Koran Jakarta | June 18 2019
No Comments

Industri Kecantikan Memasuki Era “Beauty 4.0”

Industri Kecantikan Memasuki Era “Beauty 4.0”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Era digital telah memberi dampak yang besar pada industri estetika secara global. Di industri estetika, fenomena tren timbul karena pengaruh dari perkembangan teknologi dan sosial media.

“Industri 4.0 telah menyeret industri estetika memasuki era Beauty 4.0,” kata Founder dan President Director Miracle Aesthetic Clinic Group, Dokter Lanny Juniarti, Dipl. AAAM, saat memaparkan tren kecantikan dalam acara “Aesthetic Outlook 2019: The Turn-around paradigm of Beauty 4.0” di Madame Delima, Jakarta, Selasa (12/2).

Dokter Lanny menjelaskan, seperti halnya revolusi industri yang berkembang dan mengalami perubahan dari industri 1.0 menuju 4.0, demikian pula beauty industry mengalami revolusi. Pada Beauty 1.0, konsep perawatan fokus hanya pada 1 dimensi saja, yaitu dokter menggunakan apa yang disebut dengan golden ratio. Dan dari sudut pandang dokterlah yang menentukan perawatan yang terbaik bagi pelanggan.

Pada Beauty 2.0, masyarakat menginginkan tampilan wajah dengan perfect look namun tetap memiliki keaslian, versi terbaik dari dirinya, tidak menjadi diri orang lain. Sedangkan era Beauty 3.0 tuntutan masyarakat kian berkembang. Saat itu, tidak hanya sekadar ingin menyempurnakan tampilan wajah namun perawatan kecantikan yang dilakukan dapat meningkatkan rasa percaya diri.

“Saat ini industri kecantikan telah memasuki era Beauty 4.0. Ini terjadi karena era digital sangat mempengaruhi perubahan di Industri kecantikan. Kini, media sosial bukan hanya menciptakan social network, akan tetapi juga akhirnya menyebabkan munculnya Social Beauty,” papar dokter Lanny.

Dokter Lanny menjelaskan Beauty 4.0 tidak lagi fokus pada sudut pandang dokter dan tidak lagi terikat pada sudut pandang dan keinginan individu. Beauty 4.0 juga tidak berorientasi hanya pada 1 atau 2 dimensi, namun multidimensional. “Di era ini kecantikan terikat pada banyak faktor, terkait pada opini orang lain yang menilainya, social awarenesshingga opini publik, yang berorientasi dengan fisik dan emosional individu,” jelas pakar kecantikan lulusan UGM Yogyakarta itu.

Dia kemudian mempertegas bahwa sasaran Beauty 4.0 adalah menyempurnakan tampilan wajah sesuai versi terbaiknya, namun tetap terlihat natural. yzd/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment