Dua Pelajaran dari Inggris | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 27 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Dua Pelajaran dari Inggris

Dua Pelajaran dari Inggris

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Sepekan terakhir ini kita mendapatkan pelajaran berguna dari Inggris. Pertama, pelarangan media memberitakan kasus pemerkosaan yang dilakukan warga negara Indonesia, Reynhard Sinaga, sebelum keputusan pengadilan. Padahal, proses hukum kasus pemerkosaan terbesar itu berlangsung selama 2,5 tahun, sejak ditangkap pada Juni 2017 sampai persidangan selesai pada Desember 2019.

Selama periode itu, tiada satu pun pemberitaan soal kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh Reynhard Sinaga. Padahal dalam kurun waktu tersebut, media meliput serta mendapatkan hasil persidangan. Ini terjadi karena proses hukum berlangsung secara tertutup dari publikasi guna melindungi para korban dan juga memberikan sidang yang adil bagi Reynhard Sinaga.

Bahkan, jika ada media yang memberitakan kasus itu sebelum putusan pengadilan, sanksi yang dikenakan sangat berat kepada wartawan dan kantor medianya. Sebab, pengadilan akan menganggap media tidak mematuhi hukum yang berlaku.

Bandingkan dengan pemberitaan di Indonesia. Selain sangat terbuka, media di Indonesa kerap mengabaikan korban. Malah, media kita saling berebut mengabarkan korban, termasuk rumah tinggal, lingkungan sekitar, hingga orang-orang terdekat.

Tak cuma itu, nama korban dan identitas lainnya bisa dilancak setelah diberitakan sejumlah media. Media juga kerap mengabaikan masa depan korban. Padahal, sebagai wartawan harus menjaga dan melindungi identitas para korban.

Namun, bukan saja media, aparat terkait mesti juga konsisten. Artinya, sejak penyidikan sampai pengadilan harus pula mematuhi peraturan terkait perlindungan saksi dan korban. Jadi, jangan karena ingin naik pangkat kemudian mengumbar kasus yang ditangani. Di sinilah pentingnya integritas aparat penegak hukum.

Pelajaran kedua dari Inggris terkait dengan keputusan Pangeran Harry dan istrinya, Meghan Markle, untuk mundur dari keluarga Kerajaan dan segala tugas yang melekat padanya. Keputusan ini diambil karena mereka ingin bekerja dan mandiri secara keuangan.

Namun, pasangan tersebut akan terus dengan penuh mendukung Yang Mulia Ratu. Hanya saja, mereka tidak akan lagi menerima uang tunjangan yang disediakan oleh perbendaharaan kerajaan, dan mereka pun akan bebas bekerja secara profesional. Artinya, gaya hidup mereka secara efektif tidak lagi dilihat berdasarkan mahkota.

Keputusan Pangeran Harry itu tentu saja menggemparkan. Betapa tidak, dia yang sebenarnya sudah punya masa depan yang gemilang di bawah perlindungan Kerajaan Inggris, tahu-tahu malah ingin menjadi rakyat biasa. Ratu Inggris maupun Pangeran William tentu kecewa. Demikian pula para bangsawan senior juga disebut terluka dengan adanya pengumuman itu.

Tentu di luar dugaan, sebab kebanyakan orang justru ingin hidup di dalam kerajaan dengan segala fasilitasnya. Itulah sebab, keluarnya Harry dan Meghan dari kerajaan memunculkan istilah “Megxit”, seperti halnya Brexit, sebuah kebijakan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa.

Keputusan Pangeran Harry mesti menjadi inspirasi bagi bangsa di negara-negara berkembang, seperti halnya Indonesia. Paling tidak, cucu Ratu Inggris itu memberikan pelajaran bagi kita untuk tidak melulu membangun dinasti politik.

Artinya, jangan mentang-mentang keluarga pejabat dan dekat dengan politisi berkuasa, kemudian sewenang-wenang untuk mencalonkan diri jadi kepala daerah. Seharusnya, generasi milineal tak perlu berambisi masuk dalam birokrasi, apalagi main politik.

Sebaiknya, generasi sekarang sudah bisa mengisi kemerdekaan bangsa dengan karya-karya mendunia. Selain itu, anak-anak muda saling bergandengan tangan membangun negeri agar berdaya saing tinggi dan tercipta masyarakat berkeadilan yang sejahtera. Ini semua bisa dimulai dari kesadaran bersama.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment