Koran Jakarta | May 25 2019
No Comments

Humor, Hoaks, dan Politik

Humor, Hoaks, dan Politik

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Akhirnya penyebar hoaks atau hoax, penyebar kabar bohong mulai menempuh jalur hukum. Kasus yang masih bergulir dengan perhatian masyarakat adalah “Ratna yang ngaku dijotosi ternyata oplas” yang bisa membuka ke arah adanya persekongkolan atau kerja sama, atau sama-sama tahu untuk me­nyebar kebohongan. Tujuannya lebih jelas, bikin ribut di masyarakat, dan pada akhirnya masyarakat tak percaya pemerintah. Tiadanya kepercayaan berarti chaos, berarti kegaduhan. Ini membahayakan karena tiadanya faktor keamanan yang terganggu.

Yang baru saja berlangsung, Bagus Bawana yang didakwa menyebarkan berita yang ternyata bohong. Bahwa kotak suara sudah dicoblos untuk keperluan capres tertentu. Jumlahnya mencapai tujuh juta suara. Diselun­dupkan lewat kapal laut, dan terbong­kar. Katanya. Ternyata kemudian, itu tidak benar. Bayangkan akibat yang ditimbulkan tak terbayang jika benar tersebar dan dianggap besar, baik ka­sus Ratna ataupun jutaan kotak suara.

Akan tetapi, kenapa hoaks berapa kali pun terbongkar, tetap menyebar. Tahun lalu kasus ini telah diangkat dalam seminar nasional secara leng­kap dengan mempertemukan jalinan adanya humor, hoaks, dan politik. Politik sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Hoaks politik men­jadi dominan, hingga saat ini. Tentu beberapa selebritas, tokoh masyarakat yang masuk perangkap, namun akibat sosial tak seseram kaitan politik. Dua kasus di atas menunjukkan bahwa “ketidakpercayaan pada pemerintah, atau penyelenggara pemilu/pilpres” bisa fatal.

Di sini peran humor dilirik. Kenapa humor macet dalam persoalan ini? Kenapa tak ada suara riang ria, meledek tanpa menyakiti, mengritik dengan pengertian? Kadang masih bisa, namun kenyataannya justru pemusuhan dan lontaran keben­cian yang lebih menonjol? Kenapa tidak ada suasana ala Gus Dur yang begitu lucu, mengena dan komunika­tif? Humor mungkin akan bicara, dan menyertai, namun porsinya sudah tereliminir. Sehingga yang diperli­hatkan adalah justru hujatan, saling tuntut, suara sengit dan kasar.

Untuk adegan yang sama pun, kelompok yang berbeda, bisa saling meniadakan yang lain. Kebetulan saya ikut bicara dalam seminar nasional tentang humor, dan yang dihidupkan kembali melalui program televisi. Saya masih ingin peran humor dalam merebut peran hoaks di lapangan, namun melihat kenyataan, agaknya susah muncul di permukaan. Kampanye yang tinggal beberapa hari, justru makin kasar, makin keras, dan makin meninggalkan tata krama.

Untuk peristiwa humor, untuk terjadi lucu, perlu kebe­saran hati untuk berendah diri, berendah hati. Tanpa rendah hati, tanpa keberanian dan kerelaan untuk mengkritisi diri, humor tak tercip­takan. Dan selama ini, kedengkian dan kebencian menjadi lebih dominan.

Lebih baik berani mengkritisi diri, mener­tawakan diri dibanding mengumbar kebencian... mungkin ini bisa menjadi kunci peran humor dan hoax dalam dunia politik yang menca­pai titik terpanas saat ini.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment