Koran Jakarta | November 20 2018
No Comments
Kinerja Ekonomi - Pertumbuhan Impor Jauh Melebihi Ekspor

Inflasi dari Barang Impor Ancam Laju Pertumbuhan

Inflasi dari Barang Impor Ancam Laju Pertumbuhan

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>>Hati-hati, pelemahan rupiah berpeluang besar menciptakan imported inflation.

>>Pertumbuhan berkualitas sulit tercapai karena abaikan konsep ekonomi kerakyatan.

 

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2018 secara tahunan (year-on-year/YoY) mencapai 5,27 persen atau lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang sebesar 5,06 persen.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi ke depan akan menghadapi sejumlah tantangan berat, seperti pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga, dan dampak perang dagang Amerika Serikat (AS)-Tiongkok.

Sejumlah kalangan menilai pelemahan rupiah yang konsisten hingga mencapai lebih dari 6 persen sepanjang tahun ini merupakan ancaman yang patut diwaspadai.

Sebab, pelemahan rupiah bakal memicu inflasi akibat kenaikan harga barang impor. Guru Besar dan Ketua Pusat Kajian Ekonomi Kerakyatan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Munawar Ismail, mengatakan inflasi bakal melemahkan konsumsi masyarakat yang selama ini menopang lebih dari 50 persen pertumbuhan ekonomi.

“Pelemahan rupiah bisa mengancam laju pertumbuhan ekonomi, karena berpotensi menekan konsumsi masyarakat,” ujar dia, ketika dihubungi, Senin (6/8).

Munawar menjelaskan kebergantungan yang tinggi terhadap impor, terutama barang konsumsi dan bahan baku industri, dalam kondisi rupiah yang melemah ujung-ujungnya akan meningkatkan harga jual di level konsumen.

Akibatnya, inflasi melambung dan menekan daya beli masyarakat. Pada Mei 2018, inflasi barang-barang impor melonjak 0,78 persen secara bulanan (month-to-month) atau 8,48 persen secara YoY.

Hal senada dikemukakan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. Dia pun mewaspadai adanya imported inflation atau inflasi yang berasal dari luar negeri pada semester II-2018 sebagai akibat pelemahan rupiah.

“Kita tentu harus hati-hati melihat depresiasi rupiah yang biasanya terjemahannya adalah imported inflation, ini nanti kita lihat di semester II,” kata Sri Mulyani, Senin.

Inflasi yang berasal dari luar negeri disebabkan oleh kenaikan harga di luar negeri atau depresiasi nilai tukar mata uang. Ketika harga impor meningkat, harga barang domestik yang menggunakan impor sebagai bahan mentah juga turut meningkat sehingga menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum.

Menkeu mengatakan pemerintah akan tetap menjaga laju inflasi stabil pada 3,5 persen. Hal itu ditempuh dengan tetap menjaga dari sisi pasokan makanan dan terutama untuk barang-barang yang harganya diatur pemerintah atau administered prices.

“Selama inflasi bisa kita jaga di 3,5 persen, kita akan tetap melihat konsumsi akan bisa bertahan cukup baik,” ujar Sri Mulyani. Menanggapi pertumbuhan ekonomi itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, memaparkan di kuartal kedua tahun ini, secara YoY, seluruh lapangan usaha tumbuh positif.

Dia merinci sektor yang berkontribusi besar adalah industri pengolahan yang tumbuh 3,97 persen. “Dari sektor usaha, sumbernya masih berasal dari industri pengolahan lalu perdagangan, pertanian, dan konstruksi.

Industri pengolahan tumbuh paling tinggi 0,84 persen,” jelas Suhariyanto. Dari sisi pengeluaran, konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,71 persen.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,14 persen. Meski demikian, ekspor tumbuh 7,70 persen lebih kecil dari pertumbuhan impor yang sebesar 15,17 persen.

Ekonomi Kerakyatan

Terkait dengan pertumbuhan berkualitas, Munawar mengatakan Indonesia sulit mencapai pertumbuhan ekonomi berkualitas karena pemerintah belum benar-benar menerapkan konsep ekonomi kerakyatan.

Tanpa konsep ekonomi kerakyatan yang mensyaratkan semua orang memiliki sumber daya maka kesenjangan akan tetap ada, dan pertumbuhan berkualitas tidak akan tercapai. “Ekonomi kerakyatan hanya di atas kertas.

Di lapangan, parsialisasi rakyat kecil semakin luas,” kata dia. Ekonom Core, Piter Abdullah, menjelaskan pertumbuhan berkualitas adalah bagaimana pertumbuhan itu berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja, dan mengentaskan kemiskinan.

Menurut dia, kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mengandalkan konsumsi, belum seperti yang diharapkan.

“Contohnya, mengurangi kemiskinannya benar-benar mengurangi yang struktural. Kalau sekarang kan hanya memindahkan dari miskin menjadi mendekati miskin,” papar Piter. SB/ahm/Ant/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment