Koran Jakarta | April 20 2019
No Comments
Antisipasi Krisis - Investasi Berpotensi Jadi Akselerator Pertumbuhan Ekonomi

Indonesia Jangan Terus Andalkan Konsumsi dari Impor

Indonesia Jangan Terus Andalkan Konsumsi dari Impor

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>>Indonesia perlu memiliki sumber pertumbuhan ekonomi baru, misalnya investasi.

>>Sektor konsumsi sudah menyumbang hampir tiga persen pertumbuhan.

 

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih dari separonya mengandalkan sektor konsumsi dinilai tidak berkelanjutan.

Apalagi, konsumsi tersebut banyak ditopang oleh barang impor, sehingga pertumbuhan cenderung tidak berkualitas dan tidak mampu mengakselerasi menuju pertumbuhan yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, Indonesia dituntut mampu mencari sumber pendapatan baru guna menciptakan pertumbuhan yang produksi dan berkualitas. Sumber pendapatan baru yang potensial mendukung pertumbuhan berkualitas adalah sektor investasi.

Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ahmad Ma’ruf, mengungkapkan dengan sumbangan sekitar 56 persen, maka sektor konsumsi saja sudah memberikan kontribusi hampir tiga persen terhadap pertumbuhan ekonomi yang di kisaran lima persen.

“Masalahnya barang konsumsinya banyak berasal dari impor. Justru yang terjadi bukan pertumbuhan malah penurunan pertumbuhan, tidak produktif. Jadi, bukan masalah konsumsinya, tapi konsumsi kita barang impor.

Lebih baik tumbuh empat persen, tapi bukan dari barang impor, daripada 5,2 persen tapi impor,” papar dia, ketika dihubungi, Minggu (16/9).

Ma’ruf menambahkan, untuk konteks perekonomian Indonesia yang tumbuh di kisaran lima persen, yang terpenting adalah berkualitas. Meskipun, pertumbuhan lebih kecil, tapi kalau komponen pembentuknya lebih banyak dari investasi itu lebih berkualitas.

Apalagi, kalau dibentuk dari investasi dan ekspor itu juga berkualitas. “Dan yang lebih penting lagi pertumbuhan nggak terlalu tinggi, tapi indeks ketimpangan menurun.

Indeks ketimpangan ini menunjukkan proses ekonomi itu tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi pada equality, distribusi keadilan,” jelas dia.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Bambang Brodjonegoro, juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya ditopang konsumsi.

Sebab, konsumsi dinilai hanya memberikan efek pengganda (multiplier effect) ekonomi semata. Namun, tidak bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Bambang mengakui saat ini konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) kuartal II tahun ini mencatat, kontribusi konsumsi rumah tangga sebesar 55,43 persen, dengan pertumbuhan mencapai 5,14 persen. Namun, dia menilai pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh konsumsi tidak berkesinambungan.

Buktinya, pada kuartal II lalu, konsumsi didorong oleh Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji ke-13 Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga bantuan sosial.

Padahal, tidak seluruh periode mengalami momen seperti itu. “Jadi, tak bisa Indonesia mengandalkan konsumsi terus. Perlu ada sumber pertumbuhan baru,” jelas Bambang.

Sumber Pertumbuhan

Menurut dia, salah satu sumber pertumbuhan yang bisa diandalkan Indonesia adalah investasi. Terlebih, selama ini tren pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) antara kuartal III- 2017 hingga kuartal I-2018 sempat di atas tujuh persen, meski belakangan pertumbuhannya merosot lagi ke angka 5 persen.

Investasi juga dianggap berperan penting sebagai akselerator pertumbuhan ekonomi. Contohnya, Tiongkok dan India yang pertumbuhan ekonominya sempat mencapai di atas 10 persen lantaran investasi yang gila-gilaan.

Ketika investasi masuk akan menciptakan lapangan kerja, sehingga mendorong konsumsi masyarakat. Investasi juga mendorong produktivitas, sehingga ada kemungkinan ekspor neto juga akan terdongkrak.

Jika kedua hal tersebut membaik, pertumbuhan ekonomi besar makin moncer. “Jadi, kalau pertumbuhan saat ini di angka 5,1 persen hingga 5,5 persen itu masih stuck (macet).

Kuncinya ada di investasi,” imbuh Bambang. Seperti dikabarkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 diprediksi hanya mencapai 5,2 persen, dan tahun depan diproyeksikan sebesar 5,3 persen.

Kondisi ini menyebabkan Indonesia makin terperangkap dalam stagnasi pertumbuhan lima persenan, yang telah berlangsung sejak 2014.

Sejumlah kalangan mengkhawatirkan situasi ini bakal membuat Indonesia masuk dalam jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap), atau gagal menjadi negara maju karena tidak mampu mencetak pertumbuhan ekonomi tinggi. YK/ahm/SB/ers/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment