Koran Jakarta | April 21 2019
No Comments

Digitalisasi Sektor UMKM

Digitalisasi Sektor UMKM

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

OLEH R WULANDARI
Upaya-upaya pendampingan serta penyediaan sejumlah fasilitas dari pemerintah terhadap para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diperlukan guna mendongkrak daya saing UMKM di era perdagangan bebas. Era ini ditandai arus lalu lintas barang, jasa, investasi, modal, serta tenaga kerja terampil antarnegara menjadi semakin bebas bergerak. Di sisi lain, upaya digitalisasi UMKM juga perlu dilakukan guna efisiensi dan menjangkau target pasar lebih luas.

Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi sektor UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) kian menggeliat. Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah memperlihatkan, kontribusi sektor UMKM terhadap PDB meningkat dari 57,84 persen menjadi 60,34 persen. Selain itu, sektor UMKM juga telah ikut membantu penyerapan tenaga kerja di dalam negeri. Penyerapan tenaga kerja pada sektor UMKM tumbuh dari 96,99 persen menjadi 97,22 persen selama periode lima tahun terakhir.

Dulu, UMKM juga mampu membuktikan ketahanan dan eksistensinya dalam perekonomian negeri. Barangkali masih ingat krisis moneter yang melanda Indonesia dan negara-negara lain Asia Tenggara pertengahan tahun 1997. Ketika itu, fondasi ekonomi Indonesia tak kuat menahan krisis tersebut yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Nilai tukar rupiah anjlok dari 2.500 per dollar AS menjadi 16.000 per dollar AS.

Buntutnya, iklim bisnis melesu dan pertumbuhan ekonomi nasional berjalan di tempat. Banyak investor dan pengusaha besar gulung tikar dan sebagian mengalihkan modal ke negara-negara lain. Namun, sektor UMKM justru mampu bertahan dan menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, yang digolongkan UMKM adalah perusahaan-perusahaan dengan kriteria sebagai berikut.

Pertama, usaha mikro, usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perorangan yang nilai asetnya sampai 50 juta rupiah dengan pendapatan sampai 300 juta rupiah per tahun. Kedua, usaha kecil, usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri. Ini dilakukan orang perorangan atau badan usaha yang bukan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian, baik langsung maupun tidak langsung, dari usaha menengah atau usaha besar. Nilai aset antara 50 juta dan 500 juta rupiah. Total penghasilan sekitar 300 juta hingga 2,5 miliar rupiah per tahun.

Ketiga, usaha menengah, usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, dilakukan orang perseorangan atau badan usaha. Dia bukan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak, dengan usaha kecil atau usaha besar. Asetnya sekitar 500 juta hingga 10 miliar rupiah. Jumlah pendapatan berkisar 2,5 miliar hingga 50 miliar rupiah per tahun.

Berbagai Masalah

Beberapa permasalahan menonjol yang sekarang dihadapi UMKM antara lain wawasan kewirausahaan sebagian besar pelaku masih minim. Harga produk kurang bersaing. Akses pasar dan modal minim. Mereka sulit mengurus perizinan serta infrastruktur yang buruk. Tentu saja, permasalahan-permasalahan ini harus dicarikan solusi. Membiarkan UMKM berlarut-larut dibelit permasalahan-permasalahan tersebut hanya bakal membuat nasib mereka berada di ujung tanduk dan semakin sulit bersaing dengan UMKM negara-negara lain.

Semua patut mengapresiasi upaya pemerintah yang telah menyebar sebanyak 100 tenaga pendamping bagi UMKM sentra produk unggulan di enam provinsi sejak Januari 2017 hingga Oktober 2017. Upaya pendampingan tersebut diharapkan dapat memecahkan berbagai problem bisnis yang mereka hadapi. Ini khususnya dikaitkan dengan dampak pemberlakuan sejumlah kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Dalam mengarungi era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini, UMKM perlu pula menyelaraskan dengan tuntutan zaman. Itulah sebabnya digitalisasi UMKM menjadi salah satu masalah krusial untuk dilakukan. Ada beberapa alasan kenapa digitalisasi saat ini perlu dilakukan.

Di antaranya, untuk memperluas target pasar. Dengan ongkos yang relatif lebih murah, bahkan gratis, sekarang UMKM dapat memanfaatkan beragam jenis platform jejaring media sosial untuk menjangkau target pasar yang lebih luas ketimbang hanya memanfaatkan iklan lewat media konvensional yang nota bene biayanya tinggi.

Interaksi dan transaksi bisa lebih cepat. Digitalisasi membuat batas-batas geografis runtuh. Jarak dan waktu tak lagi menjadi kendala. Interaksi dan transaksi bisnis bisa dilakukan kapan saja serta di mana pun. Informasi mengenai produk-produk terbaru, potongan harga maupun bonus belanja dapat diperbarui seketika (real time). Hal ini menjadikan pelanggan dan mitra bisnis jauh lebih mudah membuat keputusan.

Digitalisasi membuat bisnis lebih efisien mulai dari proses pembelian bahan, penjualan, penggajian hingga ke inventarisasi barang. Digitalisasi juga memungkinkan para pengelola UMKM menyusun strategi pemasaran dan penjualan lebih pas untuk musim-musim tertentu.

Bisa menjadi cara mendapat profil pelanggan lebih akurat dan detil. Digitalisasi yang melibatkan metode metrik dan analisis online dapat bermanfaat bagi UMKM dalam menjaring profil pelanggan secara lebih akurat dan secara lebih detil. Dengan begitu, para pengelola UMKM mampu menyusun strategi produksi, pemasaran, dan penjualan dengan lebih akurat dan detil pula.

Agar UMKM tidak sampai ketinggalan dalam digitalisasi ini, program-program pelatihan digital mesti diselenggarakan secara teratur dan berkesinambungan di berbagai wilayah. Semua bersyukur selama tiga tahun belakangan, Google Indonesia telah berhasil melatih sekurangnya satu juta pelaku UMKM untuk pemasaran digital. Semoga ke depan bakal semakin banyak pelaku UMKM yang memperoleh pelatihan serupa.

Bagaimanapun, era digital adalah sebuah situasi yang sulit dihindari. UMKM mesti mampu memanfaatkan kemajuan di sektor teknologi digital guna mengerek daya saing produk-produk mereka.

Penulis Manajer Keuangan Harmoni Herbal, Bandung

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment