Koran Jakarta | October 24 2017
1 Comment

Fidelis, “Duta” Ganja

Fidelis, “Duta” Ganja

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Fidelis Arie Sudarwoto, 36 tahun, pegawai negeri sipil di Sanggau, Kalimantan Barat, juga seorang suami, ayah dua anak lelaki usia 15 dan 3 tahun, kini masih proses pengadilan.

Kisahnya, sejak 19 Februari lalu ditangkap aparat keamanan karena kedapatan menanam pohon ganja, cannabis sativa, di halaman rumahnya. Yang kemudian menjadi perbincangan adalah Fidelis menanam ganja yang diekstrak—bukan diisap sebagaimana “pengganja”, demi mengobati istrinya.

Yeni Riawati, istrinya yang juga guru bahasa Inggris, menderita penyakit yang tidak biasa.

Kakinya tak bisa digerakkan, di tahun 2015. Setelah berobat sana-sini, pontan-panting dari dokter ke penyembuhan alternatif, dari mencari tahu lewat internet diketahui nama penyakitnya, syringomyelia.

Tumbuhnya kista berisi cairan, syrinx, dalam sumsum tulang belakang , Ini mengakibatkan kelumpuhan, dan parah, di sekujur tubuh. Dalam penjelajahan melalui internet pula, Fidelis menemukan kemungkinan pengobatan melalui ekstrak tanaman ganja.

Itu yang diupayakan, setelah sekian jenis obat menghabiskan tabungan dan keinginannya mengecat rumah. Namun, karena itu Fidelis ditangkap dan ditahan, dan tak mampu menjelaskan dengan bahasa apa ke istrinya kenapa dia ditangkap.

32 hari setelah penahanannya , istri tercinta meninggal dunia. Ini akhir kisah Yeni Riawati, yang dalam perjalanan berobat, bahkan pernah dibawa ke Rumah Sakit Jiwa, sebelum diketahui jenis penyakitnya.

Kisah ini tersurat dan tersiratkan dalam pembelaan pribadi Fidelis, melalui media sosial. Dan segera menjadi viral karena kasus seperti ini mudah dipahami.

Dibandingkan istilah penyakit, dibandingkan pasal soal ganja, yang terkomunikasikan adalah bahasa suami-sayang-istri, bahasa ayah-terpisahkan-dari istri, bahasa bagaimana-nasib – 2-anaknya. Bahasabahas ayang mengharukan, bahasa yang menyentuh hati sesama manusia.

Ini yang menurut saya perlu diapreasi, perlu diperhatikan. Tentang kelanjutan dan nasib Fidelis sebagai PNS—yang akan terpengaruh kalau menjalani hukuman penjara, misalnya, tentang pendidikan dan asuh kedua anaknya, dan kepergian yang tak kembali dari sitri. Pada titik yang sama juga tak berarti boleh menanam ganja, karena alasan tertentu.

Yang tepat, menurut usulan saya, Fidelis diangkat menjadi “duta ganja”. Dalam arti yang luas. Baik mengingatkan bahwa ganja, secara hukum, masih terlarang—baik mempergunakan, memperdagangkan, atau menanam.

Dalam arti yang lebih luas Fidelis bisa mengingatkan bahwa perlu pendekatan lain kemungkinan ganja sebagai bahan obat penyembuh.

Sebagai bagian dari herbal di tanah ini yang memiliki khasiat, selain yang dikenali selama ini. Dengan kata lain, Fidelis dan terutama istrinya, tidak menjadi korban yang sia-sia.

Ada yang menjadi berharga ketika dibicarakan. Dan bukan menyalahkan instansi tertentu, atau menyalahkan tanaman, atau juga jenis penyakit.

Surat untuk Istriku Tercinta, Yeni Riawati, judul pembelaan Fidelis menuliskan perjalanan, menjelaskan kronologis datangnya penyakit, kiranya bisa menjadi bahan pertimbangkan para hakim.

“Sejak ditahan saya tak bisa mendampingi istri sampai meninggal dunia.” Padahal “banyak yang ingin saya ceritakan.”

Kini berilah kesempatan Fidelis mendampingi kedua anak yang sangat membutuhkan, dan bisa meneruskan inspirasinya untuk masyarakat luas menyadari pelarangan ganja—dan kemudian hari kemungkinan sebagai obat.

View Comments

Hendro Susanto
Sabtu 29/7/2017 | 14:15
menginspirasi..

Submit a Comment