Koran Jakarta | August 21 2019
No Comments
Defisit Perdagangan - Kinerja Ekspor RI Tertinggal dengan Negara Satu Kawasan

Harus Lebih Agresif Terobos Pasar Ekspor

Harus Lebih Agresif Terobos Pasar Ekspor

Foto : Sumber: Badan Pusat Statistik – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font
Daya dukung negara untuk menciptakan produk ekspor bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global dinilai masih jauh dari harapan.

 

JAKARTA – Perekonomian Indonesia saat ini dinilai memiliki isu penting yang harus se­gera ditangani dengan baik, yaitu perlambatan laju ekspor yang memicu defisit neraca per­dagangan dan diikuti pelebaran defisit neraca transaksi berjalan.

Dalam konteks pertumbuhan ekonomi, eks­por Indonesia hingga kini juga belum mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi per­ekonomian. Salah satu ukurannya adalah kon­tribusi ekspor Indonesia terhadap Produk Do­mestik Bruto (PDB) yang masih relatif kecil, sekitar 20,19 persen, dan tertinggal jauh dari negara Asean lain, seperti Malaysia (sebesar 71 persen), dan Vietnam (sebesar 101,6 persen).

Peneliti Indef, Ahmad Heri Firdaus, menge­mukakan ada beberapa hal yang menyebabkan ekspor Indonesia sangat sulit terakselerasi dan tidak berkontribusi besar terhadap PDB.

“Pertama, negara tujuan ekspor Indonesia masih relatif terbatas pada beberapa negara tradisional. Hal ini karena kurang agresifnya Indonesia dalam melakukan penetrasi atau menerobos pasar ekspor,” papar dia, di Jakarta, Minggu (23/6).

Kedua, lanjut Heri, keputusan Indonesia da­lam melakukan perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) dengan bebe­rapa negara atau kawasan tidak didahului de­ngan persiapan dan strategi yang optimal.

“Kebergantungan ekspor Indonesia pada komoditas, yang rentan terhadap gejolak per­ubahan harga, menjadi faktor ketiga yang me­nyebabkan kita sulit meningkatkan nilai eks­por,” tukas dia.

Heri juga menilai bahwa daya dukung nega­ra untuk menciptakan produk ekspor bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global juga masih jauh dari harapan. Oleh karena itu, dia mengingatkan agar FTA jangan hanya diarah­kan ke negara maju tapi justru lebih penting ke negara berkembang dan negara berpeng­hasilan rendah yang lebih berprospek bagi pa­sar barang Indonesia. Sebab, negara berkem­bang pada umumnya relatif minim hambatan non-tarifnya.

Sebagai contoh, FTA di kawasan Afrika ter­lambat diinisiasi sehingga produk Indonesia kurang bisa bersaing. Beberapa negara Afrika menerapkan bea masuk hingga 40 persen ter­hadap produk impor non-FTA.

“Perjanjian kerja sama pembebasan bea masuk ke Sri Lanka, dan Bangladesh untuk eks­por produk transportasi, seperti kereta api dan pesawat udara, bisa mempercepat penetrasi produk Indonesia,” kata Heri.

Kapasitas Ekspor

Peneliti Indonesia for Global Justice (IGJ), Hafidz Arfandi, menambahkan pemerintah perlu mendorong banyak insentif agar sek­tor industri bisa tumbuh sehingga berdampak pada naiknya kapasitas ekspor nasional.

“Tanpa itu kita akan dihadapkan pada ca­dangan devisa yang minim dan selalu bergan­tung pada faktor eksternal,” kata Hafidz, Minggu.

Kinerja ekspor Indonesia yang kurang menggembirakan berdampak pada neraca per­dagangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan defisit neraca perdagangan pada April 2019 mencapai 2,5 miliar dollar AS, atau yang terparah sepanjang sejarah Indonesia.

Guna memperbaiki defisit itu, Hafidz me­nyarankan ke depan pemerintah juga perlu memperbaiki fundamental dalam struktur per­ekonomian nasional, terutama di sektor mi­nyak dan gas (migas) karena selama ini masih banyak bergantung pada impor. “Pada kuartal I-2019 kita defisit perdagangan migas sampai 2,7 miliar dollar AS,” kata dia.

Ketegangan politik di Timur Tengah, menu­rut Hafidz, mengakibatkan harga minyak terus terkerek naik sehingga bakal memperlebar de­fisit neraca perdagangan Indonesia. Selain itu, dia juga menyarankan pemerintah memperha­tikan sektor non-migas yang pertumbuhan im­pornya jauh lebih pesat dibandingkan ekspor. “Ini juga perlu perhatian khusus untuk mem­benahi industri,” imbuh dia.

Sebelumnya, sejumlah kalangan juga meng­ingatkan pemerintah untuk memprioritaskan perbaikan masalah akut perekonomian Indone­sia, yakni potensi pelebaran defisit neraca tran­saksi berjalan atau current account deficit (CAD).

Salah satu upaya yang layak dilakukan ada­lah mengangkat kinerja ekspor dengan du­kungan keberpihakan pemerintah. Saat ini, ekspor cenderung melemah karena daya saing global yang belum kuat ditambah dengan me­manasnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. YK/Ant/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment