Koran Jakarta | July 19 2018
No Comments

Hidup Harus Selalu Berubah

Hidup Harus Selalu Berubah
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : The Art of Living

Penulis : Erich Fromm

Penerbit : Baca

Cetakan : Maret 2018

Tebal : 244 halaman

ISBN : 978-602-6486-14-1

 

Kehidupan modern ditandai dengan merebaknya gaya hidup konsumtif di segala lini. Kaum muda mengikuti pola hidup belanja berlebihan di berbagai mal. Mereka seakan terdorong untuk selalu belanja. Kalau tidak belanja, hidup menjadi hampa. Inilah paham baru yang disebut dengan konsumerisme.

Gaya konsumerisme sebenarnya didorong gerak berorientasi memiliki. Inilah yang dimaksudkan buku Erich Fromm. Gerak hidup berorientasi memiliki akan menyebabkan manusia berada pada keterasingan, kesia-siaan, dan kekecewaan mendalam. Krisis identitas dari masyarakat modern sesungguhnya akibat fakta bahwa anggota-anggotanya telah menjadi instrumen tanpa diri. Ini membuat identitasnya bergantung pada partisipasi mereka dalam korporasi dan birokrasi (hal 17).

Sesungguhnya hidup yang baik menurut Fromm berorientasi menjadi. Orientasi hidup memiliki bukan berarti tidak baik sama sekali. Tetapi kalau berlebihan akan menyebabkan manusia berada pada alienasi diri. Manusia memang tidak dapat hidup, tanpa memiliki, tetapi dapat hidup dengan amat baik dengan modus memiliki yang sepenuhnya fungsional.

Dengan cara itulah manusia telah ada selama 40.000 tahun pertama sejarah semenjak muncul sebagai homo sapiens. Malahan, manusia hanya dapat hidup dengan sehat jika memiliki properti fungsional dalam jumlah tepat (hal 87).

Hidup orientasi menjadi merupakan aktivitas manusia. Malahan dapat diakatakan, menjadi merupakan aktivitas khas manusia yang tidak dimiliki makhluk lain. Modus eksistensi menjadi berarti hidup, tertarik, melihat, mendengarkan, menempatkan diri sendiri di posisi orang lain. Juga menempatkan diri agar hidup menarik dan membuat sesuatu yang indah bagi kehidupan (hal 103).

Seseorang yang berorientasi menjadi secara terus-menerus berubah. Setiap tindakan secara besamaan berarti perubahan dalam pribadinya. Dalam kenyataannya, orang yang merasa cemas, bosan, dan teralienasi akan mengompensasi kecemasannya tersebut dengan suatu konsumsi kompulsif seperti penyakit pada umumnya. Secara lebih tepat, sebagai suatu gejala “patologi kenormalan.” Tak seorang pun menyadari bahwa itu penyakit (hal 116).

Ekonomi agar tetap berjalan ada orang terus membeli. Jika tidak demikian, tidak akan ada permintaan yang secara terus-menerus bertambah. Ini penting agar barang-barang terus diproduksi. Melalui suatu mekanisme periklanan yang semakin canggih dan hebat, ekonomi merayu orang agar membeli dan membeli lagi (hal 118).

Buku ini dilengkapi dengan cara menghindari hidup berorientasi memiliki supaya manusia berorientasi menjadi. Di antaranya, harus ada kehendak untuk mengubah karakter. Ibarat orang merokok, kalau ingin berhenti harus dengan niat kuat. Selain itu, ada syarat yang harus dipenuhi seperti kesadaran yang baik. Kemudian, menyadari penyebab atau akar orientasi memiliki seperti ketidakberdayaan, ketakutan, dan ketidakpercayaan. Lalu melakukan perubahan-perubahan dalam praktik hidup serta melepaskan kebiasaan yang sudah mendarah daging seperti belanja berlebihan.

 

Diresensi Mahmudi, Mahasiswa Program Doktor

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment