Koran Jakarta | August 22 2018
No Comments

Jalur Benar agar Tenar

Jalur Benar agar Tenar

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Jalur untuk cepat tenar terbuka lebar. Bisa lewat mana saja: kebetulan atau keberuntungan, atau lewat jalur audisi, sayembara, festival, atau pencarian bakat yang dilakukan secara berkala.

Bahkan tingkat nasional, regional, atau internasional yang bisa diikuti oleh siapa saja. Itulah hakikat “sayembara”:terbuka lebar selebar-lebarnya untuk ikut—dan menang.

Sekadar mengingatkan, nama besar artis legendaris seperti Titiek Puspa—atau Hetty Koes Endang, muncul dari cara ini, ketika masih dinamai “Bintang Radio”, dan belum dinamai “… got talent”.

Semua terselenggara dalam dinamika yang saling menguntungkan. Peserta menemukan jalan lebar, kesempatan emas—kadang dalam arti sebenarnya, menerima “bel emas”, sehingga meloncat ke babak akhir.

Langsung tampil tanpa melalui babak penyisihan. Semua diuntungkan karenanya: karena acara itu menjadi tontonan, disiarkan, dan iklan masuk menumpuk. Termasuk salah satu bentuk audisi itu ialah Kontes Dangdut Indonesia atau KDI.

Pencarian bakat penyanyi dangdut ini diorganisir sebuah stasiun televisi, sehingga lebih terjamin kelangsungannya. Namun ada kasus kecil.

Seorang peserta, gadis, 16 tahun, masuk ke ruang audisi disuruh keluar lagi sebelum menyanyi karena dinilai oleh para juri penampilannya kurang layak. Kurang layak bagi juri Benigno, Iis Dahlia, Trie Utami itu adalah kurang menempelkan bedak, lisptik, dan pakaian yang pantas.

Gadis desa itu kehilangan hak untuk dinilai karena keluar dari ruangan testing sebelum menyanyi. Insiden itu sempat membuat heboh, disambar media sosial… dan viral karenanya.

Konon Waode Sofia, nama pelajar itu, sempat didandani dengan baik, dan lolos ke babak berikutnya. Kalau benar demikian adanya, peserta itu telah menjadi bintang, telah menjadi “pusat perhatian”, telah tenar karenanya.

Menang atau kalah di penyisihan, dia akan terus diberitakan. Dan inilah sesungguhnya sisi lain dari jalan tol yang bernama audisi, festival, pencarian bakat, idola atau apapun namanya.

Dalam kasus ini, nama dewan juri di atas yang dirugikan, bahkan ada yang membandingkan dengan sikap artis Anggun C Sasmi—yang juga menjadi juri di tingkat Asia.

Yang menarik dari kasus ini adalah bahwa pencarian bibit unggul di dunia artis—penyanyi, penari, pesulap, pelawak tunggal, pemain akrobat, atau keahlian lain,-- berlangsung transparan, terbuka, dan melibatkan masyarakat untuk memberikan penilaian.

Dunia panggung hiburan lebih bisa dinikmati dibanding dunia politik, di mana kader-kader partai justru terpinggirkan, dan nama-nama artis dimajukan sebagai calon wakil partai politik. Ketenaran menjadi pesohor, tetap diperhitungkan.

Tetap menjadi modal kuat untuk dipilih, dibandingkan yang setia kepada partai dan atau dari tokoh profesional sekalipun. Nama tenar tetap diincar, karena hasilnya bisa dikatakan seketika bisa dinikmati:

menjadi juara, makin tenar lagi, dan bisa saja menjadi wakil rakyat, sambil terus meneruskan hobi yang membuat tenar. Proses terus berlangsung dan tak bisa dihentikan oleh selera juri yang sesaat.

Yang menilai audisi penyanyi dari pakaian yang dikenakan, atau dari pemerah bibir, yang tak ada kaitannya dengan suara. Kontes semacam ini menilai peserta, tapi agaknya juga nama juri.

Ada yang mengatakan bahwa kasus ini setingan belaka, rekayasa, agar rating acara naik. Kalaupun benar begitu, tiga juri ini yang sangat-sangat dirugikan imajinya.

Diruntuhkan dalam imaji sebagai tokoh dangdut yang buruk. Jangan lupa, bahkan kelas pemain bola termahal dunia, elite tanpa tanding, Neymar Jr, pun jadi ledekan dunia ketika pura-pura kesakitan. Karena sesungguhnyalah, juri akhir adalah: tetap masyarakat.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment