Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments
Antisipasi Resesi I Jangan Sampai Kasus Asuransi Berdampak Sistemik

Jaga Kredibilitas Sektor Keuangan untuk Cegah “Capital Outflow”

Jaga Kredibilitas Sektor Keuangan untuk Cegah “Capital Outflow”

Foto : Sumber: Laporan Keuangan Perusahaan, Keterangan OJK
A   A   A   Pengaturan Font
Bank Dunia sebut asuransi Bumiputera dan Jiwasraya mungkin menjadi tidak likuid dan butuh perhatian segera.

 

JAKARTA – Sejumlah kalangan mengingat­kan agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) segera merespons dan menyelesaikan kasus gagal bayar dua perusahaan asuransi jiwa nasional, yakni Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 dan PT Asuransi Jiwasraya (Persero), se­perti yang dilaporkan oleh Bank Dunia.

Respons dan penyelesaian cepat diperlukan untuk menjaga kredibilitas sektor keuangan Indonesia, sehingga kasus krisis likuiditas asu­ransi BUMN itu tidak berdampak sistemik ke sektor keuangan lain. Ini sekaligus juga sebagai upaya mempertahankan kepercayaan investor asing agar tidak terjadi pelarian modal keluar atau capital outflow.

Peneliti ekonomi Indef, Bhima Yudhistira, mengemukakan jika OJK tidak segera meres­pons maka kasus itu bisa berdampak sistemik ke sektor keuangan lain, dan menyebabkan ketidakpercayaan kepada BUMN.

Selain itu, lanjut dia, bakal berpengaruh pula pada penurunan peringkat surat utang korpo­rasi di Indonesia. Bahkan, investor asing tidak tertutup kemungkinan akan melakukan aksi jual di pasar keuangan sehingga memicu capital outflow yang mengguncang stabilitas keuangan.

“OJK jangan tinggal diam. Beri waktu, mi­salnya enam bulan, untuk selesaikan masalah atau bagian penanganan asuransi diminta un­tuk mundur karena gagal mengurus Jiwasraya dan Bumiputera,” tukas Bhima, di Jakarta, Se­lasa (10/9).

Menurut Bhima, jika kondisi likuiditas asu­ransi yang bermasalah itu tidak bisa dibenahi lagi maka opsi terakhir harus dibuka. Salah satu opsinya adalah likuidasi, artinya pihak asuransi harus rela menjual aset untuk membayar klaim yang tertunda.

Opsi lainnya, pemerintah bisa menyuntik­kan Penyertaan Modal Negara (PMN) ke asu­ransi BUMN yang bermasalah itu. “Setelah da­pat kucuran PMN untuk mem-bailout asuransi gagal bayar tadi, harus ada pengawasan yang lebih ketat. Kalau perlu direksi dua asuransi tadi dirombak dan diisi profesional yang ber­pengalaman melakukan recovery aset berma­salah,” papar Bhima.

Sebelumnya, dalam laporan bertajuk Global Economic Risks and Implications for Indonesia yang dirilis September 2019, Bank Dunia me­ngatakan Indonesia harus menjaga kredibilitas sistem keuangan dengan cara mengatasi ke­lemahan sektor asuransi.

Masalah yang muncul saat ini adalah dua perusahaan asuransi jiwa nasional terbesar, yakni Asuransi Jiwasraya dan AJB Bumiputera 1912, tidak mampu memenuhi kewajiban atau gagal bayar.

“Perusahaan tersebut mungkin menjadi ti­dak likuid dan membutukan perhatian segera,” tulis laporan Bank Dunia.

Dalam kasus gagal bayar tersebut, Bank Dunia memperkirakan ada tujuh juta orang dengan lebih dari 18 juta polis yang terlibat. Mayoritas merupakan masyarakat dengan pen­dapatan rendah dan menengah.

Sementara itu, kasus gagal bayar Jiwasraya terkuak pada tahun lalu. Perusahaan asuransi jiwa BUMN ini tercatat menunda pembayaran klaim sebesar 802 miliar rupiah kepada 711 pe­megang polisnya.

Untuk memperbaikinya, Bank Dunia me­nyarankan agar ada analisis mendetail terhadap penilaian risiko dalam asuransi. Berdasarkan penilaian, perbaikan maupun resolusi harus di­laksanakan sesuai urutan aturan yang berlaku.

Harus Dicermati

Ekonom Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, mengatakan setiap laporan Bank Dunia harus dicermati dengan hati-hati sekaligus meningkatkan kewaspada­an. Laporan itu mesti dilanjutkan dengan audit penuh, transparan, dan kredibel. Apalagi jika menyangkut BUMN yang usianya sudah meng­iringi berdirinya negara ini.

“Bumiputera itu perusahaan tua yang aset­nya sangat besar, luar biasa besar. Itu mesti dicek oleh lembaga yang sangat kredibel, ja­ngan sampai ada moral hazard dalam setiap laporan,” ujar dia. ers/YK/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment