Koran Jakarta | May 25 2019
No Comments
Survei Charta Politika - Paslon Nomor 01 Unggul 18,2 Persen

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Tak Kurang dari 53,6 Persen

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Tak Kurang dari 53,6 Persen

Foto : ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY
MENYAPA WARGA BANYUWANGI - Calon Presiden petahana nomor urut 01 Joko Widodo menyapa pendukung saat kampanye terbuka di Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (25/3). Kampanye tersebut dihadiri oleh ribuan pendukung dari berbagai parpol pengusung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.
A   A   A   Pengaturan Font
Jika dilakukan ekstrapolarisasi, dengan kata lain undecided voters tidak menggunakan hak pilih, suara Jokowi bisa mencapai 60,22 persen dan selisih keunggulannya menjadi 20,44 persen.

 

JAKARTA - Menjelang pemilihan pre­siden (pilpres) 2019 yang akan digelar ku­rang dari satu bulan lagi, Charta Politika Indonesia merilis hasil survei nasional preferensi politik masyarakat. Dari ha­sil surveinya, Pasangan Calon (Paslon) Nomor Urut 01, Jokowi-Ma’ruf, unggul 53,6 persen dibandingkan dengan pe­saingnya, Prabowo-Sandi, yang hanya mendapatkan angka 35,4 persen. De­ngan demikian selisih keunggulan suara Jokowi-Ma’ruf mencapai 18,2 persen.

“Pada pengujian tingkat elektabilitas paslon, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dipi­lih oleh 53,6 responden, mengungguli Prabowo Subianto-Sandiaga Uno,” ujar Direktur Eksekutif Charta Politika, Yun­arto Wijaya, di Jakarta, Senin (25/3).

Sementara itu, untuk undecided vot­ers berada pada angka 11 persen. Jadi, apabila dilakukan ekstrapolarisasi de­ngan kategori undecided voters dihilang­kan, atau dengan kata lain undecided voters diasumsikan tidak mengguna­kan hak pilihnya maka perolehan suara Jokowi-Ma’ruf menjadi 60,22 persen, sedangkan suara Prabowo-Sandi men­jadi 39,78 persen. Dengan begitu, selisih keunggulan Jokowi-Ma’ruf terhadap pe­saingnya mencapai 20,44 persen.

Hal tersebut juga berbanding lurus dengan tingkat kemantapan pilihan terhadap Paslon yang tergolong tinggi. “Tingkat kemantapan pilihan terhadap kandidat capres-cawapres sudah tergo­long tinggi, berkisar pada angka 80 per­sen,” jelas Yunarto.

Menurut dia, angka tersebut dipre­diksi akan cenderung stagnan hingga hari pemungutan suara, melihat dari stagnasi elektabilitas dari kedua paslon dalam tiga bulan terakhir. Dalam arti angka elektabilitas paslon tidak akan jauh berbeda dengan hasil survei bulan Maret, kecuali jika ada tsunami politik atau peristiwa politik besar yang me­rugikan kandidat langsung.

“Kecuali jika terjadi tsunami politik atau kasus besar yang menimpa kandi­dat langsung, bukan partai yang men­dukung. Atau yang kedua kalau terjadi krisis ekonomi,” jelas Yunarto.

Survei Charta Politika tersebut di­lakukan dari 1-9 Maret 2019 dengan me­lakukan wawancara tatap muka, dengan menggunakan kuesioner terstruktur terhadap 2.000 orang yang sudah 17 ta­hun atau terdaftar sebagai pemilih. Me­tode penarikan sampel dilakukan secara acak bertingkat dengan margin of er­ror kurang lebih 2,19 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Soliditas Tinggi

Sementara dalam diskusi Pemilu “Persaingan Makin Ketat, Siapa Selamat, Siapa Blunder?” di Jakarta, Senin, Direk­tur Eksekutif Lingkar Madani Indone­sia, Ray Rangkuti, mengatakan bahwa kampanye terbuka yang kini tengah di­lakukan oleh kedua Paslon, tidak terlalu berdampak terhadap undecided voters. Justru kampanye terbuka itu akan lebih menyolidkan pemilih yang sudah solid memilih paslonnya.

“Kampanye terbuka hanya menyo­lidkan pemilih. Ketika mereka bertemu dengan tokoh yang mereka idolakan, itu akan meyakinkan pilihan mereka,” terangnya.

Menurut Ray, hal tersebut dikarenakan berdasarkan dari hasil lembaga survei, tingkat kesolidan pemilih begitu tinggi dan kecil kemungkinan untuk mengubah pilihannya. Ia pun mencontohkan hasil dari sebuah lembaga survei, yang menun­jukkan tingkat kesolidan masing-masing pendukung kedua kubu mencapai angka 87-88 persen. Jadi, yang dibutuhkan untuk meningkatkan elektabilitas hanyalah me­raup suara undecided voters. tri/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment