Injeksi Likuiditas Bisa Berlanjut | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments
Stabilitas Rupiah l Sepanjang Maret Ini, “Capital Outflow” Tercatat Sebesar Rp104,7 Triliun

Injeksi Likuiditas Bisa Berlanjut

Injeksi Likuiditas Bisa Berlanjut

Foto : ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia
A   A   A   Pengaturan Font
BI membuka peluang melanjutkan injeksi likuiditas di pasar keuangan melalui koordinasi dengan pemerintah dan KSSK jika terjadi capital reversal yang bisa memperlemah nilai tukar rupiah.

JAKARTA – Bank Indonsia (BI) menginjeksi pasar keuangan hampir 300 triliun rupiah lebih atau tepatnya 298 triliun rupiah selama sentimen negatif wabah Covid-19 merebak yang menimbulkan kepanikan di pasar keuangan global. Injeksi likuiditas itu sebagai bentuk intervensi otoritas moneter untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dalam video conference di Jakarta, Selasa (24/3), menyatakan pihaknya telah memperkuat semua instrumen yang ada di BI untuk memperkuat nilai tukar rupiah. “Kami juga melakukan intervensi di pasar spot, DNDF maupun melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” katanya.

Dengan injeksi sekitar 300 triliun rupiah tersebut, dia meyakini likuiditas di pasar keuangan sudah lebih dari cukup. Dijelaskannya, intervensi terbesar BI dilakukan melalui pembelian SBN di pasar sekunder yang mencapai 168 triliun rupiah atau lebih dari setengah likuiditas yang digelontorkan. Bank sentral juga melakukan obligasi repo yang dilepaskan perbankan senilai 55 triliun rupiah dan penurunan giro wajib minimum (GWM) awal tahun dan yang akan berlaku pada April 2020 mencapai 75 triliun rupiah.

“Itu langkah yang kami lakukan, tentu saja langkah ini akan terus kami lakukan berkoordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK),” katanya.

Lebih lanjut, Perry menjelaskan intervensi dilakukan karena terjadi pembalikan arus modal asing (capital reversal) akibat kepanikan investor global dari dampak wabah Covid-19. Bank sentral mencatat, total modal asing yang keluar dari Indonesia hingga Maret 2020 atau secara year to date/ ytd mencapai 125,2 triliun rupiah. Sebagian besar dari dana yang keluar itu terjadi pada Maret ini sebesar 104,7 triliun rupiah.

Aliran dana asing yang keluar itu dari berbagai instrumen  antara lain Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Negara (SBN) obligasi korporasi dan saham. Instrumen investasi yang paling banyak dilepas asing dari pasar keuangan selama akhir tahun 2019 hingga Maret 2020 (year to date) yaitu SBN yang tercatat sebesar 112 triliun rupiah dan saham sebesar 9,2 triliun rupiah.

 

Pasokan Valas

 

Perry dalam kesempatan itu juga menyampaikan terima kasih kepada para eksportir yang sudah memasok hasil penerimaan devisanya ke dalam negeri sehingga menambah ketersediaan valuta asing (valas) khususnya dollar AS, sehingga kurs rupiah pada Selasa (24/3) relatif stabil.

Menurut dia, bank sentral mencermati penawaran dan permintaan sudah berjalan baik di pasar valas sehingga mendorong nilai tukar rupiah cukup stabil. “Kami pastikan BI terus berada di pasar, memantau secara baik, dan mengintervensi atau stabilisasi nilai tukar yang diperlukan,”  katanya.

Lebih lanjut, dia menyampaikan inflasi berdasarkan hasil survei BI dari pekan I hingga III pada Maret 2020, tetap rendah di level 0,11 persen secara bulanan, sementara secara tahunan atau year on year (yoy) berada di level 2,48 persen.

“Ini mengindikasikan bahwa pemerintah sudah berupaya maksimal menjaga ketersediaan dan distribusi barang/ jasa tetap berjalan dengan baik,” kata Perry.

 

bud/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment