Koran Jakarta | August 18 2018
No Comments

Dokter di Jalan Iman dan Nasionalisme

Dokter di Jalan Iman dan Nasionalisme
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Dokter di Jalan Kemanusiaan: Biografi Lie A. Dharmawan

Penulis : Sylvie Tanaga dan Basilius Triharyanto

Penerbit : Kepustakaan Populer

Gramedia, Jakarta

Cetakan : I, April 2018

Tebal : xviii + 230 halaman

ISBN : 978-602-424-837-6

 

 

Tak banyak dokter yang mendedikasikan ilmunya untuk orang miskin. Namun, Lie A Dharmawan berbeda. Ia bersedia melakukan itu semua.
Lie Augustinus Dharmawan (Lie Tek Bie) lahir di Surantih pada 16 April 1946 dari pasangan Lie Goan Hoey dan Pek Leng Kiauw. Surantih adalah sebuah nagari di Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Kelahiran Lie ditandai penderitaan keluarganya yang berada di Surantih karena sedang mengungsi untuk menghindari kerusuhan sosial pasca Proklamasi 17 Agustus 1945.

Penderitaan tak membuat keluarga Goan Hoey putus asa. Setelah keadaan aman, keluarga Goan Hoey pindah ke Padang.

Di Padang, Lie mulai merajut masa depannya dengan menempuh pendidikan di SD, SMP Pius, dan SMA Don Bosco. Kesulitan demi kesulitan dialami Lie karena ia sudah menjadi yatim sejak kelas IV SD. Ibunya harus kerja serabutan, berjualan kue dan menjahit, untuk menghidupi ketujuh anaknya, termasuk Lie.

Kendati hidup dalam keterbatasan, ibunya selalu menanamkan semangat pada Lie yang berotak cerdas agar meraih cita-cita setinggi-tingginya. Sang ibu juga berpesan pada Lie agar tak lupa berdoa dan rajin ke gereja. Lie selalu berdoa agar kelak ia menjadi dokter.

Selepas SMA, Lie bertekad kuliah kedokteran di Jerman. Ia harus bekerja di toko milik kakaknya untuk mengumpulkan ongkos ke Jerman. Uang hanya terkumpul untuk tiket pesawat satu kali perjalanan, namun Lie tetap berangkat untuk kuliah di Freie Universitat, Berlin. Sebelum berangkat, ibunya berpesan, “Kalau kamu menjadi dokter, jangan mengambil duit orang miskin. Mereka akan membayar, tapi di rumah menangis karena tidak ada uang untuk membeli beras.” (hlm. 40).

Lie membanting tulang menjadi pencuci piring di restoran, kerja di panti jompo dan kantor pos, untuk membiayai kuliahnya. Kerja kerasnya tak sia-sia, ia lulus kuliah pada 1984 dengan meraih empat spesialisasi: bedah umum, bedah toraks, bedah jantung, dan bedah pembuluh darah (hlm. 73).

Menjadi dokter ahli di Jerman sangat menjanjikan karena penghasilan yang besar. Namun, Lie selalu teringat pesan ibunya agar membantu orang miskin. Lie pun pulang ke Indonesia karena ia tahu ilmunya lebih dibutuhkan orang-orang miskin di Indonesia.

Di Indonesia, Lie harus menghadapi kenyataan pahit. Ia kesulitan mendapatkan rumah sakit yang mau menerimanya karena dirinya Tionghoa. Dari banyak lamaran yang diajukannya, akhirnya ia diterima di RS Kariadi Semarang pada 1985.

Lie lalu pindah ke RS Husada Jakarta. Di RS ini pada 1993 ia menerapkan bedah jantung terbuka yang masih langka di Indonesia. Bedah jantung teknik tinggi ini gratis untuk masyarakat miskin, seperti tukang becak dan sopir.

Aktivitas kemanusiaan Lie didengar Uskup Agung Jakarta Leo Soekoto SJ. Uskup mengundang Lie dan mendorong penggalangan dana untuk kelangsungan bedah jantung terbuka bagi orang-orang tidak mampu (hlm. 92).

Langkah Lie tidak berhenti sampai di situ. Ia melakukan gebrakan spektakuler untuk menolong mereka yang selama ini tidak terjangkau layanan kesehatan. Dengan uang hasil penjualan rumahnya, pada 2012 ia membeli kapal kayu seharga Rp550 juta. Kapal kemudian direnovasi menjadi Rumah Sakit Apung (RSA) yang dilengkapi peralatan medis memadai. Ini menjadi RSA swasta pertama di Indonesia.

Lie mengajak sejawat yang sevisi untuk bergabung dalam Doctor SHARE sebagai tenaga medis RSA. RSA memberikan layanan kesehatan gratis, termasuk operasi, bagi masyarakat tidak mampu di daerah pesisir di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta; Kepulauan Kei, Maluku; Ketapang, Kalbar; Bangka-Belitung; Raja Ampat, Papu Barat; dan banyak daerah lainnya.

Lie menyadari RSA tak bisa menjangkau daerah pegunungan seperti di Papua. Maka ia pun mendirikan Dokter Terbang, yakni layanan kesehatan dengan menggunakan pesawat perintis untuk masyarakat terpencil di daerah pegunungan. Pada 2015 Dokter Terbang memberi layanan kesehatan di Distrik Gagemba, Intan Jaya, Papua dan sepanjang Indonesia merdeka itulah kali pertama ada tim dokter menginjakkan kaki di sana (hlm. 201).

Buku yang terbagi dalam 23 bab dan dilengkapi foto-foto menarik ini berhasil menggambarkan kiprah seorang dokter yang langkahnya dalam melayani sesama selalu didasari iman dan nasionalisme.


Diresensi Muhamad Ilyasa, alumnus UNJ.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment