Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments

Jangan Diamkan Pelecehan Seksual

Jangan Diamkan Pelecehan Seksual

Foto : dok: komunitas sehati
A   A   A   Pengaturan Font

Komunitas SEHATI mengajak agar masyarakat melawan semua tindakan pelecehan yang terjadi di transportasi maupun jalan umum.

Pelecehan seksual belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat sebagai kejahatan dan perbuatan tidak bermoral. Sebagian masyarakat menganggap pelecehan seksual adalah hal biasa saja. Karena itu, dengan fenomena yang meresahkan ini, komunitas SEHATI mengajak agar masyarakat melawan terhadap semua tindakan pelecehan yang terjadi di transportasi maupun jalan umum.

Neng…neng… sini dong.. godain kita dong, menjadi panggilan menggoda bernuansa melecehkan yang kerap dilontarkan laki-laki iseng untuk perempuan dianggap cantik maupun seksi di jalan umum. Panggilan tersebut kadang dianggap wajar bahkan tak jarang menjadi candaan.

Perempuan yang dituju tidak bisa berbuat banyak, biasanya berlalu diam atau paling-paling bermuka masam. Jarang dari mereka yang melakukan perlawanan. Sedangkan, lingkungan sekitar tidak terlalu menggubris karena dianggap sebagai kejadian biasa. Padahal tindakan yang dianggap biasa dapat membuat perempuan yang menjadi obyek merasa tidak nyaman .

Ada sisi dari dirinya yang merasa terganggu. “Alhasil, kalau mau menuju ke suatu tempat, dia memilih memutar jalan terlebih dahulu untuk menghindari gangguan tersebut,” ujar Raisha Adistya Pramita, 20, Mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia yang ditemui di @amerika, Jakarta, Rabu (6/6) sore. Banyak yang kurang memahami bahwa godaan-godaan yang terjadi di jalanan bagian dari pelecehan seksual.

Perilaku pendekatan yang terkait dengan seks yang diinginkan. Masyarakat menganggap tindakan tersebut wajar hingga merasa tidak perlu mendapat peringatan dari lingkungan sekitar. SEHATI yang merupakan gerakan melawan pelecehan seksual berada di bawah nauangan Departemen Sosial Masyarakat, Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik, Universitas Indonesia berupaya menyadarkan pelecehan seksual yang terjadi di Commuter Line (KRL) dan jalanan.

Mereka beranggapan dua wilayah tersebut rentan terjadinya tindak pelecehan seksual. Di jam-jam sibuk, KRL yang padat penumpang memaksa penumpang satu dengan lainnya berdiri saling berhimpitan. Kondisi tersebut memungkinkan orang saling bergesek satu sama lain selama perjalanan.

Jalanan pun tak kalah rentan dengan tindakan tersebut, banyaknya orang berlalu lalang membuat orang iseng bebas melontarkan ungkapan-ungkapan yang mengarah pada tindakan pelecehan seksual. “Kami melihat banyak tindakan pelecehan seksual di area ini,” ujar Syafrie Renaldo, 20, Project Officer SEHATI berdasarkan survey yang dilakukan bersama temantemannya. Untuk itu, SEHATI berupaya mengajak masyarakat untuk sadar terhadap tindakan pelecehan sesual di sekitarnya.

Sehingga, mereka tidak diam jika terjadi tindakan pelecehan seksual. Selain itu, korban yang biasanya lebih banyak diam diajak untuk berani bersuara. Selama 2018, SEHATI memiliki kegiatan-kegiatan yang bersifat kampanye bahkan turun ke lapangan langsung untuk mengedukasi pelecehan seksual yang terjadi di masyarakat. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain Gede Deh (berupa galeri seni), Seperjuangan Sehati (propaganda melalui media sosial), Dalang Pesek Jalan Kelitik (Propaganda langsung di jalanan dan KRL) dan Kita Sehati (latihan beladiri).

Kegiatan tersebut akan dilakukan oleh volunteer SEHATI yang terbuka untuk umum. Mereka dapat menjadi bagian Campaigner yang berhubungan dengan kampanye maupun Fighters yang melakukan propaganda langssung di KRL maupuan jalanan. Keduanya tidak memiliki batasan ketat, tapi para volunteer dapat bergabung sebagai Campaigner maupun Fighters untuk melawan tindakan pelecehan seksual di masyaratkat. din/E-6

Masih Dianggap Wajar dan Biasa

Kasus pelecehan seksual yang dialami penyanyi Via Vallen belum sepenuhnya reda. Kasus tersebut bermula dari pedangdut Sidoarjo tersebut menggugah instagram story-nya yang bercerita dirinya mengalami pelecehan seksual oleh pesepak bola terkenal Indonesia. Bahkan, ia mengunggah percakapannya dengan pesepak bola melalui DM Instagram. Sayangnya, banyak kalangan yang justru menindas sikapnya tersebut.

Bahkan, respon tersebut justru datang dari sesama perempuan yang menganggap tindakan Via terlalu lebay. Mengingat, Via dan pelaku merupakan kalangan yang dikenal publik sehingga unggahannya dianggap untuk mencari ketenaran.

Raisha Adistya Pramita, 20, Kepala Departemen Sosial Masyarakat, Himpunan Mahasiwa Ilmu Politik (HMIP), Universitas Indonesia merasa miris dengan kondisi tersebut. Karena, masyarakat masih menganggap enteng prilaku pelecehan seksual. “Yaelah segitu doang. Apaan sih lo Caper,” ujar dia menirukan beberapa komentar tentang unggah Via Vallen.

“Apalagi yang mengganggap Caper itu dari kalangan perempuan, ini agak ironi,” ujar dia. Harusnya, sesama perempuan lebih bisa merasakan kalau ada perempuan lain yang dilecehkan secara seksual. “Mereka masih menganggap enteng, ini yang membuat pelecehan seksual sekecl apapun diwajarkan,” ujar dia.

Hal tersebut menjadi salah satu tolak ukur, bahwa kesadaran masyarakat terhadap pelecehan seksual masih tergolong minim. Mereka masih menganggap bahwa pelecehan seksual bukan persoalan besar. Padahal, pelecehan seksual akan berdampak besar, terutama untuk para korbannya.

Kegiatan sehari-hari para korban pelecehan seksual akan terganggu. Misalnya, perempuan yang kerap mendapatkan cat calling seperti dipanggil neng oleh orang yang tidak dikenal di jalanan, lama kelamaan tidak akan mampu mengekspresikan dirinya di tempat umum, seperti menggunaan baju yang disukainya. Kondisi lainnya, ia akan kesulitan mengakses jalanan yang biasa dilewati karena ada rasa takut mendapatkan cat calling kembali.

Panggilan seperti nengdari orang yang tidak dikenal akan mengganggu dan membuat perempuat tersebut merasa di pojokkan dan direndahkan.

Bersama SEHATI, ia turut mempropagandakan pentingnya pemahaman dan kesadaran pelecehan seksual. Supaya, masyarakat tidak menganggap tindakan tersebut sebagai tindakan biasa namun perlu pengawasan dari mereka. Harapannya masyarakat tidak membiarkan pelecehan seksual merajalela dan pelaku menjadi jera. din/E-6

Perlu Kebersamaan Memerangi Pelaku Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual bukan sekadar isapan jempol semata. Tindakan tersebut secara terang-terangan ada di sekitar masyarakat. Sudah sewajarnya, jika masyarakat saling bahu membahu untuk memerangi tindak pelaku pelecehan seksual. Upaya tersebut tidak hanya untuk mengurangi korban melainkan untuk membantu korban saat tindakan tersebut terjadi. Karena kebanyakan, korban hanya mampu diam ketika mengalami tindakan tersebut. Seperti beberapa status yang termuat dari laman line.

Florentina Dwiastuti Setyaningsih, 18, penanggung jawab galeri SEHATI membaca sejumlah pesan yang bermunculan di line. Salah satunya pesan yang menceritakan laki-laki di KRL yang menggesekkan tubuhnya ke tubuh perempuan di depannya. Perempuan tersebut hanya bisa diam tidak bisa berbuat lain.Saat turun KRL, perempuan tersebut hanya mampu menangis. Wanita yang biasa disapa Florentina memilih mengambil sikap ketika ada laki-laki yang mengganggu dirinya, seperti cat calling.

“Biasanya, aku pelototin aja atau aku tanya langsung,” ujar dia yang sewaktu kecil pernah dicium tiba-tiba oleh penjual perkakas rumah tangga. Dengan cara tersebut, para pelaku lebih memilih mundur dan unrung untuk melakukan pelecehan seksual kepada korban yang telah diincarnya. Sementara Syafrie Renaldo, 20, Project Officer SEHATI memilih mendistractpihak yang ingin melakukan pelecehan seksual.

Seperti yang dilakukan ketika berada di KRL. Saat melihat laki-laki yang akan menempelkan tubuhnya pada wanita yang berada di depannya. Ia dengan sengaja melewati ruang antara wanita dan laki-laki tadi. “Sehingga, laki-laki tadi tidak jadi menempelkan tubuhnya ke perempuan,” ujar dia. Cara tersebut dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya pelecehan seksual terutama di sarana transportassi yang umumnya penuh sesak, terutama saat jam pulang dan berangkat kantor.

Laki-laki yang biasa disapa Edo tersebut juga tidak keberatan jika selama di KRL, dia selalu mencermati setiap tingkah laku penumpang. Tujuannya tidak lain untuk menghindarkan penumpang yang akan melakukan pelecehan seksual terhadap penumpang lainnya. Walaupun tergolong kecil, upaya-upaya tersebut dapat menghindarkan pihak yang ingin melakukan pelecehan seksual. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment