Industri TPT Minta Keringanan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | April 9 2020
No Comments
Stimulus Bisnis I Industri Tekstil Minta Penundaan Pembayaran 50% Tagihan Listrik

Industri TPT Minta Keringanan

Industri TPT Minta Keringanan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Selain kelonggaran pembayaran biaya energi, industri TPT juga meminta perlindungan tarif berupa safeguard untuk produk pakaian guna menghindari kebangkrutan di tengah pelemahan permintaan.

 

JAKARTA – Pelaku usaha industri tekstil dan produk teks­til (TPT) meminta pemerin­tah memberikan insentif guna menghindari keterpurukan bisnis. Meskipun pemerintah tidak menerapkan lockdown da­lam menyikapi pendemi virus korona tipe terbaru Covid-19, namun sektor TPT sangat ter­dampak secara tidak langsung karena permintaan masyarakat turun.

Sekjen Asosiasi Produsen Se­rat dan Benang Filamen Indone­sia (Apsyfi), Redma Gita W, me­minta pemerintah memberikan keringanan penundaan pemba­yaran 50 persen tagihan listrik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk enam bulan ke depan atau April–September mendatang dengan jaminan ci­cilan berupa giro mundur sela­ma 12 bulan.

Redma mengungkapkan kondisi saat ini jauh di luar du­gaan. Karena itu, diperlukan du­kungan, berupa intervensi dari pemerintah agar keadaan ini dapat pulih. “Kami butuh inter­vensi di sektor energi, berikan keringanan penundaan pemba­yaran 50 persen tagihan listrik PLN. Biar untuk enam bulan ke depan,” ungkapnya dalam kon­ferensi persnya di Jakarta, awal pekan ini.

Dijelaskannya, sektor TPT menaungi sekitar tiga juta te­naga kerja dan lebih dari 10 juta orang tanggungan langsung di Indonesia. Menurutnya, keada­an darurat yang mengancam eksistensi industri ini disebab­kan oleh pelemahan konsumsi dalam waktu cepat di tengah pandemi Covid-19 meskipun pemerintah tidak memutuskan isolasi wilayah secara total (lock­down).

Dia menambahkan efek langkah cepat pemerintah membenahi sektor TPT melalui tindakan kuratif berupa perse­tujuan permohonan safeguard ternyata tidak berlangsung lama. Sebab, pendemik Covid- 19 berdampak pada penurunan kembali permintaan secara tajam. Sejumlah komitmen per­mintaan berjalan ditunda atau bahkan dibatalkan.

“Fenomena yang terjadi se­rentak dan dalam skala besar ini akan memberi dampak yang ti­dak menggembirakan terhadap utilisasi industri secara ekstrem yang secara simultan akan ber­dampak pada produktivitas dan siklus ekonomi Industri TPT,” jelasnya.

Selain meminta kelonggaran pembayaran tarif, industri juga meminta diberikan diskon harga listrik sebesar 50 persen untuk waktu beban idle pukul 22:00– 06:00. Tak hanya itu, penurunan harga gas sebesar 6 dollar AS per MMBTU yang sedianya baru mulai 1 April mendatang juga diminta untuk dipercepat.

Penerapan “Safeguard”

Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Rizal Rakhman, menambahkan selain keringan­an sektor energi, industri TPT juga meminta relaksasi lainnya, yakni berupa perlindungan tarif berupa safeguard untuk produk pakaian jadi sebagai upaya lan­jutan harmonisasi tarif dari hulu ke hilir yang diperuntukkan bagi produsen hilir TPT dan industri kecil dan menengah (IKM).

“Hal ini mengingat begitu banyaknya petisioner yang ha­rus dikumpulkan dalam waktu yang sangat singkat. Karena itu, safeguard produk pakaian jadi hanya mungkin diinisiasi oleh pemerintah,” terang Rizal.

Selain itu, Rizal meminta pe­merintah memperketat verifika­si pemberian persetujuan impor TPT agar izin yang diberikan ha­nya benar-benar diperuntukkan sebagai bahan baku industri. Hal itu demi memenuhi kapasi­tas produksi dalam negeri terle­bih dahulu.

“Usulan relaksasi ini kiranya dipertimbangkan demi meng­hindari gelombang PHK (pe­mutusan hubungan kerja) seba­gai dampak kontraksi ekonomi yang terjadi akibat penyebaran Covid-19 ini,” pungkas Rizal. ers/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment