Koran Jakarta | June 18 2019
No Comments
PLTU Riau-1 - Sofyan Basir Sempat Terpancing Emosi

Eni Desak PLN Cepat Berikan Proyek ke Johannes Kotjo

Eni Desak PLN Cepat Berikan Proyek ke Johannes Kotjo

Foto : ANTARA/PUTRA HARYO KURNIAWAN
MEMASUKI RUANG SIDANG - Direktur Utama PLN Sofyan Basir (kedua dari kanan) bersiap memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 dengan terdakwa Idrus Marham di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (12/2). Sidang tersebut beragenda mendengarkan keterangan saksi Direktur Utama PLN Sofyan Basir dan Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Iwan Supangkat.
A   A   A   Pengaturan Font
Direktur Utama PT PLN Persero Sofyan Basir mengaku sempat emosi saat didatangi Eni Maulani Saragih, Johannes Kotjo, dan Idrus Marham di kediamannya pada Juni 2018.

 

JAKARTA - Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN Per­sero, Supangkat Iwan Santoso, mengakui bahwa Eni Maulani Saragih selaku Wakil Ketua Komisi VII DPR, meminta agar proyek PLTU Riau-1 dimasuk­kan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

“Iya memang ada dorongan. Kira-kira jangan dikeluarkan lah gitu dari RUPTL. Saat itu ukurannya 1 x 600 atau 2 x 300 megawatt,” ujar Iwan kepada jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (12/2). Iwan bersaksi untuk terdakwa mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Idrus Marham.

Selain itu, menurut Iwan, Eni juga mendorong agar kon­trak kerja sama antara PLN dan investor yang diwakili Johannes Budisutrisno Kotjo cepat dilakukan. Padahal, menurut Iwan, saat itu terjadi deadlock karena ada tawar-menawar tentang masa pengendalian yang diminta PLN hanya selama 15 tahun.

Namun, kata Iwan, saat itu PLN hanya menganggap Eni bertindak selaku Wakil Ketua Komisi VII DPR yang menangani bidang energi. “Dia tidak tahu teknis, tapi minta lebih cepat dilakukan kesepakatan,” kata Iwan.

Dalam kasus ini, Idrus di­dakwa menerima suap 2,250 miliar rupiah. Idrus didakwa melakukan perbuatan bersama-sama dengan Eni Maulani Saragih. Menurut jaksa, pemberian uang tersebut diduga agar Eni membantu Kotjo mendapatkan proyek Independent Power Producer Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang (PLTU) Riau-1. Proyek itu rencananya akan dikerjakan PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi, Blackgold Natural Resources dan China Huadian Engineering Company Ltd yang dibawa oleh Kotjo.

Sempat Emosi

Di tempat yang sama, Di­rektur Utama PT PLN Persero, Sofyan Basir, mengaku sempat terpancing emosi saat didatangi Eni Maulani Saragih, Johannes Kotjo, dan Idrus Marham di ke­diamannya pada Juni 2018. Saat itu, Idrus mempersilakan Kotjo untuk lebih dulu berbicara menyampaikan hal yang ingin dibicarakan dengan Sofyan.

Namun, di awal pembi­caraan, Kotjo langsung berbi­cara mengenai proyek pembangunan PLTU Riau-2. Menurut Sofyan, Kotjo menyampaikan keinginan untuk dapat kembali menjadi investor pelaksana proyek pada tahun 2019.

“Mohon maaf, saat itu saya agak emosi. Saya bilang, mim­pi saja jangan. Suasana saat itu langsung tidak enak,” kata Sofyan.

Sofyan kesal karena proyek PLTU Riau-1 yang akan dikerjakan Kotjo dan investor dari Tiongkok, belum juga menca­pai kesepakatan. Bahkan, proses negosiasi berjalan alot. So­fyan mengancam akan mencari investor lain, apabila Kotjo dan rekanannya tidak sepakat dengan penawaran yang ditetap­kan PLN. Saat itu, menurut So­fyan, Idrus segera memotong percakapan dan meminta agar Eni dan Kotjo keluar dari ke­diamannya. Idrus mengatakan, dia memiliki hal lain yang perlu dibicarakan dengan Sofyan.

Idrus mengakui pernah ke kediamanan Sofyan Basir Juni 2018. Tujuannya untuk mengonfirmasi isu yang sedang viral saat itu yakni rekaman perbincangan Menteri BUMN, Rini Soemarno, dengan Sofyan Basyir yang beredar di ma­syarakat.

Dalam rekaman itu, Rini dan Sofyan diduga berbicara mengenai bagi-bagi saham. Menu­rut Idrus, dia ingin mengingat­kan agar Sofyan berhati-hati selama tahun politik. Ant/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment