Gelar Bersejarah Djokovic | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments

Gelar Bersejarah Djokovic

Gelar Bersejarah Djokovic

Foto : AFP/DANIEL LEAL-OLIVAS
A   A   A   Pengaturan Font

Novak Djokovic butuh waktu 4 jam 57 menit untuk menaklukkan Roger Federer di final bersejarah Grand Slam Wimbledon.

LONDON - Petenis Serbia Novak Djokovic memperta­hankan gelar juara tunggal putra Grand Slam Wimbledon setelah menaklukkan peme­gang delapan delapan gelar turnamen, Roger Federer, Senin (15/7) dini hari WIB, dengan skor 7-6 (7/5), 1-6, 7-6 (7/4), 4-6, 13-12 (7/3) dalam final paling lama dalam seja­rah yang diakhiri dengan tie-break bersejarah.

Petenis berusia 32 tahun itu menyelamatkan dua match point ketika menyambar ge­lar Wimbeldon kelima sekali­gus Grand Slam ke-16-nya ini yang berselisih empat gelar di bawah rekor total Federer.

Kemenangan Djokovic memperpanjang catatan ke­menangannya dalam per­tandingan antar-Tiga Besar (Djokovic, Federer dan Ra­fael Nadal) menjadi 11 ke­menangan Grand Slams berturut-turut. Dengan waktu bertanding 4 jam 57 menit, maka final kali ini adalah final Wimbledon paling lama da­lam sejarah (sejak 1877), atau Sembilan menit lebih lama dari final tahun 2008 antara Nadal dan Federer.

Stan Wawrinka adalah pe­tenis terakhir di luar trio besar yang memenangkan Grand Slam, ketika menjuarai US Open 2016 setelah mengalah­kan Djokovic.

Petenis terakhir yang men­juarai Grand Slam di bawah usia 30 tahun adalah Andy Murray yang menjuarai Wim­bledon pada 2016 dalam usia 29 tahun.

Djokovic telah bertanding dalam beberapa pertandingan paling berkesan dan menant­ang dalam sejarah Era Ter­buka, termasuk final Australia Open 2012 ketika ia menga­lahkan Rafael Nadal dalam pertandingan final grand slam terpanjang dalam sejarah, yai­tu lima jam 53 menit.

Namun, tidak ada per­tandingan yang lebih banyak menyita kekuatan mental Djokovic daripada final Wim­bledon melawan Federer. “Itu mungkin pertandingan yang paling berat dan pa­ling menuntut secara mental yang pernah saya ikuti. Saya men­jalani pertandingan pa­ling berat secara fisik melawan Nadal di final Australia yang berlangsung hampir enam jam. Tetapi se­cara mental ini adalah tingkat yang berbeda,” kata Djokovic saat diwawancari atptour.com, Senin.

“Aku jelas sangat senang untuk berada di sini sebagai pemenang. Padahal butuh satu pukulan lagi sehingga saya bisa kalah. Tapi pertandingan ini punya segalanya, bisa saja ini jadi (kemenangan) miliknya,” pungkas Djokovic.

Djokovic, yang telah memenangkan empat dari lima kejuaraan besar terakhir, kini hanya selisih dua gelar grand slam dari Rafael Nadal (18) dan empat dari Federer (20).

Ia pun mengakui bahwa konstestasi mereka bertiga se­bagai “Top Three” turut andil dalam dorongannya untuk ter­us berkembang. “Kami mem­buat tumbuh dan berkembang satu sama lain. Kedua orang itu mungkin salah satu alasan terbesar saya masih bersaing di tingkat ini. Fakta bahwa me­reka membuat sejarah di olah­raga ini ikut memotivasi saya juga, menginspirasi saya un­tuk mencoba melakukan apa yang telah mereka lakukan, apa yang telah mereka capai, dan bahkan men­coba melampauinya,” katanya.

Di Depan Mata

Federer mengaku ti­dak mempercayai dirinya bisa sampai membuang cuma-cuma dua match point yang bisa memastikan dia menjua­rai Wimbledon kesembilan kalinya, setelah ditaklukkan Djokovic dalam pertandingan final tunggal putra Wimble­don paling lama dalam seja­rah turnamen ini.

Legenda Swiss berusia 37 tahun itu meratapi “peluang yang hilang” ketika dia dua kali nyaris menyelesaikan pertandingan dengan match point sewaktu mengambil serve pada gim ke-16 pada set penentuan sehingga harus menelan kekalahan.

Yang menakjubkan adalah ini kali kedua Federer mele­wati final paling panjang di Wimbledon yang sama-sama berakhir dengan kekalahan, saat menghadapi Rafael Nadal pada 2008. Federer, yang kelihatan emosional saat berdiri bersama istri dan anak-anaknya di bangku pemain setelah kekalahan itu, meng­ungkapkan tak bisa memas­tikan apakah kalah dalam set seperti itu lebih menyakitkan ketimbang kalah straight set.

“Sulit diungkapkan. Saya tak tahu jika perasaan karena kalah 2-2-2 lebih baik diban­dingkan dengan kekalahan ini. Pada akhirnya itu sama sekali tidak jadi masalah,” kata Fe­derer seperti dikutip AFP.

“Anda mungkin merasakan lebih kecewa, sedih, marah be­sar. Saya tak tahu apa yang saya rasakan sekarang,” sambung dia. “Saya cuma merasakan bahwa peluang luar biasa ini pupus, saya tak mempercayai hal ini.”

Federer yang kalah pada lima pertemuan terakhirnya dengan Djokovic dalam Grand Slams, terakhir kali mengalah­kan petenis Serbia itu dalam Wimbledon 2012 menyatakan, pertandingan itu lepas dari genggamanya ketika dia ga­gal menuntaskan dua match point. Ant/S-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment