Koran Jakarta | June 18 2019
No Comments
Direktur Eksekutif Puskapol Universitas Indonesia, Aditya Perdana, Terkait Debat Kedua Pasangan Capres

Harus Diantisipasi Munculnya Debat Kusir pada Segmen 10 Menit Tanpa Batasan

Harus Diantisipasi Munculnya Debat Kusir pada Segmen 10 Menit Tanpa Batasan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Debat Pertama Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019 yang dilaksanakan pada 17 Januari lalu, jauh dari yang diharapkan oleh publik. Hal tersebut yang membuat proses perkembangan demokrasi, khususnya dalam kampanye, masih belum berubah pascadebat.

 

Oleh karena itu, sejumlah pihak pun berharap de­bat selanjutnya yang ber­tema “Energi, Pangan, Infrastrukur, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup” menjadi lebih menarik dan dapat memun­culkan gagasan dan ide terbarukan dari kedua paslon.

Untuk mengupas hal terse­but lebih jauh, Koran Jakarta mewawancari Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia (UI), di Jakarta, pekan lalu. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana perubahan gaya kampanye paslon pascadebat?

Tidak ada yang berubah menu­rut saya. Artinya, mereka punya strategi yang disiapkan, mereka punya strateginya per bulan, tergantung dari elektabilitasnya dan sebagainya, ini yang mereka pantau. Menurut saya, tidak ada yang banyak berubah dari pascade­bat pertama. Kelihatan, responsnya masih sama, terhadap isu ya begitu.

Secara tidak langsung belum ada gagasan yang konkret?

Iya, memang tidak ada kalau de­bat kemarin. Tidak ada gagasan yang baru dan menarik, mereka sangat defensif. Artinya, kemarin kita per­hatikan pandangan publik terhadap debat pertama sudah jelas, banyak yang kecewa terhadap penampilan kedua paslon. Harapannya kan ada satu gagasan atau ide yang menarik, ada program yang bisa dikembang­kan, tapi nyatanya tidak. Petahana masih dalam konteks berusaha menjelaskan apa yang suda dilaku­kan, tetapi tidak berkembang.

Penantang sebenarnya ada gagasan yang menarik, bagaimana persoalan hukum dilihat dari perspektif ekonomi, tetapi ti­dak elaboratif. Kemudian, akh­irnya petahana punya suara yang keras untuk melakukan re­spons terhadap serangan, semen­tara penantang meskipun terlihat santai, tetapi belum menunjukkan sesuatu yang baru.

Lalu, bagaimana pendapat Anda soal evaluasi yang dilaku­kan KPU?

Saya apresiasi KPU yang ternyata menghargai pandangan publik, mencoba mengakomodir pandangan-pandangan publik tentang debat pertama. Kemudian, yang positif adalah debat ini mesti­nya punya sesuatu yang atraktif, yang menarik buat pemilih, KPU pun merencanakan akan dibuatkan satu segmen yang bebas antara kedua paslon untuk saling me­nyanggah, ini menarik.

Apakah akan timbul problem baru jika ada segmen “tarung bebas”?

Problem yang serius, menurut saya, adalah misalkan segmen 10 menit tidak ada batasan waktu, tidak ada yang mengingatkan, itu akan sangat sulit. Hal itu berpotensi untuk keduanya akan berbicara di luar kon­teks dan akan timbul debat kusir. Bisa jadi akan muncul hal-hal yang tidak penting untuk dibicarakan. Saya kha­watirnya di situ dan saya yakin akan kejadian. Mestinya harus disiapkan dan diantisipasi oleh moderator ataupun penyelenggara pemilu.

Apa prediksi Anda untuk debat kedua nanti?

Pak Jokowi pasti akan cerita banyak tentang bagaimana dia sudah bangun tol, jembatan, bendungan, dan sebagainya. Namun, pihak petahana juga menduga bahwa pihak lawan akan membawa pertanyaan-pertanyaan terkait hal itu, misalkan infrastruktur uangnya dari utang, pekerjanya asing, dan sebagainya. Namun, untuk strategi tidak banyak berubah. Jokowi sedang keras-kerasnya menyindir, lalu nanti dibalas oleh Prabowo, sehingga jadi balas-balasan kembali.

Bagaimana seharusnya debat kedua?

Sebenarnya belajar dari pengalaman debat pertama, artinya penyelenggara pemilu, KPU, dan masing-masing tim suskes mereka juga sudah mempersiapkan. Namun, harapannya diskusinya masih sepu­tar topik dan kemudian menarik, ada gagasan dan ide-ide baru yang masih diperbincangkan. Tim sukses maupun KPU membbuat debat jadi menarik. trisno juliantoro/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment