Emisi Gas Rumah Kaca Terus Meningkat | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 25 2020
1 Comment
Konferensi Perubahan Iklim I Harus Ada Aksi Konkret

Emisi Gas Rumah Kaca Terus Meningkat

Emisi Gas Rumah Kaca Terus Meningkat

Foto : AFP/ PIERRE-PHILIPPE MARCOU
DIKAWAL APARAT I Aktivis iklim Swedia Greta Thunberg (tengah) dikawal oleh penjaga keamanan dan petugas kepolisian saat turun kereta api dari Lisbon di stasiun kereta Chamartin, Madrid, Jumat (6/12). Greta Thunberg akan bergabung dengan aktivis iklim dari berbagai negara untuk unjuk rasa dalam pawai iklim massal di sela-sela Konferensi Perubahan Iklim COP25.
A   A   A   Pengaturan Font
Dampak perubahan iklim mengancam banyak negara kepulauan karena kenaikan muka air laut kini telah mencapai 7–8 meter dari sebelumnya.

 

MADRID – Emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manu­sia atau anthropogenic terus meningkat. Dampaknya, perubahan iklim yang dianggap masih bisa dikendalikan, kini benar-benar sudah terjadi.

“Kejadian bencana iklim sep­erti serangan gelombang panas, curah hujan ekstrem terus me­ningkat. Ini adalah bukti peruba­han iklim sudah terjadi,” kata Pe­jabat senior Sekretariat Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC), Martin Frick, saat menjadi pembicara di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim UNFCCC COP 25, di Madrid, Spanyol, Kamis (5/12) waktu setempat.

Frick mengingatkan dam­pak perubahan iklim mengan­cam banyak negara kepulauan karena kenaikan muka air laut kini telah mencapai 7–8 meter dari sebelumnya. Frick mengajak semua pihak melakukan aksi konkret, mencegah ben­cana perubahan iklim semakin memburuk.

Menurut Frick, upaya pengendalian perubahan iklim tidak akan menghambat agen­da Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Bahkan, keduanya bisa berja­lan beriringan.

“Membina petani untuk mengelola lahan pertanian dengan lebih lestari berarti bisa menambah cadangan air di dalam tanah sekaligus meningkat produksi panen sehingga meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya. “Pada saat yang sama, langkah itu juga mendukung pemberday­aan perempuan,” katanya.

Agenda Global

Sementara itu, Direktur The United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN ESCAP), Stefanos Fotiou yang mendo­rong praktik pembangunan berkelanjutan, dalam kesem­patan itu menyatakan ada kon­vergensi dari masing-masing agenda global.

Dalam Persetujuan Paris (Paris Agreement) yang ter­kait pengendalian perubahan iklim, didorong pendanaan yang bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan peningkatan ketahanan iklim.

Sementara pada agenda SDGs, dirancang agar aktivitas perekonomian bisa inklusif dan memberi manfaat pada lebih banyak orang (shared value) dengan tetap memper­tahan kelestarian.

Menurut Fotiou, solusi un­tuk mencapai multi-agenda global itu adalah pemanfaatan sumber daya alam seefisien mungkin, misalnya dengan mengubah pola konsumsi dan gaya hidup menjadi lebih ra­mah lingkungan. Investasi juga diperlukan untuk mendukung infrastruktur rendah karbon.

Di tempat yang sama, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong, menegaskan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim adalah salah satu program strategis pemerin­tahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Alue menegaskan, dalam Konvensi Kerangka Kerja ten­tang Perubahan Iklim (UN­FCCC) ke-21 di Paris tahun 2015 lalu, Presiden Jokowi su­dah memastikan komitmen pemerintah Indonesia itu.

Komitmen yang dimak­sud, mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen di bawah Business As Usual (BAU) tahun 2030, dan hingga 41 persen dengan dukungan dari komunitas internasional. ang/Ant/AFP/P-4

Klik untuk print artikel

View Comments

sasa
Sabtu 7/12/2019 | 10:52
Ingin mendapat penghasilan tambahan yuk bergabung sekarang juga di qqharian.org, hanya bermodal 20K berkesempatan menang hingga juataan rupiah loo, tunggu apa lagi yuks join sekarang juga.

Submit a Comment