Koran Jakarta | August 18 2018
No Comments

Fokus kepada Yesus Menyelesaikan Persoalan

Fokus kepada Yesus Menyelesaikan Persoalan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Jika Anda Ingin Berjalan di Atas Air, Keluarlah dari Perahu

Penulis : John Ortberg

Penerbit : Literatur Perkantas

Cetakan : Agustus, 2016

Tebal : 234

ISBN : 978–602- 1302-28-6

Alkitab mengisahkan beragam perjalanan inspiratif. Diawali perjalanan Allah pertama kali di Eden, Abraham dan putranya Ishak menuju Moria. Kemudian, perjalanan Musa bersama kaum Israel menyeberangi Laut Merah. Yosua yang merebut kemenangan dengan berjalan mengelilingi tembok Yerikho. Perjalanan dari Praetorium ke Golgota dan juga perjalanan Petrus di atas air. Perjalan terakhir ini tampaknya paling mengesankan. Selain luar biasa, pada momen itu, kehadiran Yesus begitu terasa.

Matius mengisahkan peristiwa menakjubkan tersebut. Saat itu, Yesus yang masih ingin menyendiri menyuruh Petrus dan teman-temannnya menaiki perahu kecil di Danau Galilea. Lalu badai datang. Perahu yang mereka tumpangi tergoncang hebat. Semua berusaha untuk mempertahankan posisi perahu agar tidak tenggelam, tapi tidak bisa.

Di saat kritis, Yesus datang mendekat dengan berjalan kaki di atas air. Mereka mengira-ira sosok tersebut. Hanya Petrus yang melihat dengan jelas bahwa sosok itu Yesus. Dia keluar dari perahu setelah dia berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air (hlm 18).”

Ucapan Petrus adalah ungkapan ketaatan bahwa kemampuan berjalan di atas air bukan kehebatan dari dirinya, tetapi karena kasih Tuhan. Dan memang demikian adanya. Tuhan datang di saat genting. Saat di mana banyak orang putus asa karena berada dalam perahu persoalan yang mengombang-ambingkan hidup. Hanya, banyak yang tidak bersedia “berjalan di atas air” karena terlena dengan perahu yang ditumpangi. Mereka meragukan keajaiban yang akan diberikan Tuhan.

Setiap orang pasti memiliki perahu, yaitu segala yang membangkitkan ketakutan saat hendak ditinggalkan, khususnya jika harus sampai meninggalkannya dalam iman. Ia bisa berupa pekerjaan yang mapan. Bisa berupa hubungan suami-istri, status sosial, rahasia pribadi, karier yang dirancang untuk masa depan. Bisa juga kesuksesan yang banyak mendatangkan keuntungan dan lain sebagainya.

Segala yang tampak menjadi penunjang hidup adalah perahu. Di satu sisi tampak baik, di sisi lain, ketika kebergantungan padanya sudah akut, justru melenakan. Dia akhirnya surut. Pasti akan ada badai yang menggoncang dan menenggelamkan penumpangnya (hlm 20).

Pengalaman Petrus dan teman-temannya merupakan metafor dari persoalan yang pasti dialami setiap manusia dalam hidup. Sebagaimana Petrus, sebagian orang ada yang melihat kehadiran Tuhan, lalu bersiap melangkahkan kaki ke luar dari perahu hidupnya. Namun, itu saja tidak cukup. Karena melihat Tuhan bukan berarti satu-satunya kunci menyelesaikan persoalan. Harus dibarengi keyakinan yang utuh sehingga bisa berfokus kepada kuasa-Nya.

Petrus yang berjalan di atas air, mulai goyah pijakannya lantaran tidak fokus kepada Yesus. Badai yang datang dan hantaman gelombang besar mengalihkan perhatian. Hatinya mulai ketakutan. Kasih Tuhan yang kuasa atas segalanya mulai pudar di hatinya. Dalam Matius 14:31 dikisahkan, seketika Petrus tenggelam dan minta tolong. Dengan sigap, Yesus datang memegang tangannya seraya berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang (hlm 171).”

Fokus sejalan dengan harapan. Fokus semakin kuat maka harapan akan semakin kokoh pula. Manusia masih bisa bertahan walau kehilangan yang paling berharga, kecuali kehilangan harapan. Dinamika kehidupan bersinergi karena ada harapan. Kejadian luar bisa dan penuh heroisme juga karena harapan. Harapan yang membuat Abraham meninggalkan rumahnya, membuat Musa bersedia menghadapi Firaun dan membuat para nabi berani berbicara di balai kota (hlm 175).

Harapan kepada Tuhan adalah harapan terbesar. Dia memiliki kuasa yang luar biasa. Dengan kuasa-Nya segala persoalan bisa dipecahkan. Bahkan, keajaiban yang berada di luar nalar bisa terjadi, asalkan manusia senantiasa melepaskan harapan dari perahunya. Dia harus berusaha melihat kehadiran-Nya pada setiap momen dan senantiasa fokus hanya kepada-Nya. 

Diresensi Mamluatul Bariroh, Lulusan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Sumenep, Guru Lereng Bukit Angin Pakandangan

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment