Koran Jakarta | June 21 2018
No Comments
Menteri ESDM, Ignasius Jonan, tentang Target dan Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan

Energi Baru dan Terbarukan Memiliki Daya Saing Tinggi

Energi Baru dan Terbarukan Memiliki Daya Saing Tinggi

Foto : ISTIMEWA
Ignasius Jonan
A   A   A   Pengaturan Font
Pemerintah terus mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) di dalam negeri. Itu demi mengejar target bauran energi sektor EBT sebesar 23 persen pada tahun 2025. Pemanfaatan EBT ditengarai bakal mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil yang menguras devisa negara setiap tahun.

Salah satu jenis EBT yang cukup potensial di Indonesia ialah energi angin atau bayu. Adapun PLTB merupakan merupakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan dan lebih efisien dibandingkan dengan EBT lainnya. Hingga kini, kapasitas terpasang PLTB secara nasional baru 1,1 megawatt (MW), sementara mengacu pada Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) mencatatkan potensi energi angin di Indonesia mencapai 60,647,0 megawatt (MW) untuk kecepatan angin empat meter per detik atau lebih.

Saat ini, pemerintah tengah menggenjot pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Untuk mendalami rencana ini, berikut wawancara Koran Jakarta dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan.

Apa alasan Anda mendorong pemanfaatan energi bayu?

Pengembangan EBT menggunakan sumber daya alam dalam negeri. Kita tak perlu mengimpor selayaknya yang dilakukan pada energi fosil. Langkah ini tentunya lebih efektif dan efisien untuk meningkatkan energi yang berkelanjutan. Khusus untuk energi baru, tentu sangat disayangkan bila potensi yang besar ini tidak dimanfaatkan.

Selain untuk lebih efisien, pemanfaatan EBT juga untuk membantu melistriki 2.500 desa yang berada di daerah perbatasan, terisolir dan terluar. Kita berharap agar kebutuhan listrik seluruh masyarakat Indonesia bisa terpenuhi dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada di setiap pelosok.

Anda yakin bahwa ke depan energi angin atau EBT umumnya akan kompetitif?

Ya, tentunya akan kompetitif apabila dibandingkan dengan energi fosil. Memang sekarang belum bisa langsung kompetitif, tetapi di masa mendatang akan lebih berdaya saing. Ke depan, kebutuhan terhadap energi akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, pada momen ini kita yakin EBT akan banyak diminati.

Di mana saja proyek energi bayu yang telah dikembangkan?

Kami telah mengembangkan di berbagai tempat, seperti di Sidrap Sulawesi Selatan, lalu juga di Jeneponto (Sulsel) dengan kapasitas 65 megawatt (MW). Lalu, ada juga PLTB Tanah Baru di Kalimantan Selatan.

Dari lokasi itu, di mana yang akan beroperasi?

Kami pastikan PLTB Sidrap I segera beroperasi, apalagi telah dilakukannya uji coba interkoneksi dengan jaringan PT PLN (Persero). Sebanyak 20 turbin dari 30 turbin tenaga angin yang direncanakan dan Gardu Induk (GI) telah siap untuk koneksi dengan jaringan PLN sejak minggu lalu. Masing-masing turbin yang telah terbangun dan siap terkoneksi berkapasitas 2,5 megawatt (MW) atau 50 MW secara total.

Rencananya juga akan dikembangkan PLTB Sidrap II. Untuk harganya, kami tetapkan PLTB tahap 1 tarifnya 11 sen dollar AS per kWh flat, lalu untuk tahap kedua akan kami nego lagi.

Apa kelebihannya PLTB Sidrap I, sehingga Anda sangat antusias mendukungnya?

Dengan beroperasinya PLTB Sidrap I nanti, pembangkit tersebut menjadi pembangkit komersial pertama di Indonesia yang memanfaatkan energi angin. Proyek dengan investasi 150 juta dollar AS atau sekitar dua triliun rupiah yang dioperasikan PT UPC Sidrap Bayu Energi ini bila sudah beroperasi semuanya (30 turbin), mampu melistriki sekitar 70 ribu pelanggan rumah tangga di Sulawesi Selatan.

PLTB Sidrap berlokasi di area perbukitan Desa Mattirosari dan Lainungan, Kecamatan Watangpulu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) yang menghasilkan kecepatan angin sebesar 7 m/s dari ketinggian 80 meter. Jumlah turbin yang akan dibangun total sejumlah 30 turbin, yang mana masing plat berkapasitas 2.5 MW WTG pada menara baja setinggi 80 meter. Turbin yang digunakan adalah turbin angin Kelas IIA dengan panjang (jari-jari) baling-baling 57 meter, sehingga total tinggi pembangkit mencapai 137 meter. 

 

erik sabini/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment