Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments

Inspirasi Kepemimpinan Mendiang Habibie

Inspirasi Kepemimpinan Mendiang Habibie
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : BJ Habibie Si Jenius
Penulis : Jonar TH Situmorang
Penerbit : Ircisod
Terbit : 2017
Tebal : 200 Halaman

Mendiang BJ Habibie telah meletakkan dasar demokrasi. Buku ini bermuatan kisah-kisah pertumbuhan diri, perjuangan, dan kepemimpinan inspiratifnya. Se­lama menjadi Presiden, Habibie mem­buat banyak terobosan, di antaranya kebebasan berpendapat, kebebasan pers, kebebasan berkelompok, dan pemilu terbuka.

Habibie selalu berharap dapat menjadi pemimpin jujur, terbuka, dan mampu menggunakan ilmu untuk kesejahteraan bangsa. Meski hanya singkat menjadi presiden, Habibie meninggalkan jejak emas.

Selain berhasil mengeluarkan In­donesia dari krisis, Habibie juga men­dorong semangat pemuda berkarya bagi negaranya. Meski mengenyam pendidikan tinggi di Jerman, dia tetap mengabdi untuk Tanah Air.

Kepemimpinannya bukanlah sebuah jabatan yang lahir dari ru­ang hampa. Sejak muda, dia gemar membaca dan pejuang gigih. Habibie membiayai pendidikan demi meraih gelar doktor.

Dalam karier dan kepemimpinan, Habibie selalu bersikap profesional, tuntas, dan menjalin hubungan yang positif. Maka, mudah bag­inya mendapat pekerjaan dan dipilih sebagai pemimpin.

Sumpah setia kepada Tanah Air menjadi visi besarnya. Semangat­nya selalu bangkit setiap kali ingat sumpah, andai menghadapi tan­tangan. Sembilan belas tahun di Jerman, tidak menggugurkan sedikit pun rasa cintanya terhadap Indonesia (halaman 102). Rudy mulai bekerja untuk Indonesia saat dipulangkan Presiden Soeharto yang memberi setumpuk jabatan.

Uniknya, hubungan Habibie de­ngan Soeharto murni prosedural dan profesional. Soeharto lebih mem­percayai untuk memimpin karena prestasi. Hubungan keduanya terus terjalin karena Habibie fokus pada tugas. Dia tidak pernah mengkritik kepentingan-kepentingan Soeharto dan keluarga. Prestasi dan daya ke­pemimpinan Habibie mendorong Soeharto memberi kepercayaan untuk mengontrol sejumlah industri strategis negara seperti PT Pindad, PAL, INKA, Dahana, dan IPTN.

Habibie kembali ke Tanah Air bukan karena materi, tapi ingin mem­bangun negara. Dari segi penghasilan materi, gaji sebagai menristek dan Ketua BPPT tidak sebanding gajinya di Jerman (halaman 117). Dalam men­jalankan tugas tidak pernah berpikir pintas atau mental short cut. Dia selalu menganalisis kondisi riil, lalu mencari solusi yang mungkin ditempuh.

Habibie juga menjalankan kepe­mimpinan berdasar nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) se­laras dengan keimanan dan ketakwaan (imtak) yang populer pada dekade 1990-an. Dalam perkembangannya, prinsip kepemimpinannya dikenal “mengembangkan ilmu yang amaliah dan ilmiah”

Ketika Habibie berhasil menduduki jabatan penting dan berprestasi, beberapa pihak memandang sinis. Hal itu tak pernah membuatnya marah. Kritikan dan prasangka buruk justru menjadi motivasi untuk melakukan yang terbaik bagi bangsa. Pada ma­sanya, Presiden ketiga Indonesia ini dikenal sebagai ilmuwan yang mampu menyatukan perbedaan. Mantan Men­teri Lingkungan Hidup, Emil Salim, menilai, “Habibie merupakan faktor pengintegrasi. Ya, di antara tokoh yang diharapkan menjadi pemersatu cendekiawan muslim di Indonesia ketika itu, hanya Habibie yang recom­mended” (halaman 139).”

Pria kelahiran Parepare ini memi­liki wawasan kebangsaan luas yang dibangun dari budaya baca sejak kecil, sehingga kaya pengetahuan. Di sisi lain, kecakapannya dalam berbahasa Inggris dan pengalamannya di dunia internasional membuat suami Ainun tersebut memiliki akses forum-forum internasional.

Buku ini mengajak pembaca mene­mukan betapa Habibie tumbuh di atas kebiasaan-kebiasaan. Ia juga meru­pakan pemimpin yang memiliki seni menyatukan, memahami, dan menye­lesaikan masalah dengan jenius. Diresensi Nurul Lathiffah, SPsi, Mahasiswi Magister Psikologi UMBY Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment