Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments
Perekonomian Dunia

IMF: Perang Dagang Pangkas PDB Global 700 Miliar Dollar AS

IMF: Perang Dagang Pangkas PDB Global 700 Miliar Dollar AS

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON DC – Direk­tur Pelaksana baru Dana Mo­neter Internasional (Interna­tional Monetary Fund/IMF), Kristalina Georgieva, menya­takan perselisihan perdagang­an berdampak pada ekonomi global, yang secara substansial melemahkan aktivitas manu­faktur dan investasi dan me­nahan potensi ekonomi.

“Untuk ekonomi global, efek kumulatif dari konflik perdagangan dapat berarti keru­gian sekitar 700 miliar dol­lar AS pada tahun 2020, atau sekitar 0,8 persen dari PDB (produk domestic bruto),” kata Georgieva pada sebuah acara di kantor pusat IMF, Washing­ton DC, Selasa (8/10), menje­lang Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia pekan depan.

“Sebagai referensi, ini kira-kira seukuran seluruh eko­nomi Swiss,” kata ekonom Bulgaria, yang menggantikan Christine Lagarde dari Pran­cis dan mulai menjabat seba­gai managing director pada 1 Oktober 2019.

Georgieva menambah­kan konflik perdagangan AS-Tiongkok tidak hanya me­ningkatkan biaya langsung pada bisnis dan konsumen, tetapi juga menyebabkan efek sekunder, seperti hilangnya kepercayaan dan reaksi pasar. “Hasilnya jelas. Semua orang kalah dalam perang dagang,” kata Georgieva.

“Jadi kita perlu bekerja sama, sekarang, dan mene­mukan solusi yang langgeng dalam perdagangan.”

Memperhatikan bahwa ekonomi global berada dalam perlambatan tersinkronisasi, ketua baru IMF menyerukan tindakan kebijakan tersink­ronisasi untuk mempercepat pertumbuhan dan memba­ngun ekonomi yang lebih tangguh.

Prioritas kebijakan, kata­nya, termasuk menggunakan kebijakan moneter secara bi­jak dan meningkatkan stabili­tas keuangan, menggunakan perangkat fiskal untuk meme­nuhi tantangan saat ini, me­laksanakan reformasi struk­tural untuk pertumbuhan di masa depan, dan merangkul kerja sama internasional.

Georgieva, yang telah memperjuangkan perang global melawan perubahan iklim, juga mengatakan sa­lah satu prioritas IMF adalah membantu negara-negara ke­tika mereka mengurangi emisi karbon dan menjadi lebih ta­han iklim, mendesak negara-negara untuk mengadopsi harga karbon yang jauh lebih tinggi.

Penelitian baru di IMF me­negaskan bahwa pajak karbon dapat menjadi salah satu alat yang paling kuat dan efisien, kata Georgieva. “Tapi kuncin­ya di sini adalah mengubah sistem pajak, bukan hanya menambahkan pajak baru,” ujar Georgieva.

“Saya yakin bahwa jika kita bekerja sama, memperhati­kan tantangan dan minat satu sama lain, kita dapat mem­berikan masa depan yang le­bih baik untuk semua,” kata­nya. AFP/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment