Koran Jakarta | June 22 2018
No Comments

Jangan Sepelekan Gelas di Pinggir Meja, Apalagi Bom

Jangan Sepelekan Gelas di Pinggir Meja, Apalagi Bom

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Rombongan wakil rakyat daerah, anggota DPRD Bayuwangi, Jawa Timur, bersiap ke Jakarta, Rabu kemarin (23/5/18), naik Garuda nomor penerbangan 625, siang hari.

Sesuai prosedur naik pesawat, di bandara calon penumpang diperiksa, juga barang bawaannya. Basuki Rachmad lolos dan dinyatakan clear di pemeriksaan barang.

Tapi di sini masalah itu bermula. Ketua DPC Partai Hanura ini memberi informasi bahwa koper Ibu Riefa berisi bahan peledak.

Penjelasan ini diulangi tiga kali atas pertanyaan petugas keamanan. Bahkan menyebutkan bahan peledak itu adalah bom.

Petugas mengingatkan untuk tidak becanda, tapi jawabannya suara keras, memarahi petugas. Urusan menjadi panjang karena wakil rakyat ini tak diperkenankan naik pesawat.

Tapi nekat menerobos bus dan masuk ke dalam peswat. Di dalam kabin, keributan terjadi dan membesar karena anggota DPRD yang lain, dari H Nauval Badri yang juga ketua DPC Partai Gerindra Banyuwangi, mengatakan tasnya berisi bom.

Dua orang ini dinyatakan tak laik terbang. Dipaksa turun dari pesawat dan masih diperiksa. Wakil rakyat ini di tengah pemeriksaan sempat ngeles, sempat mlipir, mengelak dengan mengatakan yang dimaksudkan bahan peledak itu korek gas, juga parfum.

Juga mengatakan tak tahu aturan ngomong soal bom. Apa pun juga cara ngelesnya, agaknya sebagai wakil rakyat, keduanya dinyatakan tidak layak terbang. Berbahaya, membahayakan penumpang lain.

Sungguh perbuatan yang tidak layak untuk tidak mengatakan terlalu sombong untuk melakukan kebodohan. Sebagai ketua DPC, sebagai wakil rakyat terpilih, melakukan hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain, meremehkan petugas, soal keselamatan.

Soal bom bukan soal main-main dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Semua informasi tentang itu telah menggema terus, sehingga tak ada alasan seorang wakil rakyat tak mengetahui berita dan bahaya bom, misalnya.

Kesaalahan fatal dua wakil rakyat itu bukan karena bercanda, sesuatu yang luwes dalam pergaulan kita, melainkan karena meremehkan kejadian bom dan terorisme, merendahkan petugas keamanan yang mengurusi dan bertanggung jawab dengan segala konsekuensinya, menilai dirinya istimewa dan kebal aturan.

Sesuatu yang berbahaya, dan layak diperiksa lebih jauh.Sesuatu yang berbahaya menjadi lebih berbahaya kalau dianggap tidak berbahaya.

Demikian juga peristiwa pemboman, atau korupsi, atau narkoba, atau kejahatan seksual. Dengan menganggap peristiwa biasa, dibecandakan, dianggap sepele, akan mengurangi kewaspadaan.

Lama-lama menganggap peristiwa pemboman adalah hal biasa. Ini yang menjadikan lebih bahaya. Itu sebabnya sikap waspada, sikap hati-hati, selalu ditekankan, selalu diingatkan.

“Hati-hati di jalan, TTDJ” adalah ungkapan agar berhatihati, selalu, agar tetap waspada. Nasihat nenek moyang kita: kalau melihat gelas di pinggir meja, tengahkan.

Jangan dibiarkan, karena mudah jatuh. Dengan memindahkan ke tengah, gelas menjadi lebih aman kalau ada getaran yang meminggirkan.

Apalagi ini bukan gelas, melainkan bom. Dua orang wakil rakyat itu bukan hanya tak laik terbang, melainkan tak laik menjadi wakil rakyat daerah mana pun

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment