketika mengikuti tes Mitsui Bussan. Kegagalan demi kega­galan tidak membuatnya menyerah. Dari ribuan pendaftar, akan diambil dua terpilih penerima beasiswa. Jadi, misalnya ada seribu pendaftar bea­siswa, peluangnya 2 per 1.000 atau 0,2 persen saja (hal 45).

Penulis menceritakan secara detail usahanya mengikuti seleksi beasiswa. Seperti untuk tes kesehatan perlu menjaga makan dan berolahraga. Un­tuk tes psikologi, mencari informasi contoh-contoh soal dari buku, latihan di internet, YouTube, dan sumber lainnya (hal 53). Buku ini dilengkapi sejumlah tips mengerjakan soal-soal matematika, menghadapi tes wawan­cara, dan menyiapkan mental ketika bertarung di tes beasiswa.

Buku ini bisa jadi panduan pem­baca yang ingin mengikuti jejaknya. Ada pula kata-kata inspiratif dan ilus­trasi lucu serta pengalaman memulai hidup di Jepang. Manusia akan terus menghadapi masalah. Kegagalan demi kegagalan bukan pertanda buruk.

Dia gagal belajar gratis di Singapu­ra, tapi malah lolos ke Negeri Sakura. Penulis menyebut kesuksesan itu ibarat bagian gunung es yang terlihat di atas permukaan. Sedangkan kega­galan, usaha, kerja keras, dan doa ba­gian yang tidak terlihat, tapi sebenar­nya bagian itulah yang paling krusial untuk menopang bagian gunung es yang terlihat (hal 166). Diresensi Yeti Kartikasari, Alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Klik untuk print artikel

View Comments

Agustina Purwantini
Rabu 11/9/2019 | 11:05
Wah, ini buku keren. Sangat menginspirasi dan memotivasi kaum muda. Terkhusus yang ingin mendapatkan beasiswa ke LN.

Submit a Comment