Koran Jakarta | November 22 2019
No Comments
Farmer2Farmer

Geliat Memperbaiki Produksi Susu Nasional

Geliat Memperbaiki Produksi Susu Nasional
A   A   A   Pengaturan Font

Susu merupakan komoditas pangan penting karena merupakan sumber protein bagi pemenuhan kebutuhan gizi harian. Sayangnya, industri susu nasional Indonesia masih banyak yang perlu diperbaiki dari segi kualitas dan kuantitas.

Frisian Flag Indonesia lewat program Farmer2Farmer tahun ini kembali mengirim empat peternak sapi mengunjungi peternakan sapi perah modern di Belanda, untuk belajar tentang good dairy farming practice (GDFP) dan pelatihan intensif soal bagaimana menjadi peternak sukses.

Selama dua minggu, para peternak ini dibekali secara mendalam berbagai pengetahuan mengenai tatalaksana peternakan sapi perah yaitu GDFP, meliputi segala aktivitas teknis dan ekonomis dalam hal pemeliharaan sehari-hari seperti reproduksi, cara dan sistem pemberian pakan, sanitasi, serta pencegahan dan pengobatan penyakit.

Inisiatif ini bertujuan untuk menginspirasi dan mendorong petani lokal untuk menjadi yang terbaik.  Diharapkan mereka akan kembali (ke Indonesia) dengan perspektif baru yang segar, termotivasi dan memiliki pemahaman pendekatan baru untuk menghadapi berbagai tantangan dan meningkatkan bisnis mereka. Diharapkan pula program ini setidaknya dapat mendukung target dari produksi susu segar di Indonesia sesuai yang dicanangkan pemerintah,” ujar Fetti Fadliah, PR Manager Frisian Flag Indonesia, di Jakarta belum lama ini.

Perlu diketahui produksi susu lokal 5 tahun terakhir menurun rata-rata 1,03% per tahun atau rata-rata sebesar 847,09 ribu ton. Periode 2017 hingga 2020, Indonesia diperkirakan akan mengalami defisit susu sebesar 71 ribu hingga 103 ribu ton.

Mirisnya lagi tingkat konsumsi susu nasional saat ini yang baru sebesar 5 persen juga tidak sejalan dengan peningkatan produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) yang baru mencapai 2 persen.

Persoalan lainya, selain minat konsumsi susu masyarakat yang rendah, terdapat pula masalah yang cukup kompleks yaitu keengganan di tingkat Industri Pengolah Susu (IPS) untuk membeli SSDN. Sangat beragam yang melarat belakangi permasalahan ini mulai dari produktivitas susu sapi rendah, pemilihan sapi perah di bawah skala ekonomis, serta neraca susu nasional yang tidak berimbang.

Pemerintah sendiri menargetkan pada tahun 2020 mendatang, Indonesia akan memenuhi kebutuhan SSDN sebanyak 40 persen untuk kebutuhan nasional.

Memahami Tata Laksana

Pembelajaran penting yang diterima oleh para petani susu sapi ini ialah soal penerapan GDFP secara tepat, Tino Nurhadianto selaku Fresh Milk QA/QC Manager Frisian Flag Indonesia menjelaskan GDFP menjadi penting karena tata laksana itu tidak hanya bertujuan untuk menjalankan usaha sapi perah dengan baik dan benar saja sesuai prosedur, tetapi juga menjaga agar sapi tetap sehat, menjamin terciptanya produk susu yang aman dan sehat untuk dikonsumsi, serta meminimalisir dampak lingkungan.

“Pendapatan utama peternak adalah penjualan susu yang dipengaruhi oleh produksi susu dan harga jual susu yang juga dipengaruhi oleh kualitas susu. Dan peningkatan kuantitas dan kualitas susu merupakan salah satu kondisi yang dapat dicapai dengan penerapan GDFP,” terangnya.

Tahun ini menjadi tahun ketujuh dari implementasi program Farmer2Farmer. Kompetisi ini dimulai dari awal tahun dengan melibatkan para peternak sapi perah lokal yang berasal dari empat koperasi peternak sapi perah di Jawa Barat dan Jawa Timur, yaitu Koperasi Peternakan Sapi Bandung Selatan (KPSBS) pangalengan dan Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang di Jawa Barat, Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur dan Koperasi Bangun Lestari di Jawa Timur.

Program farmer2farmer yang diluncurkan pada tahun 2013 telah menjangkau sekitar 1.000 peternak sapi perah lokal. Pemenang kompetisi Farmer2Farmer 2019 diharapkan dapat membagikan pengetahuan mereka tentang GDFP.

“Dan kemudian dapat menginformasikan kepada peternak lainnya soal tata laksana ini sehingga akan semakin banyak peternak sapi perah yang diberdayakan dan memiliki kualitas hidup lebih baik sebagai peternak sapi perah,” lanjut Tino.

Perkuat Regenerasi Peternak

     Peternak diajarkan bahwa keberhasilan produksi susu tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan peternak dalam mengelola usaha peternakan sapi perah, khususnya dalam hal regenerasi usah peternak sapi perah.

     Menurut Minne Holtrop, peternak Belanda, yang merupakan generasi ke8 peternak sapi perah menyebutkan, soal regeneras juga menjadi tantangan lain dalam peternakan sapi perah. Untuk memecah persoalan ini Minne berhasil menularkan profesinya ke anaknya untuk meneruskan usaha sapi perah dengan berpegang pada satu kunci, “Menanamkan passion atau kecintaan serta senantiasa memberikan motivasi positif kepada anak untuk terus menghadapi berbagai tantangan. Tentu ada banyak perkembangan dan tantangan di setiap generasi. Namun yang pasti teknologi terus berkembang,” ujar Minne.

     Pola regenerasi nytanya juga terjadi di Indonesia, Mitha salah satu perserta program Farmer2Farmer mengaku sudah menularkan semangat profesi peternak sapi perah kepada anaknya.

“Anak saya yang berumur 15 tahun saat ini sudah mulai tertarik untuk melanjutkan usaha peternakan ini. Kami adalah keluarga peternak dan anak saya sudah mulai tertarik untuk menjadi peternak. Jadi sama seperti yang dikemukakan oleh Minne, penting untuk menumbuhkan rasa kecintaan pada anak. Dan lagi pula pendapatan yang didapat dari peternakan itu bisa mencukupi kebutuhan hidup,” terangnya

Mitha melanjutkan, banyak  perubahan yang dirinya alami setelah mengikuti Farmer2Farmer. “Hal-hal yang sebelumnya bisa saya anggap sederhana dan tidak signifikan seperti pemberian pakan atau tempat tidur para sapi ternyata berpengaruh besar terhadap produksi susu. Ada banyak ilmu yang saya dapatkan lewat program ini termasuk dalam regenerasi peternak,” sambungnya.

Senada dengan Mitha, Erlina yang merupakan generasi ke-dua dari keluarga peternak mengatakan lewat program Farmer2Farmer dan pelatihan tata laksana GDFP dirinya yakin produktifitas sapi bisa ditingkatkan dengan baik sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan peternak secara langsung.

“Ketika kesejahteraan peternak sapi perah meningkat, harapan kedepan profesi ini mulai dilirik kembali oleh generasi muda,” tandas Erlina. ima

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment