Koran Jakarta | April 21 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi 2019 - IMF Prediksi Perlambatan Ekonomi AS dalam Waktu Dekat

Hadapi Gejala Krisis Global, Perkuat Ekonomi Domestik

Hadapi Gejala Krisis Global, Perkuat Ekonomi Domestik

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>>Tanpa perbaikan ekspor, defisit transaksi berjalan sulit ditekan menjadi surplus.

>>Dampak berantai pelemahan rupiah terhadap industri berpotensi mengarah pada PHK.

 

JAKARTA - Indonesia mesti segera memperkuat perekonomian dalam ne­geri untuk mengantisipasi munculnya gejala awal krisis global. Sejumlah ka­langan mengemukakan paling tidak ada lima persoalan yang akan dihadapi In­donesia ke depan, yakni dampak kese­pakatan Brexit, potensi kenaikan harga minyak dunia, perang dagang, kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS), dan lemahnya kinerja ekspor.

Sementara itu, setelah memper­ingatkan kemungkinan terjadinya krisis keuangan global, Dana Moneter Inter­nasional (International Monetary Fund/ IMF) memprediksi perlambatan eko­nomi AS dalam waktu dekat. Bahkan, perlambatan itu bisa lebih cepat dari perkiraan, yakni pada 2019 atau 2020.

Ekonom Indef, Abdul Manap Pulun­gan, mengemukakan peringatan IMF soal ancaman krisis global bukan tanpa alas­an yang kuat. Oleh karena itu, pemerintah harus mengantisipasinya dengan men­jaga perekonomian domestik tetap stabil, karena sulit berharap pada kondisi global. “Pemerintah mesti mengantisipasi se­tidaknya lima persoalan ekonomi kita ke depan,” ujar dia, di Jakarta, Jumat (14/12).

Persolan pertama adalah kesepa­katan pemisahan Inggris dari Uni Eropa atau Brexit yang belum menemukan ti­tik terang. “Kalaupun sudah bersepakat, dikhawatirkan bakal hard landing, tidak smooth. Jadi ada kesepakatan-kesepa­katan yang akan memberikan gejolak bagi ekonomi dunia. Menurut saya, ini pemicu awal krisis,” kata Manap.

Persoalan kedua, prediksi kenaikan harga minyak menyusul pemangkasan produksi kelompok negara eksportir mi­nyak atau OPEC sebesar 1,2 juta barel per hari. Masalah ketiga, perang dagang AS-Tiongkok yang juga tak kunjung reda. Sengketa dagang itu juga berdampak ke negara lain termasuk Indonesia. “Pada saat kesepakatan itu tidak menemui titik baru. Artinya, akan terjadi perang tarif antara Tiongkok dan AS,” kata dia.

Manap menambahkan, persoalan berikutnya adalah kenaikan bunga Bank Sentral AS, Fed Fund Rate (FFR), pada tahun depan. “Angka inflasi AS pada No­vember masih 2,3 persen, sedangkan suku bunganya 2,5 persen. Artinya, suku bunga riil di AS masih positif. Jadi, masih ada ruang the Fed untuk menaikkan suku bunga dua kali lagi tahun depan,” kata dia.

Menurut Manap, masalah selanjut­nya terkait ekspor dan impor. Kinerja ekspor yang menopang neraca transak­si berjalan tidak tumbuh signifikan, ka­rena didominasi bahan mentah tanpa nilai tambah sehingga sulit bersaing.

“Tanpa perbaikan ekspor, defisit transaksi berjalan sulit ditekan menjadi surplus. Defisit akan bertambah saat terjadi lonjakan harga minyak,” jelas dia.

Di samping itu, impor yang tinggi tu­rut memperburuk neraca pembayaran. Apalagi, impor naik signifikan hingga 20 persen, sedangkan ekspor hanya ber­gerak di level 8 persen.

“Jadi dari situasi itu, kita tidak berharap ada krisis. Tapi dari simpul-simpul yang muncul, memang terjadi. Bukan terjadi krisis ya, tapi kondisi tahun depan tidak akan jauh berbeda dari sekarang. Mudah-mudahan minyak nggak naik signifikan agar kita aman di 2019,” papar Manap.

Dia menilai untuk mengatasi lima persoalan itu cukup susah, apalagi men­dorong pertumbuhan ekonomi di level 5,3 persen. Kalau defisit transaksi berja­lan tidak segera diperbaiki, jangan ber­harap rupiah akan membaik. Artinya, impor akan mahal.

“Akibatnya, biaya produksi industri mahal. Lalu terjadi efisiensi, larinya ke PHK. Berarti konsumsi turun, pertum­buhan ekonomi juga akan turun, karena kontribusi konsumsi 55 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto),” papar Manap.

Mulai Redup

Terkait perlambatan AS, Kepala eko­nom IMF, Maurice Obstfeld, menyata­kan kondisi tersebut merupakan dam­pak dari kebijakan fiskal dan anggaran pemerintahan Presiden Donald Trump yang mulai redup. “Perlambatan eko­nomi AS akan lebih tajam kemungkinan pada tahun 2020 ketimbang tahun 2019, menurut data yang kami lihat,” papar Obstfeld di Washington, AS, Jumat.

IMF telah merevisi ke bawah prediksi pertumbuhan ekonomi AS untuk 2019, yakni dari 2,8 persen menjadi 2,5 persen. “Untuk seluruh dunia, kemungkinan akan ada udara yang keluar dari balon,” ujar Obstfeld, merujuk pada pertumbuhan ekonomi Asia dan Eropa yang lebih ren­dah dari perkiraan pada kuartal III-2018.

Menurut dia, kondisi itu akan ber­dampak pula pada AS. Obstfeld juga menyoroti perang dagang antara AS dan Tiongkok, termasuk antara AS dengan beberapa mitra dagang lainnya. YK/ahm/AFP/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment