Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments

Hobi Menjadi Pintu Profesi

Hobi Menjadi Pintu Profesi
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Susi Pudjiastuti
Penulis : Achmad Farid
Penerbit : Checklist
Cetakan : I, 2018
Tebal : x + 254 halaman
ISBN : 978-602-5479-85-4

Susi kecil hobi berdiri lama-lama di tepi pantai Pangandaran, Jawa Barat, untuk menatap laut lepas, tanpa batas. Dia membayangkan diri jadi ratu penjaga laut dengan sekian kapal selam yang bisa mengawasi rahasia alam di palung samudra. Hal itu terwujud saat dewasa (hlm 2).

Dari SD, SMP, hingga kelas II SMA, Susi berprestasi. Dia jago berbahasa Inggris dan belajar bahasa Belanda. Kosakata dan dialog bahasa asing diperoleh dari hobi membaca novel classic romance seperti karya-karya William Shakespeare dan Agatha Christie.

Ia haus literasi komik, majalah, seri filsafat, dan Mahabarata. Sewaktu kelas VI SD, Susi sudah menyukai filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre. Jusuf Muda Dahlal, Frederich Engels, Das Kapital Karl Max, Adam Smith, Il Principe-nya Machiavelli pun dibacanya (hlm 44). Ini diinisiasi teman sebangku kelas I SMA, Dwiko­rita Karnawati, yang kini Guru Besar Teknik dan Longsoran, serta mantan rektor UGM.

Susi remaja kukuh meninggalkan bangku kelas II SMA. Padahal orang tuanya juragan tajir. Susi membundel banyak impian. Berawal dari jatuh-bangun bakul ikan, Menteri Perikanan dan Kelautan ini menjadi pengusaha sukses yang bisa mengekspor sendiri hasil tangkapan.

Impian terbesarnya memiliki pe­sawat terbang sendiri untuk meng­operasikan bisnis. Fakta mencatatnya, Susi sukses memiliki puluhan pesawat terbang perintis, Cessna Caravan, dengan nama Susi Air. Bahkan, dia mendirikan sekolah penerbangan, Susi Flying School, sejak tahun 2008. Hasil tangkapan laut diekspor dengan merek Susi Brand.

Susi disindir tidak nasionalis. Nalarnya, dari 179 pilot, 175-nya orang asing. Katanya, banyak pilot Indonesia lulusan terbaik tidak berminat gabung Susi Air. Mereka bermental feudal ingin prestisius langsung memiloti Boeing atau Airbus. Mereka enggan terbang ke pelosok. Pilot asing bervisi beda. Indonesia eksotis. Susi Air men­jamin kesejahteraan lebih. Manaje­mennya banyak orang asing.

Buku ini mengantar pembaca ke tapak Susi masa kecil, keberanian, jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, dan empati demi Indonesia. Misi Susi jalasveva jayamahe, di laut kita jaya! Perempuan beride gila ini akhirnya direkrut Presiden Joko Widodo untuk menjadi anggota kabinet menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

“Pak Jokowi, saya surprised. Bapak angkat saya jadi menteri. Bapak kok percaya pada saya?” kata Susi. “Ya, saya memang butuh orang ‘gila’ untuk melakukan terobosan. Saya senang cara kerja Bu Susi dalam jam-jam per­tama. Dia membuka kesadaran publik tentang potensi laut Indonesia yang dicuri asing. Saya yakin, Bu Susi ber­karakter melayani,” kata Jokowi seraya mengunggah foto Susi ke medsos.

“Saya terima pekerjaan ini. Dengan pengalaman 33 tahun di perikanan dan 10 tahun di penerbangan, mudah-mudahan membantu Indonesia men­jadi lebih baik untuk membangun ekonomi mandiri dan menumbuhkan kebanggaan diri,” ujar Susi (hlm 138).

“Kegilaan” Susi bagi Jokowi ada­lah visinya out of the box. Karakter ini gayut dengan slogan: kerja, kerja, kerja! Ide gilanya menyabet puluhan award lokal, nasional, dan inter­nasional. Susi menjadi orang ketiga peraih gelar doktor honoris causa dari ITS Surabaya, setelah Hermawan Kertajaya dan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.

Buku ini bernas bagi generasi milenial yang sadar berpikir kritis dan tidak dibuai gawai teknofil. Biar­lah Rhenald Kasali atau Hermawan Kertajaya berkoar tentang ancaman era disrupsi 4.0 yang serbadigital dan nyinyir bibir. Anutlah visioner Menteri Susi dari kecil, remaja, dewasa, muda, tua, hingga ribuan tahun ke depan. Susi berani melakukan pilihan hidup gila dan memimpikan hal besar yang dinilai “gila” menurut nalar segelintir pakar.

Hikmah kesuksesan ini, Susi menjamin dengan resolusi kritis. Memimpikan hal besar (yang menurut sebagian orang) dianggap gila dan tak mungkin terwujud bukanlah sesuatu yang salah. Kesalahan terbesar justru jika orang hanya berhenti pada mimpi, tak mau mewujudkan. Diresensi Yustina Windarni, Alumna Politeknik API Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment