Koran Jakarta | February 22 2018
No Comments

Ikut Merekonstruksi Virtual Senjata Perang Roma Kuno 

Ikut Merekonstruksi Virtual Senjata Perang Roma Kuno 

Foto : KORAN JAKARTA/CITRA LARASATI
MENJADI "TOUR GUIDE" | Penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan untuk meLanjutkan S2 di Roma, Ahmad Anas Arifin, di sela-sela kuliahnya menjadi tour guide wisatawan, di Vatikan, Minggu (11/2).
A   A   A   Pengaturan Font

Februari 2018 menjadi bu­lan terakhir Ahmad Anas Arifin berada di Roma, Italia. Setelah sejak September 2015, dia resmi menyandang status sebagai mahasiswa di Sapienza University of Rome. Anas mengambil master me­chanical engineering. Jurusan tersebut dipilihnya karena linear dengan S1-nya yang juga teknik mesin di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

“Saya baru saja wisuda, dua pekan lalu, akhir Februari saya berencana pulang ke Indone­sia. Saya pilih teknik mesin ka­rena ini gabungan dari banyak disiplin ilmu, ada matematika, fisika, kimia, manajemen, dan lainnya, jadi seru untuk dipela­jari dan sangat aplikatif di dunia nyata,” kata Anas ketika berbincang dengan wartawan Koran Jakarta, Citra Larasati, di Vatikan, Minggu (11/2).

Italia menjadi pilihan Anas untuk menimba ilmu teknik mesin bukan tanpa sebab. Italia bagi Anas merupakan negara yang memiliki dua per­paduan yang sangat pas, yakni industri otomotif dan selera desain yang baik. Italia memi­liki sense of design dan industri otomotif, dua-duanya berkem­bang sangat baik di sini.

Anas menuntaskan studi S2-nya dengan sebuah tesis yang dikerjasamakan dengan pihak tim arkeologi dari Sapi­enza University yang sedang menjalankan proyek kampus tentang merekonstruksi seja­rah secara virtual. Dia dilibat­kan dalam merekonstruksi senjata-senjata perang yang digunakan pada masa-masa peperangan di era Roma kuno untuk dibuat analisis data se­cara virtual.

“Jadi, di Roma kan terke­nal dengan perang-perang di masa lampau. Isu ini aku pilih karena menarik, bisa dapat kesempatan buat melihat lang­sung reruntuhan Roma dan senjata-senjata yang dipakai di masa lalu,” tutur penyuka sejarah Eropa ini.

Setelah wisuda, Anas bertekad kembali ke Indonesia untuk mengambil jalur profe­sional untuk nambah peng­alaman. Setelah lima tahun rencananya mau wirausaha di bidang pendidikan dan manufaktur.

Lebih jauh, Anas men­ceritakan saat ini keluarga­nya sedang merintis sebuah Lembaga Pelatihan Kerja di daerah Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. “Lembaga ini diharap­kan bisa mempersiapkan sum­ber daya manusia di daerah sana agar siap bersaing di era yang kompetitif ini,” ujar putra Paciran ini.

Sementara di bidang manu­faktur, rencananya Anas akan merintis dan mendesain alat-alat unik yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari, mulai dari merancang, membuat, hingga memasarkannya sendiri.

Dapat Beasiswa

Keberangkatan serta biaya kuliah Anas ke Italia didukung sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pen­didikan (LPDP) Kementerian Keuangan. Seluruh biaya sela­ma Anas di Italia ditanggung, mulai dari living allowance, asuransi, tiket keberangkatan dan kepulangan, uang saku, hingga biaya tesis.

Beasiswa ini sangat berjasa dalam perjalanan studi Anas. Selama dua tahun pa­ket pembiayaan, nyaris tidak ditemukan adanya kendala berarti untuk urusan beasiswa. “Selalu on time diterima setiap tiga bulan sekali, jadi untuk urusan financial, alhamduillah belum pernah ada masalah,” jelas Anas.

Hanya saja khusus di Italia, rata-rata kampus menerapkan paket kurikulum yang lamanya dua tahun enam bulan untuk jenjang S2. Sementara paket pembiayaan beasiswa dari LPDP hanya untuk 24 bulan. Jadi untuk enam bulannya itu biasanya diambil dari ta­bungan selama di Italia dan ada hasil tambahan uang saku dari part time seperti tour guide,” kata Ketua Perhimpu­nan Pelajar Indonesia (PPI) Roma 2016–2017 ini.

Setiap kali “nyambi”, se­tidaknya Anas dapat mengan­tongi 100–150 euro per dela­pan jam. Standar tarif tersebut tidak ditetapkannya sendiri, melainkan telah diatur lang­sung oleh bagian kewirausa­haan di PPI Italia. Rute wisata juga menyesuaikan dengan kebutuhan pelancong yang datang. Bisa hanya seputaran Roma atau bahkan jelajah se­jumlah kota dan negara lain di Eropa, seperti Swedia, Copen­hagen, Denmark, Amsterdam, Belanda, dan Prancis.

“Pertama kali mengan­tar tamu itu rombongan satu keluarga, sekitar 15 orang ke­liling Roma. Paling berkesan ketika mengantar 30 orang rombongan ibu-ibu dari Aceh selama delapan hari, seru,” paparnya. N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment